Wake Up Dead Man: Pembunuhan, Iman, dan Pengakuan—Sebuah Film Misteri Pembunuhan Ruang Tertutup yang Melibatkan Kepercayaan

Identitas Film

Judul

:

Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery

Sutradara

:

Rian Johnson

Produser

:

Ram Bergman, Rian Johnson

Tanggal rilis

:

12 Desember 2025

Rumah produksi

:

T-Streets Productions, Ram Bergman Productions

Penulis naskah

:

Rian Johnson

Durasi tayang

:

2 jam 24 menit

Pemeran

:

Daniel Craig, Josh O’Connor, Josh Brolin, Glenn Close, Mila Kunis, Jeremy Renner, Kerry Washington, Andrew Scott, Cailee Spaeny, Daryl McCormack, Thomas Haden Church

Genre

:

Whodunit, dark comedy, drama, thriller, crime

 

Sinopsis

Jud Duplencity (Josh O’Connor) adalah seorang pendeta yang baru saja ditempatkan di sebuah Gereja Our Lady of Perpetual Fortitude yang terletak di pinggiran kota New York sebagai asisten pastor. Gereja tersebut dipimpin oleh Monsinyur Jefferson Wicks (Josh Brolin)—dan kebetulan, gereja tersebut juga dibangun oleh kakek sang Monsinyur.

Akan tetapi, Pendeta Jud merasa ada yang aneh dengan gereja tersebut. Gereja tersebut memiliki sejarah yang kontroversial dan jemaat yang cenderung aneh. Ditambah lagi, Monsinyur Wicks menyebarkan ajaran yang mengarah ke hal-hal ekstrem yang kerap membuat banyak jemaat tidak nyaman dan meninggalkan gereja. Namun, ketika Pendeta Jud ingin memulai perubahan pada gereja tersebut, dia harus berhadapan dengan Monsinyur Wicks beserta para jemaat setianya.

Secara tak disangka, ketika sedang memimpin misa, Monsinyur Wicks justru tewas secara misterius. Satu hal yang mereka tahu: ia dibunuh. Itu sebuah pembunuhan ruang tertutup dan hanya ada Pendeta Jud beserta para jemaat gereja yang ada di sana pada saat kejadian tersebut terjadi. Tentu saja, seluruh bukti mengarah pada Detektif Jud, satu-satunya orang yang dianggap memiliki motif untuk menyingkirkan Monsinyur Wicks.

Pada saat itulah Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig) yang tersohor masuk. Dia harus memecahkan misteri yang, menurut dirinya, mustahil—tapi itulah tantangannya. Mampukah Detektif Blanc mengungkap siapa pelakunya? Dan apakah mengungkap pelaku tersebut adalah tindakan yang tepat dilakukan?

 

Kelebihan

Franchise film Knives Out kembali dengan film ketiganya yang berjudul Wake Up Dead Man. Sebagai penyuka Knives Out, tentu aku menantikan film ketiganya ini, meskipun aku sedikit kecewa dengan film keduanya—Glass Onion (baca reviunya di sini)—yang kualitasnya menurun daripada film pertamanya. Namun, hei, Wake Up Dead Man hadir sebagai penebusan atas Glass Onion. Kalian yang rindu sensasi saat menonton Knives Out akan lega ketika menonton Wake Up Dead Man.

Pertama, konsisten dengan pendekatan cerita Knives Out, Wake Up Dead Man masih bergenre whodunnit dengan sentuhan yang sama sekali berbeda daripada film-film pendahulunya. Di sini, kalian masih menemukan ada banyak tokoh dan relasi rumit di antara mereka; ada satu orang yang menjadi outsider atau orang yang tak seharusnya berada di jejaring rumit relasi tersebut, dan orang itulah yang akan menjadi tersangka kita. Dalam kasus ini, ia adalah Pendeta Jud yang baru beberapa bulan pindah ke Gereja Our Lady of Perpetual Fortitude. Kalian tentu akan senang karena rasanya franchise ini seolah kembali ke identitas asalnya.

Meskipun menggunakan pendekatan yang sama, ada sentuhan berbeda pada film ini. Ketika film dimulai, kita menyaksikan cerita yang dinarasikan Pendeta Jud, yang ternyata sudah masuk ke konfliknya. Betul, tidak terlalu banyak basa-basi, konflik utama cerita sudah terjadi di awal film dan narasi di awal seolah menjadi pengantar cerita—yang surprisingly, juga memberi berbagai lapisan terhadap kedalaman konflik utamanya tersebut.

