Na Willa: Film Anak-Anak yang Menggemaskan dan Warna-Warni—Sebuah Sajian Hangat untuk Orang Tua dan Anak
Identitas Film
|
Judul |
: |
Na Willa |
|
Sutradara |
: |
Ryan Adriandhy |
|
Produser |
: |
Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari |
|
Tanggal rilis |
: |
18 Maret 2026 |
|
Rumah produksi |
: |
Visinema Studios |
|
Penulis naskah |
: |
Ryan Adriandhy, Reda Gaudiamo |
|
Durasi tayang |
: |
1 jam 58 menit |
|
Pemeran |
: |
Luisa Adreena, Irma Rihi,
Junior Liem, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Mbok Tun |
|
Genre |
: |
Sinopsis
Pada tahun 1968 di Gang
Krembangan di suatu sudut kota Surabaya, ada anak kecil bernama Na Willa (Luisa
Adreena). Na Willa tinggal bersama ibunya, Mak Marie (Irma Rihi), sedangkan
ayahnya, Pak Paul (Junior Liem) yang bekerja di kapal, jarang di rumah. Namun,
tiap kali Pak pulang, Pak selalu membawa buku-buku baru untuk Na Willa. Di
rumah juga ada Mbok (Mbok Tun) yang membantu mengurusi rumah.
Selain itu, Na Willa biasanya
bermain bersama teman-temannya. Ada Farida (Freya Mikhayla) yang cadel; ada Dul
(Azamy Syauqi) yang jago banyak hal; dan ada Bud (Arsenio Rafisqy) yang selalu
ingusan dan punya banyak mainan.
Na Willa ingin setiap hari dan
seterusnya selalu seperti ini. Namun, seperti ulat yang berubah menjadi
kepompong lalu kupu-kupu, kehidupan di sekitar Na Willa juga berubah. Akan jadi
seperti apa ya kehidupan di Gang Krembangan?
Kelebihan
Setelah sukses dengan Jumbo (2025),
Ryan Adriandhy membuat film anak-anak lagi, Na Willa. For your
information, film ini adalah adaptasi dari buku cerita anak berjudul Na
Willa: Serial Catatan Kemarin karya Bu Reda Gaudiamo. Fun fact: Na
Willa dalam cerita ini sebenarnya adalah Bu Reda Gaudiamo sendiri loh. Jadi,
ini semacam biografi (?); yang intinya, menceritakan masa kanak-kanak Bu Reda
Gaudiamo sewaktu usianya enam tahun.
![]() |
| Sampul novel Na Willa: Serial Catatan Kemarin |
Kembali ke filmnya ya. Sepertinya, kita tidak usah lagi meragukan keterampilan Ryan Adriandhy menulis film anak-anak, sebab lihat saja betapa bagusnya Jumbo. Sedari awal film ini dimulai, aku langsung suka. Ya ampun, film ini dibuka dengan sangat menggemaskan.
Film ini dibuka dengan Na Willa
menceritakan kesehariannya, mulai dari kesukaannya makan pisang, ibu dan
ayahnya yang berbeda etnis, teman-teman bermainnya, dan kesehariannya di Gang
Krembangan. Itu diceritakan melalui sudut pandang dan narasi Na Willa yang lugu
dan menggemaskan. Aku yakin semua penonton tidak mungkin tidak tersenyum
melihatnya.
Aku senang dengan treatment
kamera dalam film ini. Ketika menyoroti Na Willa, angle kameranya dari
atas yang mempertegas Na Willa masih kecil, sedangkan ketika menyoroti Mak, angle
kameranya dari bawah yang memperlihatkan bagaimana Na Willa melihat Mak.
Nantinya pun ketika ada tokoh baru muncul, ia tidak langsung diperlihatkan ke
wajahnya, melainkan kakinya dulu karena itulah yang dilihat Na Willa. Dengan
cara seperti itu, kita jadi melihat dunia dari sudut pandang Na Willa, sudut
pandang anak enam tahun—bahwa bagi anak seperti dia, banyak hal yang terlalu
besar dan terlalu sulit diraih. Jadi, ketika dibilang film ini memperlihatkan
kehidupan zaman itu dari sudut pandang Na Willa, memang benar, bahkan sampai
soal angle kamera juga.
Aspek teknis lain yang aku suka
dari film ini adalah latar tempatnya. Aku suka melihat rumah Na Willa, Gang
Krembangan, Pasar Krembangan, dan rumah sakitnya. Khusus rumah Na Willa, aku
suka melihat warna-warni rumahnya yang menjadikan visual film ini lebih cerah.
