ILY: Sekuel Kesekian dari Cerita "BUMI"-nya Tere Liye—Lebih Baik, Lebih Epik, dan Lebih Asik!

Identitas Buku

Judul

:

Ily

Penulis

:

Tere Liye

Penerbit

:

PT Sabak Grip Nusantara

Tahun terbit

:

2023

Cetakan

:

I

Tebal

:

380 halaman

Harga

:

Rp95.000,-

ISBN

:

9786238829699

Genre

:

Petualangan, fantasi ilmiah, isekai, coming of age, action

 

Tentang Penulis

Tere Liye adalah seorang penulis novel ternama dari Indonesia. Dia lahir di pedalaman Sumatera pada tanggal 21 Mei 1979. Dia adalah lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Tere Liye sudah menciptakan banyak karya bestseller, seperti Hafalan Shalat Delisa (2005), Moga Bunda Disayang Allah (2005), Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (2010), dan Pulang (2015). Novel Matahari Minor sendiri adalah novel keempat belas dari serial Petualangan Dunia Paralel, menyusul Bumi (2014), Bulan (2015), Matahari (2016), Bintang (2017), Ceros dan Batozar (2018), Komet (2018), Komet Minor (2019), Selena (2020), Nebula (2020), Lumpu (2021), Si Putih (2021), Bibi Gill (2022), SagaraS (2022), dan Matahari Minor (2022).

 

Sinopsis

Namaku Seli. Petualanganku, Raib, dan Si Putih di Klan Matahari Minor masih berlanjut. Kami telah bertemu dengan Ily, kawan lama yang kami pikir telah gugur. Namun, Ily tak lagi seperti dulu. Saat ini dia adalah Panglima Perang Hutan Gelap yang menggerogoti Klan Matahari Minor.

Kami harus memberi tahu Kanselir Klan Matahari Minor bahwa hutan gelap bergerak lebih cepat dan bahwa Raja Hutan Gelap dan Panglima Perangnya akan mendatangi kota-kota Klan Matahari Minor. Sudah bukan lagi waktunya memikirkan diri sendiri. Kota-kota dan seluruh penduduk Klan Matahari Minor harus bersatu untuk bertahan.

Namun, akankah sang Kanselir mau mendengarkan mereka dan mengubah peraturan yang telah ada ribuan tahun? Dapatkah Klan Matahari Minor bertahan? Lebih penting lagi, berhasilkah Seli, Raib, dan Si Putih menyelamatkan Ily?

 

Kelebihan

Ini adalah buku lanjutan dari Matahari Minor (baca reviunya di sini), tetapi buku ini merupakan peningkatan pesat. Buku ini jauh lebih bagus daripada yang sebelumnya. Mungkin karena waktu yang dibutuhkan Tere Liye untuk menulisnya juga lumayan lama, sehingga mungkin dia punya banyak waktu untuk memantapkan tulisannya ini. Atau ya ada sebab lain—apapun itu, I’m glad this book turned out to be good.

Ada banyak hal yang kusukai dari buku ini. Bahkan, jika dibandingkan dengan buku-buku dalam serial Petualangan Dunia Paralel lainnya, buku ini setara dengan SagaraS (baca reviunya di sini), Komet Minor (baca reviunya di sini), dan Lumpu (baca reviunya di sini). Tidak hanya itu, sepertinya buku ini juga mengambil referensi dari berbagai cerita fantasi populer lainnya.

Masih seperti buku Matahari Minor, buku ini juga diceritakan menggunakan sudut pandang Seli sebagai orang pertama. Namun, tak seperti buku tersebut yang alurnya terlalu lompat-lompat sampai terkesan berantakan, alur buku Ily lebih rapih. Aku lebih menikmati jalan ceritanya. Selain itu, penulisannya juga lebih teratur, tak seperti di Matahari Minor. Walau si narator tak pandai bercerita, bukan berarti ceritanya ditulis dengan berantakan, ‘kan? Tere Liye telah melakukan perbaikan yang baik sekali.