Kedua, tema cerita yang diangkat adalah tentang keimanan dengan latar sebuah gereja—which is so interesting for me, personally. Film pertama Knives Out mengangkat tema drama keluarga dan perebutan warisan dan film keduanya mengangkat tema konflik persahabatan dan bisnis, lalu film ketiga mengangkat tema yang tak kalah dalam serta menggelitik rasa penasaran. Sebagaimana yang banyak orang tahu, sosok detektif seperti Benoit Blanc, yang hanya mempercai hal-hal empiris, pasti tidak percaya pada ajaran agama dan Tuhan. Namun, kasus pembunuhan kali ini, yang terjadi terhadap seorang monsinyur dan terjadi di gereja, pasti akan melibatkan kejadian-kejadian yang diintepretasikan sebagai keajaiban atau azab bagi kebanyakan orang—konsep yang hanya dapat dimengerti dari kacamata iman. Oleh karena itu, kasus ini seolah memiliki tantangan tersendiri bagi Detektif Blanc karena ia harus bisa menembus kaca mata iman tersebut yang dapat menutupi kebenaran atas pembunuhan ini. Actually, tantangannya bukan tentang mengungkap pelakunya, tetapi tentang menyampaikan kebenaran tersebut kepada para jemaat gereja.

Namun, apakah itu melecehkan agama, terkhususnya agama Katolik? Enggak sama sekali. Alih-alih, konflik dan pendekatan yang digunakan dalam cerita ini dapat membantu kita untuk lebih kritis dalam menerima ajaran agama. Tak semua ajaran agama dapat kita telan mentah-mentah, seperti yang terjadi pada ajaran yang dibawa Monsinyur Wicks. Selain itu, film ini juga memperlihatkan bahwa orang yang terlihat suci seperti pemuka agama yang dihormati pun tak luput dari dosa. Jadi, film ini menurutku pribadi berusaha mengingatkan kita untuk lebih kritis dalam beragama.

Ketiga, selain tentang tema keimanan tersebut, hal yang kusukai dari film ini adalah aspek-aspek teknisnya. Salah satu aspek teknis paling menarik dari film ini adalah pencahayaannya. Tata pencahayaan film ini dimainkan sedemikian rupa sehingga ia tidak sekadar menjadi elemen teknis pendukung yang mungkin terabaikan, tetapi juga turut membangun suasana cerita. Bahkan, ada adegan-adegan yang tata pencahayaannya sepenting itu—sebuah revealation moment.

Keempat, elemen komedi dalam cerita ini berhasil di-blend dengan baik. Komedinya memang tak terlalu menonjol, tetapi terasa pas untuk selingan humor dalam cerita yang mengangkat tema serius seperti keimanan. Apalagi, penempatan komedinya tepat dan tidak salah tempat.

Kelima, alur ceritanya sungguh engaging! Aku rindu film misteri yang seperti ini. Seperti yang telah kubilang di atas, ketika film dimulai kita sebanarnya sudah masuk ke dalam konflik. Terasa kita diseret masuk ke dalam urusan drama gereja dan jemaatnya yang mencurigakan, lalu langsung di-briefed tentang situasinya, kemudian diajak merunuti untaian misteri pembunuhan. Walau seolah menyeret kita sebagai penonton, aku tak merasa diseret. Di awal memang ada kebingungan “apa yang sedang terjadi”, tetapi makin lama kita rasanya makin seru dan mendebarkan. Cerita bergerak dengan pace yang tepat sehingga dapat diikuti, tetapi juga tidak dragging.

Ditambah lagi, misteri ini semakin lama semakin membuat penonton melongo. Makin ke belakang, arah ceritnya semakin membingungkan seolah ada benang kusut. Lapisan misterinya makin bertambah. Kalian mungkin sudah punya dugaan siapa pelakunya, atau bagaimana skenario pembunuhannya, tetapi karena lapisan-lapisan baru tersebut, kalian makin bingung bagaimana pembuktiannya.

