Identitas Buku
Judul
|
:
|
The Ballad of Never After
|
Penulis
|
:
|
Stephanie Garber
|
Penerjemah
|
:
|
Reni Indardini
|
Penerbit
|
:
|
Noura Books PT Mizan Publika
|
Tahun terbit
|
:
|
2022
|
Cetakan
|
:
|
I
|
Tebal
|
:
|
398 halaman
|
Harga
|
:
|
Rp124.000
|
ISBN
|
:
|
9786232423558
|
Genre
|
:
|
High fantasy,
fantasi
romantis, misteri, petualangan, young adult
|
Tentang Penulis
Stephanie Garber adalah seorang penulis New York Times Best-Seller. Setelah naskahnya beberapa kali
ditolak, dia akhirnya debut sebagai penulis sebuah buku bergenre opera
antariksa, tetapi tidak laku di pasaran. Kemudian, barulah dia menulis Caraval (2017)
yang lalu menjadi buku best-selling serta
mendapat kritik positif. Setelah itu, Stephanie Garber menulis dua sekuel dari Caraval: Legendary
(2018) dan Finale
(2019). Stephanie Garber juga menulis trilogi Once Upon A Broken Heart,
yang merupakan spin-off dari trilogi Caraval. Trilogi tersebut
terdiri atas Once Upon A Broken Heart (2021), The Ballad of Never
After (2022), dan A Curse for True Love (2023). Sampai sekarang,
Stephanie Garber masih menunggu Legend mengiriminya undangan ke Caraval.
Sinopsis
 |
Evangeline Fox |
Setelah Jacks sang Pangeran Hati
mengkhianatinya, Evangeline bersumpah tidak akan lagi memercayai sang Takdir,
tak peduli walaupun dia memiliki lesung pipi yang manis, mata biru yang
memukau, dan suara yang membuatnya berdebar-debar ketika memanggilnya Rubah
Kecil. Evangeline berjanji tidak akan mengikuti manipulasi Jacks.
Kini, setelah menemukan sihirnya
sendiri, Evangeline pikir dirinya dapat mendapatkan akhir bahagia yang dia
inginkan. Akan tetapi, ketika sebuah kutukan baru diaktifkan, Evangeline
lagi-lagi harus bermitra dengan Jacks. Masalahnya, sepertinya hanya Jacks yang
dapat dia andalkan dan percayai kali ini. Padahal, Jacks hanya menganggapnya
sebagai alat untuk membuka Pelengkung Valory, yang konon katanya entah merupakan
portal menuju penjara yang mengurung makhluk laknat berbahaya atau portal
menuju gudang harta karun. Sebenarnya, apa yang diinginkan oleh Jacks?
Namun, tunggu… mungkinkah
kutukan ini lagi-lagi ulah Jacks? Atau ada orang lain yang ikut campur tangan? Dengan
bahaya yang mengincar nyawanya, Evangeline sekali lagi harus berjuang demi
akhir bahagia yang dia dambakan.
Kelebihan
 |
Sampul The Ballad of Never After versi Amerika Serikat (kiri) dan Inggris (kanan) |
Sama seperti buku sebelumnya, The Ballad of Never After adalah buku
yang bisa dinilai dari sampulnya. Sampul yang luar biasa cantik ini didesain
oleh @platypo dengan ilustrasi oleh @garisinau. Bahkan, dulu aku membeli buku
ini karena FOMO melihat sampulnya yang cantik ini, hehehe. Omong-omong, kebetulan dulu aku ikut pre-order ‘prapesan’ sehingga
mendapatkan bonus buku kecil berupa cuplikan adegan di The Ballad of Never After dari sudut panjang Jacks. Namun, tenang saja,
ini seperti fan service saja kok; tak membaca buku kecil ini pun tak
apa.
Mengingat kembali trilogi Caraval, buku Legendary yang merupakan buku kedua dari trilogi tersebut memiliki
cerita, tokoh utama, dan konflik yang berbeda dari buku pendahulunya (Caraval).
Namun tidak sama dengan itu, The Ballad
of Never After sebagai buku kedua dari trilogi Once Upon A Broken Heart memiliki tokoh yang masih sama, Evangeline
dan Jacks, dan konflik yang melanjutkan buku pertamanya. Maka dari itu,
intensitas konfliknya langsung cukup tinggi di awal, dan terus naik seiring
cerita berjalan.
