Tujuh Kelana: Novel Petualangan-Fantasi Lokal dari Wattpad Ternyata Bisa Sekeren Ini!

Identitas Buku

Judul

:

Tujuh Kelana

Penulis

:

Nellaneva

Penerbit

:

Elex Media Komputindo

Tahun terbit

:

2024

Cetakan

:

I

Tebal

:

356 halaman

ISBN

:

9786230019142

ASIN

:

B0DVFGN8RM

Genre

:

Petualangan, fantasi kontemporer, action, romantis

 

Tentang Penulis

Nellaneva adalah seorang penulis yang biasa menulis di platform Wattpad. Dia menulis untuk mengisi waktu luangnya. Seluruh novelnya yang telah dicetak juga awalnya terbit di Wattpad dulu. Beberapa novel karyanya yang sudah terbit sebagai novel cetak adalah sebagai berikut: Dharitri (2017), Resilience: Remi’s Rebellion (2018), Palagan Nusantara (2019) Tujuh Kelana (2020), Ranah Pusaka (2021), dan Alamanda (2022). Selain itu, ia juga menulis buku antologi puisi berjudul Tugas Puisi untuk Manusia (2022). Kalian dapat mengikuti Nellaneva di akun Instagramnya @nellaneva.books dan membaca karya lainnya di aplikasi Wattpad.

 

Sinopsis

Zarra Mediana tidak mengerti apa yang terjadi. Malam itu, di rumahnya ada dua penyusup yang saling bertarung. Mereka tengah memperebutkan permata merah yang telah lama menjadi milik kakeknya. Salah satu dari penyusup itu, bernama Alto Rialtiorre, lalu malah menculik Zarra.

Pria misterius itu, yang sudah pasti bukan dari Indonesia, mengatakan bahwa permata tersebut merupakan satu dari tujuh fragmen kunci dari sebuah gerbang kuno yang telah dijaga oleh kaumnya selama berabad-abad. Kaum yang dimaksud adalah Kaum Pelindung, ras manusia yang berumur sangat panjang—hingga ratusan tahun—yang telah lama hidup di bumi dalam persembunyian, beriringan dengan manusia. Kaum pelindung tersebut memiliki kemampuan supranatural dan sihir—yang menjadi inspirasi berbagai kisah mitos dan legenda umat manusia.

Menurut Alto, sudah ratusan tahun kaumnya menjaga gerbang misterius itu. Untuk membukanya, dibutuhkan tujuh fragmen kunci yang sudah lama hilang dan tersebar di pelosok-pelosok dunia. Namun, tiba-tiba para pemimpin Kaum Pelindung mendapati bahwa salah satu fragmen kunci tersebut aktif, yakni batu permata di rumah Zarra. Dan fragmen kunci tersebut aktif setelah disentuh oleh Zarra.

Zarra tak tahu apa-apa soal fragmen kunci dan Kaum Pelindung. Dia juga tidak tahu mengapa batu tersebut bersinar ketika disentuhnya. Namun, itu menjadi permulaan semuanya sebab kejadian tersebut memicu aktifnya fragmen-fragmen kunci yang lain.

Zarra, Alto, bersama seluruh Kaum Pelindung lainnya harus menemukan ketujuh fragmen kunci tersebut sebelum didului oleh para pengkhianat—musuh Kaum Pelindung—yang mengincar kekuatan luar biasa di balik gerbang misterius. Ini merupakan awal kelana-kelana hebat Zarra, tetapi akankah ia bisa selamat dari kelana satu ini serta mengumpulkan ketujuh fragmen kunci?

 

Kelebihan

Aku excited sekali membaca Tujuh Kelana, karena jarang aku membaca buku fantasi oleh penulis Indonesia. Kayaknya, aku hanya pernah membaca serial Bumi-nya Tere Liye dan Supernova-nya Dee Lestari—selain itu, tidak. Makanya, aku senang bisa membaca Tujuh Kelana, yang adalah buku petualangan-fantasi oleh penulis baru Indonesia dan merupakan buku stand-alone. Oh iya, sedikit informasi tambahan, Tujuh Kelana ini mulanya terbit di platform daring Wattpad ya (maaf kalau aku salah) sebelum diterbitkan sebagai buku cetak oleh penerbit Elex Media Komputindo.

