Sinners: Film Horor Bercampur Drama—Ketika Isu Rasisme Dibalut sebagai Film Vampir

Identitas Film

Judul

:

Sinners

Sutradara

:

Ryan Coogler

Produser

:

Zinzi Coogler, Sev Ohanian, Ryan Coogler

Tanggal rilis

:

18 April 2025

Rumah produksi

:

Proximity Media

Penulis naskah

:

Ryan Coogler

Durasi tayang

:

2 jam 17 menit

Pemeran

:

Michael B. Jordan, Miles Caton, Hailee Steinfeld, Jack O’Connell, Wunmi Mosaku, Jayme Lawson, Omar Benson Miller, Delroy Lindo

Genre

:

Horor supranatural, action, drama sejarah

 

Sinopsis

Di tahun 1932, sepasang saudara kembar Smoke dan Stack (Michael B. Jordan) pulang ke kampung halaman mereka, Clarksdale, Mississippi, setelah menghabiskan tujuh tahun di Chicago untuk bekerja dalam kelompok mafia the Outfit. Dengan menggunakan uang yang mereka curi dari sindikat kriminal, keduanya membeli sebuah bangunan bekas pabrik pemotongan kayu untuk dijadikan klub hiburan untuk komunitas kulit hitam. Mereka merekrut orang-orang terpercaya untuk membantu usaha mereka tersebut. Namun, pulang ke kampung halaman tidak selalu indah sebab mereka harus menghadapi kembali masa lalu pahit yang dahulu mereka tinggalkan.

Ketika bisnis mereka dibuka dan orang-orang kulit hitam berkumpul untuk bersenang-senang, nyanyian dan musik blues merdu sepupu mereka, Sammie Moore (Miles Caton), menyihir suasana. Namun, itu juga mengundang makhluk jahat mengerikan yang haus darah. Ketika malam yang menyenangkan berubah mengerikan, bagaimana si kembar menyelamatkan orang-orang yang mereka sayang?


Kelebihan

Penggemar Michael B. Jordan harus merapat untuk nonton film ini! Bagiku, Sinners adalah sebuah film horor unik dengan cerita yang emosional dan mendalam. Film ini terasa seperti memiliki dua genre, yang menjadikannya tidak biasa. Dalam durasi dua jam, separuh pertama film terasa seperti film drama sejarah yang berlatar pada masa segregasi di Amerika Serikat ketika orang kulit hitam masih didiskriminasi; lalu separuh berikutnya barulah terasa seperti genre horor, yang uniknya, dikombinasikan dengan action. Pengalaman nonton kalian akan campur aduk deh.

Pada separuh pertama film, ketika genrenya cenderung drama, kita akan melihat kembalinya Smoke dan Stack ke Clarksdale, Mississippi serta bagaimana mereka merekrut orang-orang untuk bekerja di klub yang mau mereka buat. Mereka berpencar dan mencari orang-orang tersebut. Somehow, itu terasa seperti treatment film perampokan, ketika si tokoh utama merekrut orang-orang dengan kemampuan yang diperlukan untuk agenda mereka, yang dalam kasus ini adalah membentuk klub hiburan.

Namun, bagian ini juga berfungsi sebagai build up untuk ceritanya. Pada bagian inilah kita akan melihat relasi antara tokoh-tokohnya, yang nantinya akan menjadikan konflik di separuh akhir film terasa lebih berbobot. Kita bertemu dengan Sammie, keponakannya Smoke dan Stack, yang memiliki bakat bermusik yang luar biasa; Marry (Hailee Steinfeld), mantan kekasih Stack yang keturunan campuran kulit hitam dan kulit putih; serta Annie (Wunmi Mosaku), istrinya Smoke yang sudah lama tak bertemu dengannya. Di bagian inilah kita mengenal para tokoh-tokohnya beserta kompleksitas yang mereka miliki.

Yang membuatku lebih tertarik adalah cara film ini menyajikan kompleksitas karakternya tersebut. Beberapa film akan menampilkan adegan kilas balik (flashback), yang merupakan salah satu treatment yang efektif untuk memastikan pesannya tersampaikan ke penonton, tetapi film ini tidak memilih treatment tersebut. Dalam banyak dialognya, sering disinggung tentang masa lalu Smoke dan Stack yang kelam dan buruk serta rentetan hal-hal terkaitnya yang melibatkan tokoh-tokoh lain, seperti Sammie dan Mary. Ada juga dialog antara Smoke dan Annie, istrinya, yang menyinggung alasan mereka lama tak bertemu. Dan semua itu disampaikan hanya lewat dialog, tanpa adegan kilas balik.

