Aru Shah and the City of Gold: Petualangan Menuju Kota Emas yang Penuh Kisah dan Pembelajaran Bersama Saudari Misterius

Identitas Buku

Judul

:

Aru Shah and the City of Gold

Penulis

:

Roshani Chokshi

Penerjemah

:

Reni Indardini, Yuli Pritania

Penerbit

:

Noura Books (PT Mizan Publika)

Tahun terbit

:

2025

Cetakan

:

I

Tebal

:

476 halaman

ISBN

:

9786232424715

Genre

:

Fantasi kontemporer, high fantasy, mitologis, petualangan, coming of age, middle-grade

 

Tentang Penulis

Roshani Chokshi adalah seorang penulis cerita anak dan remaja serta buku-buku best-seller dari New York Times. Dia lahir pada tanggal 14 Februari 1991. Ayahnya berasal dari India dan ibunya dari Filipina. Sejak kecil, dia tumbuh mendengarkan kisah-kisah mitologi Hindu yang menjadi inspirasinya dalam menulis novel. Dia bahkan berkata bahwa dia memelihara seekor naga yang tampak seperti anjing great pyrenees.

Novel pertamanya, yang berjudul The Star-Touched Queen (2016), ditulisnya ketika dia sedang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Georgia. Setelah itu, dia meninggalkan kuliahnya untuk fokus mengejar karier sebagai penulis. Dia mengaku banyak terinspirasi dari penulis Neil Gaiman.

Roshani Chokshi menuliskan novel keduanya, A Crown of Wishes (2017), lalu menulis serial Pandawa yang dibawahi oleh label Rick Riordan Presents. Pada April 2018, Paramount Pictures telah memperoleh hak film atas buku pertamanya dari serial itu, Aru Shah and The End of Time (2018). Judul-judul lainnya dalam serial tersebut adalah Aru Shah and the Song of Death (2019), Aru Shah and the Tree of Wishes (2020), Aru Shah and the City of Gold (2021), dan Aru Shah and the Nectar of Immortality (2022). Di samping seri Pandawa tersebut, Roshani Chokshi juga menulis buku The Spirit Glass (2023)—sebuah novel fantasi yang terinspirasi dari mitologi Filipina—yang juga dibawahi label Rick Riordan Presents.

Selain seri Pandawa, Roshani Chokshi juga menulis serial The Gilded Wolves, yang terdiri atas The Gilded Wolves (2019), The Silvered Serpents (2020), dan The Bronzed Beasts (2021). Selain novel-novel berseri, salah satu karya populernya yang lain adalah The Last Tale of the Flower Bride (2023).

 

Sinopsis

Aru Shah (kanan), reinkarnasi Arjuna,
dan Aiden Acharya (kiri), reinkarnasi Draupadi

Aru terbangun di suatu kamar yang aneh. Aru baru saja membuat permohonan di Pohon Permohonan, Kalpawreksa, tetapi dia tidak bisa mengingat apa permohonannya. Di sampingnya, ada seorang gadis—cantik dan tampak familier—yang mengaku sebagai putri sang Penidur. Walaupun tak bisa mengingat apa permohonannya, dia cukup yakin dia tidak meminta saudari baru. Aru harus segera keluar dari tempat itu dan kembali ke saudari-saudari Pandawa-nya.

Di saat yang sama, pasukan sang Penidur sedang berderap ke Lanka, Kota Emas. Ada suatu senjata sakti di kota tersebut yang diinginkan sang Penidur. Aru dan para Pandawa harus mencegahnya.

Kubera, Dewa Kekayaan dan Harta Karun
dan Penguasa Lanka

Mereka harus tiba di Lanka lebih dulu untuk membebaskan mentor mereka, Urwasi dan Hanoman, serta bertemu dengan Kubera, Dewa Kekayaan dan Harta Karun dan Penguasa Lanka, agar sang dewa mau memberi mereka kuasa atas pasukan paling kuat di dunia. Akan tetapi, Kubera hanya akan melakukannya apabila Aru dan kawan-kawan—termasuk saudari msiterius yang tak dia harapkan itu—mampu menyelesaikan ujian yang diberikannya. Sayangnya, tanpa pasukan tersebut, mustahil mereka bisa menghadapi pasukan sang Penidur.

Tak ada opsi lain bagi mereka selain mencoba. Namun, semakin lama Aru berusaha, semakin hatinya goyah untuk berpartisipasi dalam perang antara para batara-batari dan demon. Apalagi, orang-orang dewasa yang dia percaya, yang mengaku mereka menyayangi Aru, telah mengecewakannya.

Mereka yang disebut pahlawan tak sepenuhnya baik, dan mereka yang disebut penjahat tak sepenuhnya buruk. Jika seperti itu, kepada siapa Aru harus berpihak dan untuk siapa dia bertarung?