Peningkatan lain dari cerita ini adalah alurnya. Kalau kalian membaca reviuku tentang Matahari Minor, kalian tahu bahwa aku merasa buku tersebut seperti tak utuh, seperti selesai di tengah jalan; dan setengah jalan sisanya adalah buku ini. Akan tetapi, buku ini tak terasa demikian. Buku ini terasa utuh dan pas. Seluruh jalan cerita dari awal hingga akhir terasa pas dengan seluruh aksi, petualangan, dan emosinya yang bak rollercoaster. Dari awal hingga akhir, keseruan ceritanya terus meningkat dan membuatku tak ingin berhenti membaca. Jalan ceritanya pun tak tertebak—benar-benar page-turning.[1]

Bukan hanya itu, melalui cerita ini, Tere Liye sepertinya menyisipkan kritik sosial. Di Klan Matahari Minor, masyarakatnya teramat individualis karena pemeritahnya menginstruksikan agar seluruh penduduk bergerak ke Barat untuk mengungsi. Jika ada yang tertinggal, biarkan saja, tak perlu ditolong. Yang terpenting adalah menyelamatkan diri sendiri. Mulanya, Kanselir Klan Matahari Minor menetapkan peraturan tersebut agar dapat menyelamatkan nyawa penduduk sebanyak-banyaknya. Akan tetapi, seiring berlalunya waktu, penduduk menjadi terlalu individualis, bahkan rela saling sikut demi menyelamatkan diri. Itu terlihat dari sikap para pejabat dan orang-orang kaya yang tak peduli dengan nasib orang biasa ketika krisis terjadi.

Di sisi lain, dalam situasi tersebut, Tere Liye juga tidak sepenuhnya memperlihatkan Kanselir dan pemerintah Klan Matahari Minor sebagai sosok korup. Alih-alih, ia menunjukkan bahwa terkadang pilihan sulit harus diambil dan bahwa tiap keputusan ada risiko dan konsekuensi yang pahit. Meskipun begitu, tidak ada satu peraturan yang dapat berlaku selamanya; ketika kondisi di masyarakat berubah, peraturannya juga harus diubah. Kira-kira itulah yang kudapatkan dari buku ini.

Kemudian, dalam buku ini ada fakta menarik baru tentang dunia paralel. Rupanya (spoiler alert), setiap sarung tangan petarung memiliki segel kepemilikan. Apabila sang pemilik mengklaim sarung tangannya, sarung tangan tersebut akan kembali kepadanya. Tebak apa? Seli bukanlah pemilik sah sarung tangan Matahari, dan sarung tangan tersebut akan diambil pemilik aslinya dalam buku ini. Ceritanya tak disangka-sangka, kan? Tapi maaf ya spoiler, hehehe.[2]

Kejutan lainnya dalam buku ini adalah kemunculan salah satu tokoh istimewa—yang sudah kutunggu-tunggu lama sekali. Kalian harus baca sendiri kalau ingin tahu. Omong-omong, kemunculan kembalinya epik banget. Reuni yang sudah kutunggu-tunggu pun berlangung dengan mengharukan. I love their meeting and how they caught up with things, and how they reminisced their adventure years ago. Tokoh istimewa ini mencuri keseluruhan cerita—aku bahkan tak terlalu peduli lagi pada Raib dan Seli karenanya. Ibarat Gojo Satoru (salah satu tokoh dari anime Jujutsu Kaisen) yang bergabung di tengah-tengah pertarungan untuk menyelamatkan hari—semua perhatian tertuju padanya, hahaha.

Kemudian, pertarungan dalam buku ini sangatlah epik! Usaha Seli, Raib, dan teman-teman lainnya untuk menyelamatkan Klan Matahari Minor tak disia-siakan; mereka bertarung dengan kerennya. Sebenarnya, aku jadi agak teringat dengan buku Bibi Gill (silakan baca reviunya di sini), sebab Klan Polaris Minor dalam buku tersebut juga harus menghadapi serangan; tetapi eksekusi pertarungan pada buku Ily lebih baik—sebuah peningkatan. Meski agak terkesan berulang, eskalasi konfliknya berhasil dijaga sehingga tiap pertarungan terasa lebih seru. Bahkan, pertarungan puncaknya epik banget hingga membuatku tergugah. Ketika membaca penduduk Klan Matahari Minor berteriak, “demi Matahari Minor!”, rasanya seperti menyaksikan survey corps dari anime Attack on Titan berteriak “sasageyo!”

Adegan pertarungannya pun seru banget. Ada dua tokoh yang mencuri perhatian dengan aksi bertarung mereka. Tak akan kubocorkan siapa nama mereka, yang jelas mereka adalah si tokoh istimewa dan si pemilik asli sarung tangan Matahari. Mereka bertarung dengan seru sekali, apalagi diselingi dengan percakapan saling mengejek. They seemed really enjoy the fight. Mereka juga menunjukkan teknik-teknik bertarung baru yang keren.

