Identitas Film
|
Judul |
: |
The Odyssey |
|
Sutradara |
: |
Christopher Nolan |
|
Produser |
: |
Emma Thomas, Christopher Nolan |
|
Tanggal rilis |
: |
17 Juli 2026 |
|
Rumah produksi |
: |
Universal Pictures,
Syncopy |
|
Penulis naskah |
: |
Christopher Nolan |
|
Durasi tayang |
: |
2 jam 52 menit |
|
Pemeran |
: |
Matt Damon, Anne Hathaway, Tom
Holland, Robert Pattinson, Zendaya, Lupita Nyong’o, Himesh Patel, Jon
Bernthal, Charlize Theron, John Leguizamo, Elliot Page, Samantha Morton,
Benny Safdie |
|
Genre |
: |
Epos, petualangan, mitologi, dark
fantasy, action |
Sinopsis
Sudah dua puluh tahun berlalu sejak negeri Ithaca ditinggal oleh rajanya, Odysseus (Matt Damon). Ratu mereka, Penelope (Anne Hathaway), dengan setia menanti kepulangan sang suami. Namun, putra mereka, Telemachus (Tom Holland), tidak sabar sebab ratusan pelamar yang ingin menikahi Penelope sudah berkumpul di istana dan merusak negeri mereka. Penelope dan Telemachus sama-sama tahu bahwa yang bisa menyingkirkan para pelamar tersebut hanyalah Odysseus.
Namun, tidak ada yang tahu di
mana keberadaan Odysseus sang pahlawan dalam Perang Troya. Kabar terakhir
tentangnya adalah dia sedang dalam perjalanan pulang sejak Perang Troya
berakhir, dan itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Hanya dewa-dewi yang tahu
apakah Odysseus masih hidup atau tidak.
Akan tetapi, di suatu tempat di
dunia ini, jauh dari rumah, Odysseus masih hidup. Dia memang telah menyimpang
jauh dari rutenya kembali ke Ithaca dan telah menemui berbagai makhluk dan
sosok berbahaya. Namun, dia masih dalam perjalanannya untuk pulang kepada istri
dan putranya. Inilah jalan panjangnya untuk pulang.
Kelebihan
Christopher Nolan kembali dengan
karya yang luar biasa. Kali ini dia mengadaptasi sebuah epos Yunani kuno yang
telah berusia ribuan tahun yang berjudul The Odyssey. Bagi kalian yang
tidak familier dengan epos tersebut, perlu diketahui bahwa The Odyssey
adalah sebuah epos yang bercerita tentang perjalanan pulang Odysseus kembali ke
Ithaca, kepada istri dan anaknya, setelah Perang Troya. Epos ini adalah salah
satu sumber kisah mitologi Yunani kuno yang sangat terkenal.
Akan tetapi, Christopher Nolan
tidak mengadaptasi epos tersebut plek ketiplek ke format film. Tentu saja ia
melakukan penyesuaian di sana-sini agar lebih sesuai dengan visi dan pesan yang
ia coba sampaikan. Maka dari itu, dapat dimaklukmi jika alur cerita film ini
tidak sepenuhnya sama dengan kisah yang disampaikan Homer ribuan tahun lalu.
Hasil akhirnya pun tidak buruk—tetap bagus dan dapat dinikmati.
Hal pertama yang kusukai dari
film ini adalah chemistry Matt Damon dan Anne Hathaway sebagai Odysseus
dan Penelope. Kisah Odysseus selalu tentang perjalanan pulangnya kepada
keluarganya; petualangannya di laut bukanlah inti ceritanya. Maka dari itu,
menurutku penting agar penonton dapat mengerti seberapa kuat perasaan Odysseus
dan Penelope, dan itulah yang berhasil ditunjukkan film ini.
Berangkat dari hubungan Odysseus
dan Penelope tersebutlah alur cerita dikembangkan. Lagi-lagi, Christopher Nolan
merangkai alur cerita yang tidak linier, tetapi kali ini rasanya lebih mudah
dipahami. Mungkin, kalian pernah menonton film-film Christopher Nolan yang
lain, seperti Dunkirk (2017) dan Tenet (2023), yang terdiri atas
beberapa sudut pandang atau alurnya tidak linier. The Odyssey kurang
lebih seperti itu, hanya saja penyajiannya lebih mudah dipahami. Penonton tidak
perlu berpikir keras atau menyusun teori yang terlalu rumit. Mereka cukup
duduk, menonton, dan menikmati ceritanya.