 

Kelebihan

Akhirnya aku bisa membaca serial ini lagi! Terakhir aku membaca buku Aru Shah and the Tree of Wishes (baca reviunya di sini) itu tahun 2022. Kemudian, sekuelnya yang versi bahasa Indonesia baru terbit di tahun 2025 dan akhirnya berkesempatan untuk kubaca di tahun 2026. Itu berarti ada jeda empat tahun. Lumayan lama—tidak heran banyak detail yang terlupakan olehku.

Secara keseluruhan, buku ini seru dan recommended. Pertama, aku suka dengan bagaimana cara ceritanya dimulai, yaitu ketika (spoiler alert) Aru terbangun di markasnya sang Penidur dan mendapati ada anak perempuan lain di ruangan itu yang mengaku sebagai saudarinya. Itu aneh dan bikin pembaca penasaran. Seingatku, adegan terakhir di buku ketiga itu (spoiler alert) adalah Aru dan teman-temannya sedang melawan pasukan Penidur di dekat Pohon Kalpawreksa, lalu Aru membuat permohonan kepada pohon tersebut. Setelah itu, terus terang, aku tidak terlalu ingat—tetapi adegan epilognya sama dengan adegan pertama di buku keempat.

Kara

Ini sangat menarik karena kita mendapatkan tokoh baru, namanya Kara. Kehadiran Kara memberi warna baru bagi kelompok Pandawa karena latar belakang Kara sangat misterius. Kara sendiri bahkan tidak ingat karena ingatannya dihapus oleh sang Penidur. Sementara itu, Kara juga kesulitan untuk diterima di kelompok Pandawa karena dicurigai sebagai antek-antek musuh dan Aru selalu merasa tersaingi oleh Kara yang lebih cantik. Well, lagi-lagi karakter Aru menjadi menyebalkan, tetapi tetap menarik—dan sedikit mengingatkanku pada karakter Devi dari serial Never Have I Ever di Netflix. Dan terlepas dari konflik yang ditimbulkan oleh karakterisasinya, Kara sangat jago bertarung dan memiliki senjata yang keren.

Kembali ke Aru Shah, walaupun aku agak jengkel dan beberapa kali memutar bola mata melihat sikapnya, aku sedikit banyak berismpati kepadanya. Di buku terakhir, dia mendapati bahwa ibunya dan mentor-mentornya membuat tindakan-tindakan yang membuat situasi di masa sekarang pelik. Bahkan Boo, mentor yang paling dia sayang, mengkhianatinya dan teman-temannya. Bagi remaja seperti Aru, aku pikir itu semua too much. Tak heran sepanjang petualangan ini, dia selalu mempertanyakan segalanya. Kasihan Aru.

Mini Kapoor (kiri), reinkarnasi Yudhistira,
dan Brynne Rao (kanan) reinkarnasi Bima

Di sisi lain, ada Brynne yang tampil menonjol karena ada satu bab khusus untuknya. Bab tersebut diceritakan dari perspektif Brynne, yang menurutku pribadi, berhasil mengelevasi karakternya. Aku teringat novel Babel karya R.F. Kuang—di dalam novel tersebut, cerita utamanya disampaikan dari sudut pandang tokoh utama bernama Robin, tetapi ada bab-bab khusus yang diceritakan dari sudut pandang teman-teman terdekat Robin. Sudut pandang-sudut pandang tersebut, walau hanya tiga bab, berhasil memberikan pendalaman karakter yang luar biasa—menambah layer cerita hingga menjadi lebih kompleks dan seru. Itulah yang juga terjadi di novel ini ketika ada bab yang diceritakan dari sudut pandang Brynne.

Kemudian, mungkin bagi yang familier dengan kisah-kisah mitologi Hindu atau pewayangan Jawa, kalian sudah menebak bahwa petualangan Aru dkk kali ini akan banyak mengambil referensi dari wiracarita Ramayana. Sedikit informasi, Kota Emas Lanka—yang menjadi latar cerita ini—paling terkenal, salah satunya, dari cerita Ramayana. Bahkan, sampul buku ini menampilkan Rahwana—antagonis dalam cerita Ramayana—yang dahulu pernah menjadi penguasa Lanka, dengan menyingkirkan Kubera, saudaranya. Referensi-referensi dari kisah Ramayana tersebut membuat cerita ini menarik karena aku pribadi jadi bisa memperdalam pengetahuan tentang Ramayana—tidak hanya tentang Rama, Sinta, Rahwana, dan Hanoman saja, tetapi juga tokoh-tokoh lain yang jarang disebut dalam kisah tersebut.