Dibandingkan dengan Once Upon A Broken Heart yang memiliki
sekuens tidak tertebak, jalan cerita buku ini bisa dibilang tidak terlalu mengejutkan,
kecuali di babak akhir buku, sehingga bukan di situlah kekuatannya. Salah satu
kekuatan dari cerita ini adalah emosinya. Beban emosi yang Evangeline bawa itu
berat sekali, apalagi dia hanya sebatang kara. Kalau dulu Tella dan Scarlett
saling memiliki, Evangeline tidak memiliki kemewahan tersebut. Kedua orang
tuanya meninggal, saudari tirinya jahat kepadanya, suaminya dikutuk, dan orang-orang
yang dia percayai ternyata memperalatnya, lalu ditambah dia berada di negeri
asing. Dia harus menghadapi semuanya seorang diri, maka beban emosinya tak
terbayangkan olehku. Mungkin, yang membuatnya bertahan adalah keyakinannya akan
akhir bahagia.
Selain itu, tarik ulur antara
Evangeline dan Jacks juga pasti akan menguras emosi kalian. Kalau ada
penghargaan untuk orang yang jago menyangkal perasaannya kepada orang lain
dengan meyakini itu efek dari sihir, kutukan, kesendirian, dan momen, Evangeline
dan Jacks-lah juaranya. Aku geregetan sekali tiap membaca jantung
Evangeline berdebar karena Jacks, tetapi dia langsung mengenyahkan gagasan tersebut
dan bilang kepada dirinya bahwa itu pasti pengaruh sihir atau momen. Aku pun geregetan
melihat Jacks yang selalu pergi ketika situasi menjadi lebih emosional. Mengapa
mereka tidak mau berterus terang saja? Dan rupanya, itu akan terjawab di babak
terakhir buku ini, which was still
shocking, walau sudah ada hints-nya
di awal-awal.
Meskipun penuh penyangkalan, romansa
di antara mereka berdua tetap membuatku senyum-senyum. Stephanie Garber tidak
kehilangan sentuhannya untuk yang satu ini: membuat suasana romantis yang passionate antara seorang gadis lugu
dengan laki-laki yang seharusnya tidak dia percayai. Romansa antara Evangeline
dan Jacks terasa lebih berani dan seksi. Pipi kalian akan memerah dan jantung
kalian akan berdegup kencang menyaksikan keduanya. Yang membuatku terkejut
adalah sosok Jacks yang sangat berubah—di serial Caraval dia tampak licik dan berbahaya meski menggoda; di buku ini
dia justru terasa misterius, menarik, dan memukau. Aku tidak heran kalau
Evangeline bukannya makin menjauh, tapi malah makin penasaran terhadap sang
Takdir.
Berikutnya, (spoiler alert)
fokus konflik kali ini adalah menemukan empat batu ajaib Pelengkung Valory.
Keempat batu tersebut dibutuhkan untuk bisa membuka pelengkung tersebut.
Pencarian batu-batunya tidak bertele-tele, tapi juga tidak terburu-buru. Menurutku,
Stephanie Garber tepat sekali untuk tidak membuat Evangeline dan Jacks harus
bertualang ke mana-mana demi menemukan batu-batu tersebut. Cerita bisa me-highlight dinamika hubungan Evangeline
dan Jacks, tetapi tetap mampu memberikan kisah pencarian yang berkesan.
Jalan ceritanya juga seperti
kembali ke buku Caraval. Sama-sama tentang
pencarian, sama-sama gadis lugu yang punya trust
issue, sama-sama ditemani laki-laki yang penuh rahasia tapi menawan, dan
sama-sama dipenuhi kejutan dan pengkhianatan. Sepanjang jalan cerita, terutama
babak kedua buku ini, selalu saja ada fakta baru yang mengejutkan, apalagi
ketika ada pengkhianatan dari orang-orang yang dianggap teman. Aku makin
kasihan melihat Evangeline. Namun, kejutan terbesar ada di babak terakhir buku
ini, yang akan mengubah total persepsimu terhadap Jacks. Jika kalian sudah
tersihir oleh pesona Jacks, bersiaplah untuk makin tersedot pesonanya lagi.
