A Curse For True Love: Dua Penjahat, Satu Gadis, dan Satu Kutukan untuk Cinta Sejati—Akhir Bagi Kisah Paling Menakjubkan di Utara Agung
Identitas Buku
Judul |
: |
A Curse for True Love |
Penulis |
: |
Stephanie Garber |
Penerjemah |
: |
Yuli Pritania |
Penerbit |
: |
Noura Books PT Mizan Publika |
Tahun terbit |
: |
2023 |
Cetakan |
: |
I |
Tebal |
: |
410 halaman |
Harga |
: |
Rp109.000 |
ISBN |
: |
9786232424197 |
Genre |
: |
High fantasy,
fantasi
romantis, misteri, petualangan, young adult |
Tentang Penulis
Stephanie Garber adalah seorang penulis New York Times Best-Seller. Setelah naskahnya beberapa kali
ditolak, dia akhirnya debut sebagai penulis sebuah buku bergenre opera
antariksa, tetapi tidak laku di pasaran. Kemudian, barulah dia menulis Caraval[1] (2017)
yang lalu menjadi buku best-selling serta
mendapat kritik positif. Setelah itu, Stephanie Garber menulis dua sekuel dari Caraval: Legendary[2]
(2018) dan Finale[3]
(2019). Stephanie Garber juga menulis trilogi Once Upon A Broken Heart,
yang merupakan spin-off dari trilogi Caraval. Trilogi tersebut
terdiri atas Once Upon A Broken Heart (2021), The Ballad of Never
After (2022), dan A Curse for True Love (2023). Sampai sekarang,
Stephanie Garber masih menunggu Legend mengiriminya undangan ke Caraval.
Sinopsis
![]() |
Evangeline Fox |
Evangeline Fox selalu ingin
memiliki hidup seperti di kisah-kisah dongeng yang berakhir bahagia selamanya.
Dia menikahi pangeran tampan dan tinggal di istana megah. Namun, semuanya
terasa hampa, terasa seperti ada harga mahal yang telah ia bayar untuk semua
itu, tetapi ia tak bisa ingat apa yang telah ia korbankan tersebut.
Mengapa seperti ada lubang
menganga di hatinya? Mengapa dia tidak bisa memercayai suaminya? Mengapa
jantungnya berdebar untuk sosok tampan berambut keemasan yang asing? Sosok
tersebut pun membangkitkan ingatan kabur dalam benak Evangeline.
Lelaki
itu rela menggendongnya melewati apa saja, bukan hanya perairan membekukan.
Lelaki itu akan menyeretnya menerjang api jika perlu, menggotongnya agar
selamat dari impitan perang, dari kota-kota yang runtuh dan dunia-dunia yang
hancur ….
Akan tetapi, Evangeline tidak bisa mengingat siapa sosok tersebut.
Siapa pula Pangeran Hati yang terasa tidak asing baginya? Yang dirinya tahu
Pangeran Hati adalah salah satu Takdir, tetapi apa hubungan dia dengan
Evangeline? Di sisi lain, Evangeline juga harus berhati-hati karena ada orang
yang mengincar nyawanya di istana. Apakah kutukan berbahaya akan diaktifkan
lagi untuknya?
Dua penjahat. Satu gadis. Satu kutukan untuk mendapatkan
cinta sejati. Akankah balada Evangeline dan Jacks berakhir bahagia
selama-lamanya?
Kelebihan
Buku ini adalah puncak cerita
dari trilogi Once Upon A Broken Heart, tetapi jika harus diperingkatkan,
buku ini ada di peringkat paling bawah dibanding dua buku sebelumnya. Namun,
jangan berpikir buruk dulu karena walau di peringkat bawah, buku ini masih
terbilang bagus kok. Mari kita bahas kelebihan-kelebihannya ya.
![]() |
Sampul A Curse for True Love versi US (kiri) dan versi UK (kanan) |
Pertama-tama, tentu saja
sampulnya. Segala hormat dan apresiasi kepada penerbit Mizan serta @platypo dan
@garisinau yang telah memproduksi A Curse for True Love dengan sampul
secantik ini. Ini beneran cantik banget sih. Semua elemen yang
muncul di sampulnya mewakili hal-hal yang ada di dalam cerita. Aku suka banget
dengan penampilan Evangeline dan Jacks pada sampulnya, cantik sekali! Para kolektor
buku wajib banget memilikinya.
Setelah itu, mari masuk ke
ceritanya. Walaupun cerita ini bisa dibilang kembali ke awal atau back to
square one karena Evangeline kehilangan ingatan, ada beberapa perkembangan
yang menarik sejak kejadian di buku kedua. Salah satunya ialah (spoiler
alert) kembalinya keluarga Valor yang dahulu mendirikan Utara Agung.