Namun jangan salah sangka—alur
yang lebih mudah dipahami tersebut tidak menjadikan cerita ini lebih tidak
berbobot dibanding film-film Christopher Nolan yang lain. Di dalam film ini,
ada satu poin penting yang terus-menerus disampaikan, (spoiler alert)
yaitu tentang hukum keramat Zeus. Hukum tersebut pada dasarnya adalah ajaran
moral—perintah dan larangan—berdasarkan kepercayaan orang-orang Yunani kuno
terhadap dewa-dewi mereka. Berulang kali dalam cerita ini, disebutkan bagaimana
moral dan tatanan sosial telah rusak karena hukum Zeus tersebut dilanggar. Peradaban
dapat runtuh jika manusia tidak lagi menegakkan moral. Itu menjadi pesan
menarik yang coba disampaikan Christopher Nolan melalui kisah ini.
Apalagi, kita dapat mengintepretasikannya
lebih jauh lagi dengan melihat perspektif gender. Dalam petualangan ini,
Odysseus dan pasukannya yang terdiri atas laki-laki digambarkan beberapa kali
melanggar hukum Zeus tersebut. Mereka memang melakukannya demi bertahan hidup,
tetapi pada beberapa kesempatan, mereka melakukannya karena kesombongan dan kerakusan
mereka. Itu sebabnya (spoiler alert) Circe (Samantha Morton) mengatakan
bahwa laki-laki itu seperti babi yang tamak dan penuh nafsu.
Tidak hanya Odysseus dan
pasukannya, para pelamar di Ithaca yang ingin menikahi Penelope juga demikian.
Mereka adalah antagonis cerita—dan mereka laki-laki. Mereka digambarkan sebagai
perusak dan penindas yang sombong dan rakus. Mereka bahkan merusak negeri
Ithaca sampai merusak tatanan sosial di sana.
Di sisi lain, Penelope yang
seorang perempuan menunjukkan bagaimana dia taat pada hukum Zeus tersebut. Dia
menjadi istri yang setia, tidak membiarkan ada laki-laki lain menyentuhnya
selama Odysseus pergi. Dia juga menggantikan Odysseus memimpin Ithaca dan tetap
bersikap ramah kepada para pelamar yang licik itu. Kontras sikap antara
laki-laki dan perempuan tersebut memberikan refleksi yang lebih dalam terhadap
cerita ini.
Namun, tidak hanya pesannya yang
menjadikan cerita ini menarik, performa para aktornya juga luar biasa.
Christopher Nolan memang terkenal menggandeng banyak aktor papan atas untuk
bermain di film-filmnya, tak terkecuali The Odyssey ini. Seperti yang
sudah kubilang tadi, Matt Damon dan Anne Hathaway tampil dengan on-screen
chemistry yang bagus. Kemudian, ada Himesh Patel sebagai Eurylochus,
salah satu rekan Odysseus dalam perjalanan, yang ternyata memiliki peran yang
besar dalam cerita. Performanya termasuk understated karena selama
promosi film ini, dia jarang dimunculkan, meskipun ternyata ia mencuri
perhatian. Sementara itu, Robert Pattinson sukses tampil sebagai Antinous yang
menyebalkannya bukan main. Selanjutnya, ada Zendaya, Lupita Nyong’o, Charlize
Theron, dan Samantha Morton yang walaupun screentime-nya tidak banyak,
kemunculannya akan membekas di benak kalian. What an ensemble of casts.
Oh iya, elemen action
dalam film ini juga patut dibicarakan. Pertarungannya seru banget dan intens,
apalagi yang di babak terakhir. Odysseus bertarung dengan gagah dan keren.
Kalian dapat merasakan “aura tokoh utama” ketika Odysseus bertarung.
Berikutnya, aku mengapresiasi
sekali visual film ini. Christopher Nolan terkenal dengan treatment efek
praktisnya, bukan CGI—termasuk di film ini. Maka dari itu, latar laut serta
beberapa makhluk mitologi yang kalian saksikan dalam film ini bukanlah CGI. Misalnya
saja, (spoiler alert) ketika Odysseus dan pasukannya bertemu kaum Laistrygonian,
kaum raksasa kanibal dari Utara. Para Laistrygonian itu bukan CGI, mereka
pemeran asli yang memang tinggi badannya tinggi sekali. Sementara, Matt Damon
digantikan stunt-in seorang aktris yang tubuhnya kecil, sekitar 160-an
cm, supaya kontras tingginya terasa sekali yang memberi kesan “raksasa”. Itu pilihan
teknis yang menarik banget sih.
Kemudian, salah satu momen yang
paling kusukai dari film ini adalah ketika Odysseus dan pasukannya bertemu
dengan Polyphemus sang Cyclops. Suasana cerita yang sebelumnya kuat elemen
petualangannya beralih menjadi horor. Baik dari aspek visual maupun audio,
kalian akan dibuat merinding dan tidak nyaman. Aku masih teringat (spoiler
alert) suara pasukan Odysseus yang dimakan sang Cyclops ataupun suara
jeritan kesakitan sang Cyclops ketika dibutakan oleh Odysseus dan pasukannya—itu
membuatku merinding.