Kemudian, aku juga suka dengan
efek visual yang ditampilkan dalam film ini. Efek visual tersebut digunakan
untuk menampakkan imajinasi Na Willa kepada penonton, seperti pesawat kertas,
orang-orang kecil di dalam radio, dll. Memang tak banyak adegannya, tetapi
sekalinya muncul, itu eye-catching sekali. Untuk adegan efek visual yang
terhitung tidak lama, film ini tetap mempresentasikannya dengan niat dan proper—cantik
banget.
Dalam film ini, bisa dibilang
relasi antara Na Willa dan Mak adalah yang paling ditonjolkan. Ada banyak
kejadian ketika Na Willa dengan polosnya bertanya kepada Mak dan Mak harus
menjelaskannya sebisa mungkin. Itu relatable pastinya bagi banyak orang
tua. Apalagi, adegan ketika Na Willa sudah bisa membaca, semua tulisan yang dia
lihat dia baca—mau itu di jalan, di pasar, atau di manapun—lalu Mak yang harus
menjelaskan ketika ada yang membuatnya heran. Menurutku, itu sesuatu yang
menarik dari film ini karena ia bisa menghadirkan momen yang relatable
seperti itu sehingga banyak penonton, terutama para orang tua, dapat engaged
dengan ceritanya.
Berbicara tentang relasi Na
Willa dan Mak, secara subtle Ryan Adriandhy memasukkan hal-hal menarik
yang bisa membuat penonton merenung mengenai hubungan orang tua dan anak.
Misalnya, (spoiler alert) ketika pertama kalinya Mak mengajarkan Na
Willa untuk tidak berbohong, pada akhirnya Mak menjilat ludahnya sendiri. Kemudian,
(spoiler alert) kejadian tragis yang menimpa Dul juga membuat Mak sangat
trauma, hingga membuatnya takut melepas Na Willa ke luar rumah.
Menurutku, itu sesuatu yang
sangat menarik sebab menjadikan karakter Mak manusiawi dan lekat dengan banyak
orang. Mak tidak menjadi sosok orang tua dengan gaya parenting yang
seperti ibu peri lemah lembut. Mak menjadi sosok orang tua yang berbuat salah
dan galak, tetapi juga mau mengakui kesalahan dan meminta maaf serta mengerti
batasan antara tegas dan kemarahan murni. Bagaimanapun, selain ini adalah
pengalaman pertama Na Willa menjalani kehidupan sebagai anak-anak, ini juga
pengalaman pertama Mak menjadi seorang ibu.
Selain relasi Na Willa dan Mak,
film ini juga tentang Na Willa dan teman-temannya. Menggemaskan sekali melihat
Na Willa bermain bersama Farida, Bud, dan Dul. Apalagi, (spoiler alert)
sewaktu Na Willa diam-diam ikut salat berjamaah di rumah Farida—ya ampun, itu
lucu banget. Dengan melihat mereka, aku merasa hangat—menyenangkan melihat
anak-anak bermain dengan polosnya.
Salah satu bagian paling memorable
tentang Na Willa dan temannya, Dul, adalah waktu adegan musikal Sikilku Iso Muni. Aku sudah tahu duluan bahwa ada agedan
musikalnya dalam film ini, tapi tidak menduga bahwa sebagus dan semenyenangkan
itu. Adegan musikalnya cuma satu itu, tetapi presentasinya totalitas. Lagunya
menyenangkan dan sangat anak-anak, dan koreografinya seru banget. Bahkan
berminggu-minggu setelah menonton filmnya, aku masih ketagihan dengan lagu Sikilku
Iso Muni. Big appreciation to Laleilmanino for this fun song.
Oh iya, jangan lupakan Pak!
Mungkin, Pak tidak terlalu banyak muncul di film ini, tetapi kehadirannya
mencuri perhatian. Mulai dari adegan flashback ketika Pak sedih Na Willa
kecil tak mengenalinya karena Pak terlalu lama berlayar, sampai Pak yang
berkorespondensi dengan Mak dari Jakarta dan Lampung—ia adalah karkater yang
mencuri perhatian. Salah satu bagian yang kusuka adalah (spoiler alert)
waktu Na Willa membaca surat dari Pak, di belakang ada perwujudan imajinasi Na
Willa tentang keadaan Pak yang dipresentasikan seperti semacam teater
anak-anak—itu bagus dan fresh banget. Aku juga suka waktu Pak
menenangkan Mak melalui suratnya, me-encourage Mak untuk membiarkan Na
Willa ke luar, melihat dunia yang lebih luas.