Pertama-tama, aku tertarik dengan worldbuilding-nya. Buku ini bergenre fantasi kontemporer, yang berarti elemen fantasinya dipadukan dengan realitas dunia modern saat ini. Dalam buku ini, kita akan diajak bertualang ke berbagai tempat di dunia—Indonesia dan Eropa—yang menjadi tempat-tempat keberadaan fragmen kunci. Menurutku, cara penulis mem-blend elemen fantasi dan elemen dunia modernnya sudah termasuk oke. Selain itu, bagiku pribadi juga terasa seru karena aku diajak jalan-jalan ke berbagai tempat fragmen kunci tersebut.

Kemudian, aku ingin sedikit menjelaskan worldbuilding-nya, maka ini akan menjadi big spoiler ya. Dalam buku ini, diceritakan ada Kaum Pelindung yang merupakan ras manusia yang menua secara lambat—sampai bisa hidup ratusan hingga ribuan tahun—serta memiliki kemampuan supranatural yang berbeda-beda tergantung klannya. Klan tersebut dibagi menjadi dua kategori: Fighter dan Enchanter—itu pengelompokan paling umumnya, by the way. Namun, kedua kelompok tersebut masih terdiri atas beberapa klan lagi. Kelompok Fighter terdiri atas klan Swordsmaster, Paladin, Assassin, Archer, dan Phalanx; sementara kelompok Enchanter terdiri atas Cleric, Sorcerer, Warlock, dan Wizard. Di antara klan-klan tersebut, ada dua klan yang berkhianat—Phalanx dan Warlock—merekalah yang disebut para pengkhianat. Dan cerita ini akan berpusar pada perlombaan menemukan fragmen kunci di antara kaum pelindung dan para pengkhianat ini.

Yang aku suka adalah pengelompokan klannya. Klan-klan tersebut diambil dari beberapa sosok/kelompok/organisasi/sekte fiksi yang masih populer sampai saat ini. Sebagai contoh, Alto Rialtiorre  berasal dari klan Assassin. Namun, Assassin tersebut tidak sama dengan sosok assassin yang selama ini ada di pikiran orang-orang ataupun dalam sejarah. Assassin dalam cerita ini adalah salah satu klan Kaum Pelindung, bukan sebuah perkumpulan atau sekte pembunuh yang melancarkan aksinya dengan mengendap-endap. Di dalam buku, penulis justru bilang bahwa gagasan tentang assassin yang umum diketahui tersebut sebenarnya berasal pemahaman manusia biasa tentang klan Assassin Kaum Pelindung. Itu cukup menarik sebab menunjukkan bahwa keberadaan kaum pelindung ternyata sudah lama diketahui manusia, tetapi hanya dianggap mitos belaka.

Aspek lain dari worldbuilding-nya yang membuatku teratarik adalah ide tentang fragmen kuncinya. Sebenarnya, konsep cerita yang berisi pencarian item-item seperti ini sudah ada banyak. Namun, di Indonesia sendiri itu sepertinya belum terlalu banyak—mungkin itu sebabnya Tujuh Kelana ini begitu menarik perhatian. Apalagi, dalam setiap pencarian fragmen kunci, selalu ada cerita baru, selalu ada babak baru dalam petualangan Zarra dan yang lainnya.

Aku harus memberi pujian kepada penulisnya, Nellaneva karena untuk sebuah novel yang mulanya dipublikasikan di platform daring, ini terbilang sangat bagus. Dislaimer, aku bukannya meremehkan para penulis di platform daring, tetapi dari beberapa cerita yang kubaca—dan itupun sangat sedikit dan hanya yang ramai dibicarakan—aku melihat kebanyakan ceritanya itu terlalu mengikuti demand audiens. Maksudku, banyak peristiwa, ide cerita, ataupun alur yang dibuat demi menghibur pembaca, terlalu mengikuti tren, dan malah mengabaikan orisinalitas dan keresahan penulisnya. Akan tetapi, Tujuh Kelana tidak terasa seperti itu. Memang novel ini terasa seperti ditulis penulis baru, tetapi terasa orisinal, terasa bahwa ini memang ide-ide penulisnya sendiri. Baik alur cerita, tata kalimat, ataupun pemilihan kata—semua terasa memang berasal dari Nellaneva.

Oh iya, selain petualangan, ada subplot tentang romansanya loh. Ini cocok untuk orang yang suka cerita yang ada permasalahan percintaannya sebagai subplot alih-alih plot utamanya. Aku tidak mau banyak spoiler soal ini supaya kalian baca sendiri. Namun yang pasti, subplot percintaan ini cukup bikin gemas, sedih, serta geregetan sendiri. Oh poor Zarra, kamu bisa dapat yang lebih baik sebenarnya.