Menurutku, keberadaan mereka penting sekali di cerita ini, sebab berbagai
konflik di buku ini berakar dari mereka. Akhirnya pembaca mendapatkan kebenaran
atas berbagai kejadian di masa lalu Jacks, Kaos, dan LaLa serta sejarah
terlupakan Utara Agung.
Selain itu, aku juga menyukai
perkembangan karakter Evangeline. Dia bukan lagi gadis lugu dan percaya
dongeng—dia cuma gadis lugu sekarang, hahaha. Evangeline tak lagi percaya bahwa
hidupnya bisa menjadi seperti dongeng yang berakhir bahagia selamanya. Dia juga
sudah tahu siapa yang dia cinta dan tak ragu untuk memperjuangkan pria
tersebut. Tak ada lagi penyangkalan dalam hatinya. Dari yang aku lihat,
Evangeline menyadari bahwa kehidupan nyata memiliki kemungkinan akhir yang tak
terbatas, dan manusia memiliki kekuatan untuk menentukan akhir yang mereka
inginkan. Oleh karena itu, (spoiler alert) dia terus mengejar cinta
sejatinya, walaupun ia kehilangan ingatan.
![]() |
Jacks sang Pangeran Hati |
Di sisi lain, buku ini
memperlihatkan hal baru soal Jacks. Dia masih Jacks yang sama, yang berdarah
dingin, kalkulatif, dan peduli pada Evangeline. Namun, kali ini Jacks juga
digambarkan begitu putus asa, begitu tak memiliki harapan. Dia masih seorang
Jacks yang tak segan membunuh siapapun yang menghalangi jalannya, terutama demi
melindungi Evangeline, tetapi dia tak lagi Jacks yang menggoda Evangeline
dengan senyuman dan lesung pipinya. Alih-alih bermain tarik ulur dengan
Evangeline, Jacks menjaga jarak dan berusaha menjauh sebisanya. Rasanya, Jacks
lagi-lagi berubah dari karakternya. Rupanya, dia juga hanyalah seorang yang
patah hati.
Yang lebih menarik adalah
kontras di antara keduanya. Seorang gadis optimistis dan seorang lelaki
pesimistis. Seorang gadis yang lugu dan seorang lelaki yang tangannya
berlumuran darah. Seorang gadis yang percaya pada akhir bahagia dan seorang lelaki
yang dikutuk agar tak bisa menemukan akhir bahagia. Itu merupakan kontras
karakter yang luar biasa.
Perbedaan karkater tersebutlah
yang, menurutku, menggerakkan cerita. Beberapa bagian awal cerita adalah ketika
Evangeline hilang ingatan, dan bagian itu terasa lambat (akan kubahas lebih
jauh nanti). Namun sesudahnya, cerita berjalan lebih cepat dan tak banyak
drama. (Spoiler alert) ketika Evangeline mengingat Jacks kembali, dia
langsung berusaha semaksimalnya untuk meyakinkan pria tersebut bahwa mereka
punya kesempatan. Honestly, walau aku selalu menganggap Evangeline
terlalu polos, aku kagum pada kegigihannya mengejar cinta sejati. Baik dirinya
maupun Jacks sama-sama rela bertindak sejauh itu untuk cinta sejati.
Selanjutnya, hal lain yang menjadi
keunggulan novel ini adalah gaya penulisan Stephanie Garber. Tak perlu
dipungkiri lagi, Stephanie Garber memiliki gaya narasi yang khas, yang mampu
menimbulkan kesan magis pada kalimat-kalimat yang ditulisnya. Oleh karenanya,
cerita ini terasa seperti sebuah dongeng yang kelam, yang memikat sekaligus
menakutkan.
Kelemahan
Sepertinya, ini kali pertama aku
memulai reviu dengan menulis bagian kelemahannya terlebih dahulu. Iya, bagian kelemahan
ini kutulis lebih dulu daripada bagian kelebihan di atas. Alasannya adalah buku
ini agak mengecewakan dibandingkan dua buku sebelumnya dalam trilogi ini. Namun
hey, aku bilang begini supaya kalian menurunkan ekspektasi, bukan supaya kalian
tidak membaca trilogi ini sama sekali. Bagaimanapun, memang kisah Evangeline
dan Jacks bagus sekali—salah satu kisah paling mengagumkan dari Utara Agung—tetapi
masih ada kelemahan-kelemahan yang kurasakan.