Satu tokoh lagi yang menurutku
menarik adalah Mbok, asisten rumah tangga di rumah Na Willa. Yang aku suka dari
karakter Mbok dalam film ini adalah ia tidak sekadar sosok ART yang hanya tahu
“Iya, Nyona” atau “Siap, Nyonya”. (Spoiler alert) ada momen Mbok cekcok
dengan Na Willa dan momen Mbok memberi masukan kepada Mak. Itu sesuatu yang
jarang ditemui di film/serial TV Indonesia.
Berikutnya, mungkin kalian
menyadari bahwa film ini adalah tentang perubahan. Film ini seolah ingin
memberi tahu bahwa dunia senantiasa berubah dan bergerak, suka ataupun tidak
suka. Hal itu diungkapkan melalui metafora metamorfosis kupu-kupu oleh Ryan
Adriandhy di dalam film. Mak pernah bilang ke Na Willa bahwa tidak bisa
selamanya menjadi ulat, ada masanya ia harus menjadi kupu-kupu.
Itulah yang ingin ditunjukkan
film ini. Bertentangan dengan keinginan Na Willa yang mau semuanya tetap sama
terus-menerus, dunia berubah dari hal-hal kecil. Misalnya, ada toko yang tutup
di pasar, berganti menjadi toko baru. Kemudian, perubahan-perubahan lainnya
terjadi: (spoiler alert) Pak tidak jadi pulang, padahal biasanya pulang;
Dul mengalami kecelakaan tragis; teman-temannya masuk sekolah; dll.
Yang lebih menarik adalah bahwa
bukan hanya Na Willa yang harus belajar menghadapi perubahan, melainkan juga
Mak. Mak harus menghadapi kenyataan bahwa pada akhirnya Na Willa tumbuh menjadi
lebih besar dan tak mungkin hanya diam di rumah. Aku rasa itu kekhawatiran
banyak orang tua, tetapi seperti apa yang disebutkan film ini: tidak bisa
selamanya menjadi ulat, ada masanya harus menjadi kupu-kupu.
Kelemahan
Kelemahan film ini mungkin
terletak pada alur ceritanya di menjelang akhir. Aku merasa ada titik ketika
film bisa saja selesai karena semua permasalahan sudah terselesaikan. Namun,
ternyata cerita belum selesai—muncul masalah baru yang perlu ditangani. Untung
saja masalah baru tersebut cepat diselesaikan dan akhir ceritanya terasa paid-off,
aku jadi tidak terlalu mempermasalahkannya. Hanya saya, aku tetap berpikir
bahwa ceritanya seperti agak dipanjang-panjangkan.
Kesimpulan
Na Willa adalah film anak-anak yang sangat menyenangkan untuk ditonon. Berangkat dari kepolosan Na Willa sendiri, kita akan melihat bagaimana keseharian anak perempuan berusia enam tahun di Gang Krembangan itu bersama orang-orang di sekitarnya. Kalian tentu akan dimanjakan oleh visual film ini yang warna-warni dan detail, oleh camera treatment-nya yang apik, juga efek visualnya yang imajinatif. Meskipun konflik ceritanya tidak gamblang dijelaskan, ceritanya tetap menarik untuk diikuti. Apalagi, ada banyak hal yang dapat menjadi pembelajaran untuk kita semua, terutama para orang tua—misalnya soal parenting dan kekhawatiran orang tua terhadap anak. Aku yakin film ini terasa relatable bagi banyak orang. Kalian juga akan tertawa melihat kebersamaan Na Willa dan teman-temannya, apalagi ketika menyanyikan lagu Sikilku Iso Muni. Walaupun ceritanya agak dipanjang-panjangkan, aku merasa akhir ceritanya paid-off. Aku yakin ketika selesai menonton film ini, kalian akan dipenuhi perasaan riang dan lega. Untuk skor, aku akan memberikan 9/10. Film ini sangat cocok ditonton anak-anak dan orang tuanya—cocok untuk segala umur.
Kalian dapat menonton Na Willa di Netflix. Tonton trailer filmnya di bawah ini.
Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!











Komentar
Posting Komentar