Terakhir, aku suka dengan cara Nellaneva merangkai relasi antartokohnya. Ada banyak tokoh di buku ini, tetapi pusatnya ada lima: Zarra, Alto, Dion, Grenn, dan Ares. Relasi pertemanan di antara mereka asyik banget. Apalagi antara Zarra, Dion, dan Grenn yang memiliki ikatan emosional yang lebih dalam dari itu. Maka dari itu, aku bisa menikmati cerita petualangan ini karena sebuah petualangan yang tidak dilakukan bersama orang-orang tersayang pasti hambar.

             

Kelemahan

Salah satu kelemahan buku ini adalah penjelasan pembagian klan yang kurang detail. Kita tahu ada banyak klan Kaum Pelindung di buku ini dan masing-masing memiliki kemampuan unik. Akan tetapi, itu tak dijelaskan secara detail—malah terkesan selintas lalu—sehingga aku tak mengerti perbedaan antarklan. Masalahnya, sedari awal sudah disebutkan tiap klan punya kemampuan istimewa masing-masing. Mungkin penulis berasumsi bahwa semua orang pasti tahu apa itu Assassin, Cleric, Archer, dll; padahal kan tidak. Jadi, seharusnya penulis menambahkan penjelasannya.

Kemudian, menurutku, buku ini lebih fokus pada karakter Zarra, Dion, Grenn, Alto, dan Ares sampai tidak ada penjelasan yang cukup untuk para Kaum Pelindung yang lain, atau bahkan para musuhnya. Para musuh memang muncul untuk menghadang para pahlawan kita, tetapi kemunculan mereka tak cukup memorable. Aku beberapa kali lupa mereka siapa dan kemampuannya apa.

Berikutnya, dua tokoh yang menjadi pusat konfliknya adalah Zarra dan Dion, tetapi aku merasa Dion kalah pamor dari Zarra. Cerita ini memang menggunakan sudut pandang orang pertama dari Zarra, tetapi  menurutku, mengingat peran Zarra dan Dion seharusnya setara, sewajarnya mereka berdua mendapat sorotan yang sama. Mau se-insecure apapun Zarra terhadap Dion, aku melihatnya ya Dion masih replacable di cerita ini. Hanya di akhir-akhir saja akhirnya Dion benar-benar “penting”.

Selain itu, aku merasa pada beberapa bagian, dari pencarian satu fragmen kunci ke pencarian fragmen kunci yang lain, ketegangan ceritanya tidak stabil meningkat. Sebenarnya tidak apa-apa sih kalau ada “jeda istirahatnya”, tetapi kadang jeda tersebut terlalu lama sehingga aku pribadi beberapa kali tidak merasa buru-buru untuk membalik halaman. Ini sebuah PR sih bagi penulis: bisa membuat pembaca mau membalik halaman terus. Ini (kalau tidak salah) adalah buku pertamanya penulis, tetapi sekarang penulis sudah menulis banyak buku lainnya. Jadi, kuharap di buku-buku lainnya tersebut sudah lebih baik lagi.

 

Kesimpulan

Tujuh Kelana adalah sebuah kisah petualangan-fantasi oleh penulis Indonesia yang seru. Kalian akan diajak mengikuti Zarra, Alto, Dion, dan yang lainnya ke berbagai tempat di dunia untuk mencari tujuh permata sakti yang telah dijaga spesies manusia rahasia selama ratusan tahun. Kisahnya terasa orisinal banget, untuk sebuah buku oleh penulis Indonesia. Petualangannya juga mendebarkan dengan alur tak terduga. Ada subplot romansa yang mungkin akan membuatmu gemas atau kesemsem—pokoknya macam-macam rasanya. Akan tetapi, ada beberapa kekurangannya juga, seperti penjelasan worldbuilding yang belum cukup serta ketegangan cerita yang terkadang menurun. Meskipun begitu, aku masih bisa menikmati ceritanya dari awal ke akhir—tetap dibuat penasaran dengan kejutan plot yang akan muncul serta bagaimana ketujuh fragmen kunci akan terkumpul. Aku rasa buku ini akan cocok dibica oleh remaja, terutama yang suka kisah petualangan-fantasi dan lebih suka buku stand-alone.  Skorku untuk buku ini adalah 7/10.

***

Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!  

Komentar