Itu membuat dialog dalam film ini menjadi unsur penting untuk membangun cerita. Tanpa perlu visual, rupanya kompleksitas karakter bisa disampaikan melalui dialog-dialog yang berbobot tadi. Tentu, itu juga didukung oleh akting luar biasa para pemerannya, karena tanpa mereka, dialog-dialog tersebut mungkin akan meleset. Maka dari itu, aku mengapresiasi sekali bagaimana cerita ini mampu menyajikan tokoh-tokohnya yang rumit hanya melalui percakapan mereka yang emosional.

Pada separuh awal ini pula, film ini menyampaikan isu-isu rasisme yang terjadi di Amerika Serikat pada waktu itu. Kita melihat bagaimana orang-orang kulit hitam dipekerjakan sebagai buruh perkebunan kapas beserta kesusahan-kesusahan hidup mereka. Kita juga mendengar kisah-kisah sedih komunitas kulit hitam akibat rasisme tersebut, yang sesekali juga disampaikan melalui nyanyian dan musik blues mereka. Isu tersebut pun tidak disampaikan seperti masalah politik, melainkan seperti curhatan yang terasa personal dan sedih.

Berikutnya, pada separuh terakhir film, barulah cerita menjadi horor. Aku suka alurnya yang fokus dulu pada build up cerita di awal sehingga memastikan bahwa ceritanya sudah jelas dulu, maka ketika masuk ke bagian horornya, itu bisa langsung bergulir tanpa banyak intervensi lagi. Begitu masuk ke bagian horornya, kita sudah fokus ke itu saja, tak ada banyak drama lagi sehingga ketegangannya nonstop sampai film selesai.

Sedikit informasi, elemen horor dalam film ini hadir dalam wujud makhluk supranatural, (spoiler alert) yaitu vampir yang ditampilkan sebagai manusia kulit putih. Aku rasa, itu adalah simbolisme bahwa orang kulit putih jahat dan perilaku haus darah kaum vampir menyimbolkan kerakusan orang kulit putih. Tentu itu menjadi suatu hal menarik yang mengelevasi isu rasisme dalam film ini. Apalagi, vampirnya juga bukan yang seperti binatang buas ataupun terlalu manusiawi seperti di film Twilight. Bahkan, vampirnya memiliki peraturan unik tersendiri yang menjadikan ceritanya lebih menarik karena bukan sekadar teror semata.

Dan membicarakan elemen supranaturalnya, aku senang dengan sentuhan kebudayaan syamanisme lokal yang berusaha diperlihatkan film ini. Karakter Annie, istrinya Smoke, adalah seorang ahli Hoodoo, sebuah kepercayaan yang banyak dianut budak-budak Afrika di benua Amerika yang menggabungkan unsur-unsur spiritual Afrika dengan kearifan lokal botani pribumi Amerika. Hal tersebut memang tidak dibahas secara dalam, tetapi ia penting untuk memberikan penjelasan soal elemen supranatural film ini. Bahkan, ada beberapa kejadian dalam film ini yang erat kaitannya dengan praktik Hoodoo yang dilakukan Annie, seperti jimat yang diberikannya kepada Smoke dan cara-cara melawan vampirnya.

Masih soal elemen supranaturalnya, ada adegan yang magis sekali di film ini. Aku tidak akan menceritakan adegannya apa, tapi yang pasti itu adalah adegan ketika Sammie memainkan musik blues-nya. Adegan tersebut digambarkan sebagai momennya masyarakat kulit hitam bisa menjadi bebas dan bersenang-senang serta terhubung dengan satu sama lain. Kalian akan merasakan semangat kebebasan ketika menontonnya. Selain itu, itu juga menjadi semacam momen showcasing kebudayaan tradisional dan modern masyarakat kulit hitam. Spirit kebudayaan kulit hitamnya sangat terasa pada adegan tersebut—yang dipadukan dengan musik blues, itu menjadikannya terkesan transendental.

Di samping itu, pada bagian ketika film ini fokus ke genre horor, aku pribadi tidak merasa filmnya sehoror itu, which is not a bad thing, sebab cerita horor, terutama horor supranatural, tidak harus selalu soal teror hantu gentayangan dengan jumpscare-nya ataupun teror yang dilawan dengan ilmu spiritual. Horor supranatural juga bisa dikemas seperti cerita action yang ada adegan tembak-tembakannya, seperti film ini. Oleh karena itu, aku rasa orang yang tidak suka nonton horor karena gampang takut tetap bisa menikmati film ini, begitu pula pencinta film tembak-tembakan.