Buku ini diawali dengan
Evangeline yang kehilangan ingatan berkat ulah Apollo. Maka dari itu, kita
kembali ke titik awal. Evangeline tidak mengenal Jacks sama sekali sehingga
interaksi mereka kembali kaku dan canggung. Aku geregetan sekali melihat mereka
sebab salah satu daya tarik serial buku ini adalah tarik ulur mereka berdua,
tetapi itu tidak ada di buku ini. Dahulu, Jacks selalu menggoda dan
mempermainkan Evangeline—itulah yang membuat interaksi mereka terasa seru;
tetapi di buku ini itu dihilangkan.
Selain itu, karena Evangeline
hilang ingatan, ada beberapa adegan yang sifatnya diulang kembali. Beberapa
adegan mengulang buku-buku sebelumnya. Sebenarnya, itu adalah hal biasa dalam
sebuah kisah berseri, yaitu pada cerita terakhir, ada beberapa adegan yang
mirip dengan cerita-cerita sebelumnya supaya pembaca mengingat kembali
cerita-cerita sebelumnya tersebut serta agar dapat melihat perkembangan para
tokohnya setelah perjalanan panjang mereka. Akan tetapi, karena pengulangan ini
terjadi ketika Evangeline dan Jacks bersikap tidak saling kenal, alih-alih
perkembangan, yang dirasakan olehku adalah kemunduran. Hubungan keduanya
kembali ke titik nol, dan terasa makin mundur—setidaknya, di sektiar 100
halaman pertama.
Kemudian, yang mengecewakan
sekali adalah para tokoh pendukungnya. Entah bagaimana, setiap tokoh pendukung
dalam trilogi ini satu per satu hilang dari buku ke buku. Sebelumnya dalam
trilogi ini, ada tokoh Marisol dan Luc, saudari tiri dan mantan pacar
Evangeline. Akan tetapi, keduanya hilang begitu saja, tanpa ada kejelasan nasib
mereka. Selain itu, tokoh seperti Kaos dan LaLa, walaupun muncul di A Curse
for True Love, tak mendapatkan akhir yang memuaskan. Rasanya cerita mereka
belum selesai di buku ini. Atau mungkin itu memang disengaja? Bagaimanapun, itu
tetap menjadi kelemahan bagi cerita ini.
Kelemahan berikutnya adalah
penggunaan kutukan kisah yang berlebihan oleh Stephanie Garber. Kutukan kisah
memang mampu membuka peluang untuk menyisipkan plot twist sebab kutukan
kisah dalam semesta ini mampu memuntir kebenaran suatu cerita sehingga
terdengar seperti dongeng. Diceritakan bahwa kisah-kisah dari Utara Agung
dikutuk sehingga kebenarannya selalu bercampur dengan kebohongan, membuat
sejarah dan mitos tak dapat dibedakan.
Ternyata, (spoiler alert)
kisah tentang kutukan cinta sejati, alias kutukan sang pemanah, yang dialami Jacks
juga terkena kutukan kisah sehingga versi asli kisah tentang kutukan tersebut
tak sesuai aslinya. Yang menjadi masalah adalah kisah tentang cinta sejati
Jacks sudah disebutkan sejak lama, sejak di trilogi Caraval, sehingga
kisah tersebut sudah melekat sekali bagi pembaca. Lantas, mengapa mengubah
cerita yang sudah established sebelumnya? Maksudku, selama ini
pembaca pahamnya bahwa ciuman Jacks mematikan kecuali bagi cinta sejatinya,
tetapi lalu itu dijadikan plot twist yang malah terasa memaksakan.
Menurutku, tanpa plot twist tersebut pun ceritanya tetap akan berakhir
luar biasa.
Kesimpulan
A Curse for True Love bisa dibilang bukan buku terbaik dari trilogi Once Upon A Broken Heart, tetapi ia merupakan cerita penutup yang layak. Walaupun kita kembali ke titik awal sebab Evangeline kehilangan ingatan, perkembangan cerita setelahnya terasa mendebarkan dan membuat gereget. Siapapun yang mengikuti kisah mereka, pasti akan merasa deg-degan, senang, sedih, serta lega membaca buku ini. Apalagi kontras karakter antara Evangeline dan Jacks—itulah daya tarik yang paling kusukai dari cerita ini. Meskipun plot twist-nya agak memaksakan dan para tokoh pendukungnya kurang disorot, cerita yang bagai dongeng kelam tentang cinta dan kutukan ini tetaplah sebuah kisah romantasy yang patut dibaca. Aku berikan skor 8,9/10 untuk buku ini, dan sejujurnya, walau ini bukan buku yang paling bagus, aku tak keberatan apabila ada cerita-cerita lain dari Evangeline dan Jacks!
Sebelumnya (The Ballad of Never After)
Komentar
Posting Komentar