Setelah dari pulau tersebut,
segalanya terus-menerus menjadi semakin suram. Adegan pelayaran yang di awal
terasa seperti petualangan seru, berubah menjadi suram. Tiap kali Odysseus dan
pasukannya terjebak di tengah badai laut, kalian akan termenung tentang seberapa
sulitnya perjalanan tersebut—mungkin mustahil. Kalian akan melihat bagaimana
itu membuat Odysseus dan pasukannya merenungkan perbuatan mereka, kemenangan
mereka, dan kesombongan mereka setelah Perang Troya. Christopher Nolan seolah
ingin melontarkan pertanyaan apakah kemenangan mereka di Perang Troya sungguh
berarti sebab para jagoan yang menang tersebut tidak bernasib baik setelahnya.
Atau apakah mereka benar-benar menang?
Kemudian, dalam petualangan ini,
ada satu persinggahan lain yang sangat menarik perhatianku, yaitu rumah Circe
sang penyihir. Dalam kisah-kisah kuno, Circe menyambut petualang yang singgah
di pulau tempatnya tinggal dan mempersilakan mereka makan makanan yang
dihidangkannya. Namun, Circe tidak pernah membiarkan mereka pergi, sementara
tamu laki-laki akan diubahnya menjadi binatang.
Hal yang sama terjadi pada pasukan Odysseus dan itu adalah adegan horor lainnya
dalam film ini. Petualangan Odysseus dan pasukannya sangatlah melelahkan, lalu
sekalinya mereka mendapat keramahtamahan, hal itu berujung horor bagi mereka.
Aku mengapresiasi Christopher Nolan yang mengambil cara berbeda soal sihir
Circe—yang ini sangatlah disturbing secara visual, dan efektif.
Selanjutnya, hal menarik lainnya dalam petualangan Odysseus adalah (spoiler alert) pertemuannya dengan Tiresias (James Remar) sang peramal buta yang telah mati. Peramal tersebut memberi Odysseus ramalan tentang sisa ujian yang harus dia hadapi untuk pulang. Mungkin, yang paling mengerikan adalah bahwa pada akhirnya hanya Odysseus seorang yang akan selamat, sedangkan krunya tidak. Momen tersebut menurutku adalah momen yang mematahkan hati bagi Odysseus. Seorang pemimpin dan raja harus berhadapan dengan pengikut-pengikutnya yang telah dikorbankan, lalu ditambah informasi bahwa akan ada lebih banyak lagi pengikutnya yang akan tewas. Aku dapat melihat ekspresi penyesalan dan kekhawatiran dalam wajah Odysseus.
Baiklah, jika kalian pikir
petualangan Odysseus selesai ketika dia tiba di Ithaca, kalian salah. Ketika
tiba di rumah yang sudah ia tinggalkan selama 20 tahun, banyak hal berubah.
Apalagi, para pelamar menguasai istananya. Satu babak terakhir dalam kisah
Odysseus ini menurutku menjadi resolusi yang menyenangkan, yang memberikan
harapan. Setelah segalanya, ketika dapat merasakan keputusasaan Odysseus,
tetapi ketika dia tiba kembali di Ithaca, ada sedikit harapan di dirinya. Dia
masih punya daya juang yang mendorongnya untuk melawan para pelamar licik
tersebut, tetapi bukan demi dirinya, melainkan demi Telemachus, putranya, dan
Penelope, istrinya. Bagiku, tahap ini adalah ketika Odysseus menyadari bahwa
dia bukanlah pemimpin yang baik karena tidak mampu membawa pasukannya kembali
ke rumah, tetapi itu bukan berarti dia harus menyerah dan membiarkan negeri
yang akan diwarisi putranya rusak.
Mungkin, setelah menonton, semua
penonton pasti terhibur dengan filmnya, tetapi mungkin beberapa dari kalian juga
akan merenung. Tiap persinggahan adalah ujian bagi Odysseus dan pasukannya. Perjalanan
pulang yang seharusnya hanya empat hari berubah menjadi sepuluh tahun bukan
terjadi tanpa sebab, dan Odysseus pun tahu itu. Kalau kalian menelusurinya
kembali ke saat pasukan Yunani pulang dari Troya, kalian akan mengerti bagaimana
Odysseus memaknai perjalanannya. Bahkan, menurut Odysseus sendiri, semuanya
sudah berubah buruk sejak siasat Kuda Troya-nya berhasil. Di situlah letak plot
twist-nya, apalagi ini bukanlah plot twist yang heboh—which I
like. Ini adalah tipe plot twist yang tidak di-delivery
dengan megah dan tidak mematahkan persepsimu tentang keseluruhan cerita, tetapi
tipe plot twist yang subtle dan menambah kedalaman cerita dan
karakter. Itu merupakan ide brilian dari Christopher Nolan, keren!