 |
Jacks sang Pangeran Hati |
Omong-omong soal Jacks,
Stephanie Garber sepertinya tidak bergurau ketika ia bilang bahwa Takdir
favoritnya adalah si Pangeran Hati. (Spoiler alert) sebagaimana yang
diketahui dari buku Finale: Takdir
itu diciptakan, bukan dilahirkan. Artinya, ada masa ketika para Takdir sebelum
menjadi Takdir. Dalam buku ini, Stephanie Garber memberikan kita gambaran
kehidupan Jacks, LaLa, dan Kaos sebelum mereka menjadi Takdir. Bagian tersebut
membongkar sisi karkater Jacks yang paling mengejutkan. Tidak pernah terbayang
bahwa Jacks yang tampak begitu licik rupanya memiliki masa lalu sepahit itu. Jacks
yang Evangeline lihat sangat berbeda dari Jacks yang Donatella lihat. Itu pendalaman
karkater yang mengesankan sekali. Pokoknya, tidak heran jika Jacks disebut
sebagai perwujudan patah hati itu sendiri.
Bagian favoritku dari buku ini
adalah (spoiler alert) ketika
Evangeline dan Jacks mencari suaka di Hollow, sebuah penginapan ajaib untuk
para pelancong. Kalian para pendukung Evangeline dan Jacks harus siap-siap
untuk tak berhenti senyum sepanjang momen di Hollow. Itu adalah momen
kebersamaan keduanya yang paling intim, jujur, dan manis. Di saat itulah aku
melihat perasaan Jacks yang sebenarnya terhadap Evangeline, dan betapa
Evangeline mengingingkan Jacks. Apalagi ketika bagian ini: “Tapi, malam ini
saja, biarkan aku berpura-pura bahwa kau adalah milikku,” kata Jacks; yang lalu
dibalas Evangeline, “Aku milikmu.”
Kelemahan
Bagiku pribadi, salah satu
kekurangan buku ini adalah (spoiler alert)
diungkapnya lokasi Pelengkung Valory di awal. Itu agak mengecewakan karena
langsung mengikiskan kesan misterius pelengkung tersebut. Meskipun pelengkung
tersebut tidak langsung bisa dibuka, tetapi karena diungkap di awal, berkuranglah
rasa penasaranku sebagai pembaca.
Kemudian, seperti yang telah aku
sebutkan sebelumnya, jalan cerita buku ini, pada beberapa bagian, memiliki
kesamaan dengan Caraval dan Legendary. Aku pribadi tidak masalah
dengan pengulangan tersebut, toh eksekusinya bagus. Akan tetapi, bagi orang
lain, mungkin itu terlalu biasa dan terkesan kurang kreatif sebab akan lebih
mudah ditebak.
Kelemahan yang selanjutnya
adalah Marisol. Setelah apa yang diperbuatnya di Once Upon A Broken Heart dan kelakuannya di awal buku ini, aku
kecewa dia tidak muncul lagi. Dia hanya mendapat satu adegan, lalu hilang dan
kita tidak tahu kabarnya. Padahal, dia berpotensi menjadi antagonis yang bisa
lebih dikembangkan lagi karakternya. Bahkan, sejujurnya aku berharap ada
perkembangan antara dia dan Evangeline sehingga mereka dapat berbaikan—ataupun
makin bermusuhan.
Kesimpulan
The
Ballad of Never After adalah
sebuah novel yang sangat seru dan romantis. Buku ini akan mengajak pembaca
untuk melihat lebih jauh hubungan Jacks dan Evangeline. Kalian akan dibuat
geregetan, gemas, dan sebal melihat tarik ulur keduanya; tetapi kalian juga
akan tersipu sampai berdebar pula. Bagi penggemar Jacks, siap-siaplah untuk
lebih mencintai sang Takdir karena dalam buku ini diungkapkan masa lalu yang
memperlihatkan sisi lain Jacks.
Namun, ada beberapa hal yang cukup
mengecewakan dalam ceritanya, terutama di bagian awal. Meskipun begitu, jalan
ceritanya tetap seru dan menarik. Dengan desain sampul yang cantik sekali,
kalian tidak akan kecewa terhadap novel ini. Akan tetapi, ini adalah balada
tentang dua orang yang patah hati, tentu saja akhirnya memotek hati. Biarpun
akhirnya sangat menggantung, aku tetapi menikmatinya sehingga kuberi skor 9,5/10.
Sebelumnya (Once Upon A Broken Heart)
Selanjutnya (A Curse for True Love)
***
Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!
Silakan baca reviu Finale di sini.
Komentar
Posting Komentar