Kemudian, seperti yang telah kukatakan, arah jalan cerita buku ini tak tertebak dan aku agak tidak menyangka bahwa babak resolusinya akan seperti itu. Kemunculan tokoh tak terduga lainnya itu menjawab rasa penasaran pembaca setia serial ini. Aku cukup tersentuh dengan ceritanya. Selain itu, aku menghargai keputusan Seli, sekalipun memang dia tak sepenuhnya benar—juga tak sepenuhnya salah. Akhirnya memang masih menggantung (kalau menurutku), tetapi cukup memuaskan.

 

Kelemahan

Walaupun buku ini meningkat pesan daripada Matahari Minor, tetap saja terdapat kekurangan di dalamnya. Salah satunya ialah (lagi-lagi) karakter Seli dan Raib. Akan kubahas Raib dulu ya. Bisa dibilang, Raib seperti sosok Avatar, sang Penguasa Empat Elemen, dalam semesta Avatar karya Nickelodeon, tetapi dia tampak cupu banget di sini. Avatar Korra pun tak selalu menang, tak jarang dia bonyok dihajar musuh, tetapi dia selalu kembali lebih kuat. Itu yang tak terjadi pada Raib.

Sementara itu, Seli lebih menyebalkan lagi. Dia bersikap terlalu kekanak-kanakan dan semberono di buku ini. Bahkan, Raib di buku Lumpu masih lebih baik daripada Seli; padahal apa yang Raib alami di buku tersebut menurutku lebih berat. Memang itu membuat Seli terkesan realistis—siapa yang tidak frustrasi ketika orang yang disayang terjebak dalam keadaan seperti itu? Namun, sikapnya yang melampiaskan itu ke siapapun malah terkesan menyebalkan, padahal mereka seharusnya bersatu untuk menang.

Kemudian, lagi-lagi ada hal yang terlalu repetitif dalam buku ini. Tiap si Panglima Perang Hutan Gelap dan Raja Hutan Gelap mengeluarkan kekuatan mereka, Seli bilang mereka tampak bercahaya hitam—memang tak mungkin cahaya berwarna hitam, tetapi seperti itulah kelihatannya. Hal itu diulang-ulang setiap kali mereka melawan keduanya. Jika keterangan itu dimunculkan pada pertama atau kedua kali, tak masalah; tetapi jika di setiap kali, itu membosankan. Aku langsung skip detail tersebut. Maksudku, iya kita sudah tahu bahwa mereka bercahaya hitam walaupun mana mungkin ada cahaya hitam, maka bisakah tidak perlu lagi dijelaskan begitu? Cukup bilang saja bahwa mereka mengeluarkan cahaya hitam.

 

Kesimpulan

Ily adalah buku sekuel yang berhasil meningkat daripada buku sebelumnya. Petualangan Seli, Raib, dan Si Putih kali ini seperti rollercoaster. Banyak hal yang terjadi, banyak hal yang perlu mereka lewati. Semua itu dikemas menjadi cerita petualangan-fantasi yang epik, emosional, dan mendebarkan. Aku dibuat penasaran dengan jalan ceritanya, apalagi ada banyak kejutan baru di dalamnya. Selain itu, ada beberapa tokoh lama yang muncul di sini loh! Kalian pasti akan semangat dengan kemunculan mereka. Pertarungan dalam buku ini pun sangatlah seru; sayangnya, Raib dan Seli tak mampu tampil sehebat itu dibanginkan tokoh-tokoh lain. Juga ada narasi yang repetitif sehingga terasa membosankan. Meskipun begitu, akhir buku ini emosional sekali dan membuatku berdebar. Maka dari itu, kuberikan skor 8,5/10 untuk buku ini.

Aku tidak sabar dengan kelanjutannya, yakni tentang Klan Aldebaran. Namun, jika harus ada buku penghubung antara buku ini dengan buku tentang Klan Aldebaran, aku tidak masalah. Atau buku tentang Klan Aldebaran dibuat 600-an halaman, aku juga tidak masalah. Seperti apapun berikutnya, sampai jumpa di petualangan dunia paralel selanjutnya.


Sebelumnya (Matahari Minor)

Selanjutnya (Aldebaran: Bagian 1)

***

Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!


[1] Page-turning berarti sebuah buku yang menarik, seru, dan menegangkan, biasanya sebuah novel (sumber: The Free Dictionary).

[2] Aku minta maaf jika ini sangat spoiler dan merusak mood kalian membaca buku ini, tetapi setahuku Tere Liye sendiri sempat membocorkan ini di akun instagramnya. Silakan dicek sendiri ya. 

Komentar