Kelemahan
Kalau secara gamblang, kelemahan
film ini tidak terlalu terasa. Kelemahan-kelemahan yang kurasakan tidak akan berpengaruh
besar pada cerita. Namun, tetap akan aku jabarkan di sini.
Salah satunya adalah sosok
Agamemnon (Benny Safdia). Di awal, terutama ketika adegan-adegan di Troya,
Agamemnon terlihat sangat gagah dan menyeramkan. Dia tipe pemimpin yang kau
segani dan takuti. Namun, (spoiler alert) ketika Odysseus bertemu
kembali dengannya yang sudah mati, image tersebut seolah luntur berkat
performa Benny Safdie yang biasa saja atau skripnya yang biasa saja.
Kemudian, ada Tom Holland sebagai
Telemachus yang aktingnya tidak jelek, tetapi juga tidak bagus. Dengan beradu
akting dengan Matt Damon sebagai Odysseus dan Anne Hathaway sebagai Penelope,
kesannya akting Tom Holland tuh datar. Matt Damon dan Anne Hathaway menunjukkan
range of arcs yang luas dalam film ini, tetapi Tom Holland tidak. Dia jadi
seperti terbanting oleh dua seniornya tersebut.
Sementara itu, dari segi alur
cerita, kelemahan yang kurasakan adalah babak ketika Odysseus ada di Pulau Ogygia
bersama Calypso (Charlize Theron). Di versi klasiknya yang disampaikan Homer,
Odysseus memang bertemu Calypso, putri Titan Atlas, di pulau Ogygia, tetapi bukan
di sanalah Odysseus memakan bunga lotus ajaib. Dalam versi klasiknya, Odysseus
dan pasukannya tiba di suatu kota yang penduduknya memakan bunga lotus ajaib
tersebut. Bunga tersebut melemahkan hati mereka dan membuat mereka tidak ingin
pulang. Seperti persinggahan Odysseus yang lain, kota yang penduduknya memakan
bunga lotus ajaib tersebut juga merupakan ujian yang harus dihadapi Odysseus
dan pasukannya. Namun, dengan menggabungkan tahap ini dengan tahap Calypso,
ketika Odysseus hanya tinggal seorang diri dan pasukannya sudah tidak ada, menurutku
itu mengubah insight yang dapat diambil oleh penonton.
Kemudian, satu kelemahan lainnya
adalah soal dialog. Aku sedikit risih di beberapa adegan dengan gaya bicara
para tokohnya yang terlalu kekinian Pada beberapa adegan, tokoh-tokohnya
menggunakan kalimat yang terlalu modern. Tentu aku tidak tahu bagaimana bahasa
dan cara orang-orang Yunani kuno bercakap-cakap, tetapi aku yakin bukan seperti
yang di film ini. Menurutku dapat ditingkatkan lagi untuk memperkuat suasana
peradaban kunonya.
Kesimpulan
The Odyssey adalah sebuah film epik yang luar biasa dari Christopher Nolan. Meskipun alur ceritanya tidak seberat film-filmnya yang lain, The Odyssey sama sekali tidak terasa remeh. Kalau kalian suka cerita petualangan dan pelayaran di laut, kalian akan cocok dengan film ini. Apalagi, Christpher Nolan tidak sekadar menyajikan cerita epik, ada berbagai insights yang dapat diambil dalam film ini. Setiap persinggahan Odysseus adalah ujian yang memberikan pembelajaran sekaligus adalah hukuman atas kesombongan dan ketamakannya. Kalian dapat melihat bagaimana petualangan tersebut berubah menjadi pekat keputusasaan, tetapi itu tidak mematahkan semangat tokoh utama kita sampai akhir. Tidak hanya itu, para aktor papan atas yang menjadi pemeran di dalamnya sukses menghidupkan kisah ini.
Walaupun tidak sepenuhnya akurat dengan materi orisinalnya dan ada beberapa performa aktor yang biasa saja, film ini tetaplah mengagumkan. Dengan alur cerita yang begitu epik, lalu treatment audio visual yang luar biasa, serta akting para pemerannya yang patut menuai apresiasi, aku yakin siapapun akan menyukai film ini. Apalagi, penggemar Christopher Nolan wajib menonton ini. Skor dariku adalah 9,6/10. Well, film ini sangatlah cocok untuk siapapun; tentu saja, yang sudah cukup umur ya.
Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!












Komentar
Posting Komentar