Keenam, aku mengapresiasi pesan-pesan tentang beragama yang coba disampaikan film ini. Di awal film, kita diceritakan tentang sosok Grace, ibu dari Monsinyur Wicks yang sangat tidak beriman, kalau memakai standar umum. Namun, menurutku Grace menjadi simbol kebencian institusi agama terhadap perempuan. Grace bukanlah tipikal perempuan yang taat agama, sekalipun orang tuanya pendeta, dia juga bukan orang yang sepenuhnya suci dan tak berdosa; tetapi dia tak pantas untuk dikenang semua orang sebagai orang jahat. Hal tersebut seolah menjadi kritik pembuat film bahwa kerap kali, institusi agama menunjukkan sikap membenci perempuan, yang pada akhirnya memunculkan ajaran-ajaran yang ingin menundukkan perempuan serta melestarikan pandangan yang membenci perempuan yang tidak mau tunduk.

Selain Grace, Pendeta Jud mewakili karakter seseorang yang berusaha menemukan keselamatan dan kedamaian melalui imannya. Meskipun dia seorang pendeta, itu tak otomatis menjadikan dirinya suci. Dia memperlihatkan manusia rapuh akan dosa dan nafsu, tetapi juga keteguhan untuk berusaha bertahan pada apa yang ia imani. Dan aku menyukai bagaimana dia memberikan kelegaan dan kedamaian yang sama kepada orang-orang. Dosa akan lebih baik ketika diakui oleh pelakunya, ketimbang diungkap oleh orang lain. Mengakui sisi gelap dalam diri kita dapat menjadi langkah awal untuk menebusnya atau mengendalikannya. Itulah yang ditampilkan Pendeta Jud dalam film ini, sesuatu yang bahkan (spoiler alert) membuat Detektif Blanc terkesan.


Kelemahan

Biarpun film ini kembali menyuguhkan vibes film Knives Out pertama, aku pribadi belum bisa bilang ia menyamai film pertamanya. Salah satu penyebabnya adalah pendalaman karakter bagi tokoh-tokoh jemaat gerajanya masih kurang. Melihat kembali pola film Knives Out dan Glass Onion, Detektif Blanc akan menyelidiki masing-masing tersangka, yang memungkinkan pendalaman karakter untuk menambah lapisan drama. Dalam kasus film ini, para tersangka itu adalah para jemaat gereja. Namun, dalam penyelidikannya, Detektif Blanc tidak banyak menggali cerita para jemaat gereja tersebut, hanya beberapa saja. So practically, beberapa peran menurutku tak berpengaruh signifikan terhadap cerita ini.

Selain itu, aku merasa tak ada hal baru dari Detektif Blanc dalam film ini. Di film pertama, peran Detektif Blanc tentu terasa fresh. Dalam film kedua, setidaknya kita mendapat sedikit informasi soal hubungan pribadinya. Namun, di film ketiga ini tidak ada apa-apa. Ia datang untuk menyelidiki kasus, lalu pergi saat selesai. Aku pribadi merasa akan lebih bagus jika kita bisa mengeksplorasi karakter Detektif Blanc lebih dalam.

Satu kelemahan lainnya, walaupun ini kecil tapi cukup penting, adalah film ini seolah-olah dibuat dengan asumsi penontonnya  sudah paham Knives Out itu apa. Judul film ini  bisa disalah duga sebagai film horor. Kemudian, karena kita langsung diseret ke dalam cerita, yang belum pernah menonton film Knives Out atau Glass Onion mungkin akan bingung.

 

Kesimpulan

Siapa yang rindu suasana seru film Knives Out? Kalau begitu, Wake Up Dead Man dapat mengobati rindu kalian. Film ini dirangkai sedemikian rupa sehingga terasa engaging dengan pace yang tepat, walaupun penonton langsung diajak masuk ke dalam konflik sedari awal film. Seolah belajar dari kesalahan film kedua, aku merasa film ketiga ini lebih baik dalam hal tema, latar, serta teknis. Dengan memilih latar sebuah gereja tua, film ini mengangkat tema keimanan yang terasa sakral, sekaligus membingungkan ketika sudah masuk ke dalam misterinya. Walaupun beberapa tokoh tidak terasa punya kontribusi khusus terhadap cerita, lapisan-lapisan misteri dalam film ini tetap akan membuat kalian penasaran sampai akhir. Aku sedikit menyayangkan karena tak ada pendalaman karakter Detektif Blanc, tetapi detektif tersebut tetap mampu mencuri perhatian kok. Aku juga suka dengan temanya yang membahas keimanan, yang terasa unik sekaligus melegakan. Skor untuk film ini adalah 9/10, dan aku mewajibkannya untuk ditonton kalian yang penggemarnyaa Knives Out.

Wake Up Dead Man bisa kalian tonton di Netflix. Silakan tonton trailer filmnya di bawah ini ya.


***
Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post! 

Komentar