Kemudian, ada satu adegan yang menyantol banget di memoriku, padahal bukan adegan yang penting, tetapi berkat penyutradaraannya yang apik, itu menjadi sangat berkesan. Yang kumaksud adalah adegan di separuh pertama film, ketika Stack ingin menjalin kerja sama dengan Bo (Yao) dan Grace Chow (Li Jun Li), pasutri Tionghoa yang mengelola toko kelontong di lingkungan tempat tinggal mereka. Di adegan tersebut, Lisa Chow (Helena Hu), anak Bo dan Grace, pergi menghampiri Grace; dan adegan tersebut ditampilkan dengan teknik one-take shot: kamera mengikuti Lisa masuk ke toko, menghampiri ibunya, lalu Lisa pergi dan kamera beralih menyoroti Grace dan masih secara one-take. Itu adegan simple sekali, tapi menyantol di kepala karena terlihat asyik banget. Walaupun si Lisa tidak muncul lagi setelah adegan tersebut, adegan tersebut terus kuingat.

Oke, di samping itu, elemen menarik lainnya dari film tersebut adalah musiknya. Ini bukan film musikal, tetapi musik tetap menjadi elemen penting dalam ceritanya, bukan sekadar elemen teknis. Musik blues yang identik menjadi musiknya komunitas kulit hitam di Amerika menjadi jiwa dalam film ini, yang menghadirkan momen-momen emosional dan transendental. Di sisi lain, para vampir dalam film ini juga memiliki musiknya sendiri: musik country. Jadi, selain perselisihan kulit hitam vs kulit putih yang dibalut dalam perselisihan manusia vs vampir, ada juga perselisihan genre musik: blues vs country. Itu sebuah treatment yang menarik banget, karena kapan lagi kita melihat vampir beramai-ramai nyanyi lagu country? Itu juga sebuah simbolisme perbedaan budaya antara komunitas Afrika-Amerika dengan komunitas kulit putih Amerika.


Kelemahan

Mungkin, kelemahan cerita ini salah satunya di build up ceritanya ya. Aku paham bahwa build up cerita ini sangat ingin diset sedemikian rupa agar matang dulu sebelum cerita beralih ke horor, tetapi aku pribadi merasa ada bagian-bagian yang terasa kelamaan. Akibatnya, durasi film terlalu banyak habis di bagian dramanya dan ketika masuk ke bagian horornya, cerita berlalu agak terlalu cepat. Padahal, aku rasa jika durasi bagian horornya ditambah, pacing penceritaannya bisa lebih bagus untuk meningkatkan suspense-nya.

Selain itu, aku juga merasa adegan puncaknya ketika mereka melawan pasukan vampir itu agak memble. Tetap seru, tetapi aku yakin bisa lebih bagus daripada itu. Aku merasa pertarungannya berlalu cepat, tetapi tak ada adegan yang berkesan. Padahal, ada adegan-adegan yang potensial untuk dibuat lebih emosional. Akibatnya, cerita berlalu begitu saja dan tidak memberi kesan mendalam di benak penonton, meskipun build up-nya sudah bagus.

 

Kesimpulan

Sinners adalah sebuah film horor vampir yang tak seperti kebanyakan film horor. Film ini seperti memiliki dua genre: drama dan horor. Pada bagian dramanya, kita tak hanya melihat kompleksitas relasi antartokohnya beserta konflik batin mereka, tetapi juga diskriminasi dan ketidakadilan yang dialami komunitas kulit hitam pada tahun 1930-an. Yang luar biasa adalah itu banyak disampaikan hanya melalui dialog-dialog yang sarat emosi. Pada bagian horornya, kita akan melihat keseruan manusai vs vampir yang terasa seperti film action, tetapi masih dengan sentuhan elemen supranatural Hoodoo. Akan tetapi, bagian tersebut terasa terlalu cepat berlalu dan kurang memberikan kesan yang bermakna. Meskipun begitu, itu tertolong oleh musik blues-nya yang indah dan menyayat hati serta kualitas akting tokohnya yang mampu menyampaikan emosi melalui dialog. Oleh sebab itu, aku memberikan skor 8,8/10 untuk Sinners. Ini adalah film horor yang bisa ditonton semua orang (yang sudah cukup umur, tentu saja), bahkan mereka yang biasanya mudah takut saat menonton film horor. 

***

Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post! 

Komentar