Dalam petualangan ini, Aru dkk bertemu banyak tokoh dari mitologi Hindu. Dalam perjalanannya, Aru dkk harus menghadapi ujian Kubera, Dewa Kekayaan dan Harta Karun. Dalam ujian-ujian tersebut, Aru dkk menghadapi berbagai tantangan, bertemu tokoh-tokoh hebat dan belajar dari kisah-kisah mereka, lalu bertumbuh sebagai seorang pribadi.

Salah satu yang paling berkesan bagiku adalah Ratu Tara, seorang apsari (kaum bidadari kahyangan) yang menjadi ratu bangsa wanara, manusia setengah monyet. Karena kehilangan yang dialaminya dan kekacauan yang dialami kerajaannya, Ratu Tara tak dapat beranjak dari duka. Kara bahkan bilang bahwa hidup yang seperti itu adalah hidup bagai hantu—yang mengingatkanku pada serial novel Lockwood & co. karya Jonathan Stroud, yang juga pernah mengungkapkan hal serupa: bahwa hantu-hantu terjebak di masa lalu, tak dapat bergerak maju ke masa depan. Mungkin, yang membuat pertemuan Aru dkk dengan Ratu Tara menarik bagiku adalah pesan tersiratnya: bahwa duka dapat membuat seseorang kehilangan arah untuk maju, membuat mereka terjebak dalam masa lalu, seolah semua berhenti.

Pertemuan lain yang membuatku tertarik adalah ketika Aru dkk bertemu Tanutka. Well, to be honest, aku tidak yakin Tanutka ada dalam mitologi Hindu—bisa jadi dia adalah tokoh orisinal karangan Rokshani Chokshi. Namun, intinya, dalam petualangan ini Aru bertemu dengannya dan belajar sesuatu yang menurutku cukup menohok. Kisah Tanutka mengajari Aru dkk agar tidak menilai orang dari penampilan mereka. Jangan karena seseorang tampak seperti pengemis miskin, kita jadi memandang rendah mereka; sekalipun kita tidak mengusir atau menghardik mereka, tetap salah apabila kita bahkan tidak mau melihat langsung ke mata mereka. Itu, bagiku pribadi, menohok karena masih sering kulakukan, padahal itu menunjukkan kecongkakan.

Kemudian, tokoh ketiga yang ditemui Aru yang membuatku terkesan adalah Sikhandi. Sikhandi adalah reinkarnasi Putri Amba—keduanya muncul dalam wiracarita Mahabharata. Yang membuatku tertegun dari kisahnya adalah bahwa dendam, kebencian, dan kekerasan takkan pernah memberikan kepuasan hati. Justru, ia bagaikan api yang tak pernah berhenti menghanguskan apapun, hingga diri kita sendiri habis menjadi abu. Bagi Aru yang tengah gundah dan merasa kecewa karena orang-orang dewasa di sekelilingnya, pembelajaran tersebut sangat relatable. Aru bisa saja membenci mereka terus-menerus karena mereka menegcewakannya, tetapi sejatinya itu takkan pernah memuaskan hatinya dan suatu saat akan menghancurkan dirinya.

Hal lain yang membuat cerita ini terasa bagus adalah gaya narasi Roshani Chokshi, terutama dalam deskripsi. Aku selalu terpukau dengan cara Roshani Chokshi mendeskripsikan tempat-tempat magis dalam buku-bukunya. Di buku ini, aku dapat membayangkan kerajaan Kiskenda yang seolah terjebak dalam masa lalu, kerajaan Lanka yang berkilauan dan riuh, sampai istana Dewa Matahari Surya yang megah. Dalam hal deskripsi, menurutku Roshani Chokshi memiliki keunggulan untuk memukau pembacanya.

Selanjutnya, aku suka dengan pertarungan yang terjadi di babak puncak. Aku teringat pada Pertempuran Labirin di novel The Battle of Labyrinth karya Rick Riordan (buku keempat seri Percy Jackson and the Olympians). Aku tidak akan bicara banyak soal pertempuran tersebut, tapi yang pasti itu pertempuran yang epik dan emosional. Setelah Aru dkk powered up sewaktu menjalani ujian Kubera, kekuatan mereka makin keren saja. Kalian harus baca sendiri supaya tahu.

Namun, yang kusenang dari pertempuran ini adalah bahwa bukan pertempuran itu sendiri yang menjadi intinya. Roshani Chokshi menjadikan pertempuran ini sebagai momen bagi Aru dan yang lainnya untuk belajar. Sepanjang perjalanan untuk mempersiapkan pertempuran ini, mereka belajar banyak dari orang-orang yang mereka temui, lalu bahkan, dalam pertempuran ini pun mereka belajar juga. Mereka belajar arti kebersamaan, persaudaraan, dan berjuang demi hal-hal yang benar-benar berharga. Aku salut dengan perkembangan karakter mereka—keren!

Terakhir, babak akhir buku ini sangat sangat tidak terduga. Aku pikir segalanya sudah selesai, dan bisa dibilang berakhir baik. Aku memang menduga tidak akan berakhir sebaik itu, tetapi aku juga tidak menyangka bahwa akhirnya lebih buruk dari yang kuantisipasikan. Siapapun yang membaca buku ini tak mungkin bisa diam dan menunggu untuk membaca kelanjutannya. Pasti akan penasaran. Good job banget sih Roshani Chokshi.

 

Kelemahan

Meskipun aku suka dengan buku ini, tetapi aku masih memiliki kritik untuknya. Secara umum, dibanding ketiga buku sebelumnya, buku ini ada di peringkat ketiga. Yang pertama adalah Aru Shah and the Song of Death (buku kedua), lalu Aru Shah and the End of Time (buku pertama), lalu buku ini, dan terakhir adalah Aru Shah and the Tree of Wishes (buku ketiga).

Kritik pertamaku adalah soal pattern ujian Kubera. Sebelum memulai ujian tersebut, Aru dkk terlebih dulu bertemu Ratu Tara dan bangsa Wanara di Kiskenda. Mereka mendengarkan kisah sang ratu dan belajar darinya. Aku agak kecewa karena pattern tersebut berulang di tiap ujian Kubera. Lama-lama, jadi membosankan. Makanya, di ujian terakhir, aku tidak terkesan dengan karakter yang mereka temui dan kisahnya.

Kemudian, sesuai sampulnya, Aru dkk harus bertarung melawan Rahwana. Namun, pertarungan mereka mengecewakan. Bagaimanapun, Rahwana adalah sosok jahat yang sangat menyeramkan dan kuat dalam wiracarita Ramayana. Akan tetapi, dalam novel ini, Rahwana tampak terlalu mudah dikalahkan. Sekalipun ia mungkin bukan Rahwana sungguhan yang dilawan Rama, aku tetap kecewa. Seharusnya Rahwana-nya disimpan untuk pertempuran di babak puncak saja.

Kelemahan yang berikutnya adalah selain cerita dari sudut pandang Aru, hanya ada satu bab dari sudut pandang Brynne. Begini, aku suka dengan keberadaan babnya Brynne—treatment tersebut mirip yang ada di novel Babel-nya R.F. Kuang. Namun, di Babel, ketiga teman terdekatnya tokoh utama memiliki bab masing-masing, walaupun hanya satu bab. Namun, di novel ini hanya ada babnya Brynne selain bab-babnya Aru. Aku berharap ada babnya Mini, Aiden, dan Kara—bahkan Rudy. Padahal, mereka memiliki konflik sendiri-sendiri yang kalau digali lebih dalam, pasti akan memperkaya nuansa cerita ini. Sayang banget Roshani Chokshi tidak melakukannya.

 

Kesimpulan

Aru Shah and the City of Gold adalah novel yang fantasy-middle grade yang seru dan penuh pembelajaran. Menurutku, novel ini, terkhususnya buku yang ini, akan relatable dengan anak-anak di Indonesia karena banyak mengambil referensi dari wiracarita Ramayana yang populer di Indonesia. Sambil membaca petualangan seru, kita jadi bisa memperdalam pengetahuan tentang kisah-kisah tersebut. Namun, lebih dari itu, ada banyak pembelajaran menarik yang dapat dipetik dari tokoh-tokoh yang ditemui Aru dkk—mulai dari tentang melanjutkan hidup, merelakan dendam dan kebencian, bahaya kecongkakan, sampai tentang hal-hal yang benar-benar berharga bagi kita. Meskipun pattern ceritanya lumayan repetitif, aku tetap dapat menikmati cerita ini. Apalagi, kehadiran tokoh baru yang misterius dan mencurigakan akan membuat pembaca penasaran sampai akhir. Namun, jangan cepat lega dengan akhir cerita ini karena akan ada kejutan yang sangat wadidaw

Aku memberikan skor 8,9/10 untuk novel ini. Aku tidak sabar membaca kelanjutannya karena akhir ceritanya lumayan menggantung. Aku sangat merekomendasikan buku ini untuk memperkaya referensi kultural bacaan fiksi kalian. Kurasa, buku ini sangat cocok untuk siapapun penggemar cerita fantasi. Baiklah, sampai berjumpa di reviu buku Aru Shah and the Nectar of Immortality ya!


Sebelumnya (Aru Shah and the Tree of Wishes)

Selanjutnya (Aru Shah and the Nectar of Immortality)

***

Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!

Komentar