Agensi Rumah Tangga: Film Komedi Bagus tentang ART yang Tidak Menjadikan Peran ART Cuma sebagai Figuran


Identitas Film

Judul

:

Agensi Rumah Tangga

Sutradara

:

Naya Anindita

Produser

:

Chand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar, Reza Servia

Tanggal rilis

:

10 September 2026

Rumah produksi

:

Starvision, Legacy Pictures, Vortera Studios, Navvaros

Penulis naskah

:

Ayu Anggraini (screenplay), Upi Avianto (screenplay), Almira Bastari (buku)

Durasi tayang

:

1 jam 55 menit

Pemeran

:

Enzy Storia, Fita Anggriani, Afgansyah Reza, Ardit Erwandha, Yunita Siregar, Unique Priscilla, Tike Priatnakusumah, Nada Novia, Ummi Quary, Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, Dea Panendra, Boah Sartika, Priska Baru Segu, Astrid Juwita, Nuri Zhafira, Mega Salsabila

Genre

:

Drama komedi

 

Sinopsis

Terdesak oleh tuntutan ibunya untuk menjadi ASN, Katia (Enzy Storia) yang sudah enam bulan menganggur karena terkena layoff memilih jalan yang tidak biasa. Dia memulai bisnisnya sendiri, yaitu jasa penyalur asisten rumah tangga (ART). Dia menamai bisnisnya Agensi Rumah Tangga—yang disingkat (juga) menjadi ART.

Namun, ternyata bisnis penyalur ART tidak semudah yang Katia kira. Apalagi, para calon ART yang dia rekrut memiliki kelakuan yang aneh-aneh dan bikin geleng-geleng kepala. Bagaimana Katia akan menjalankan bisnisnya dengan tetap merahasiakannya dari ibunya?

 

Kelebihan

Sampul novel Agensi
Rumah Tangga

Sedikit informasi dulu. Film Agensi Rumah Tangga ini adalah hasil adaptasi dari novel best-selling karya Almira Bastari, dengan judul yang sama. Beberapa karya Almira Bastari yang juga telah diadaptasi ke layar lebar adalah Ganjil Genap dan Home Sweet Loan. Selain itu, film ini disutradarai oleh Naya Anindita yang sebelumnya telah sukses dengan film komedi Komang (2025) dan Tunggu Aku Sukses Nanti (2026, baca reviunya di sini). Kalau kalian pernah membaca karya-karya Almira Bastari ataupun menonton hasil adapatasinya serta menonton karya garapan Naya Anindita, kurang lebih kalian sudah tahu dapat berekspektasi seperti apa untuk film Agensi Rumah Tangga ini.

Oh iya, sedikit disclaimer, aku belum pernah membaca novel Agensi Rumah Tangga ya, maka aku tidak akan membandingkannya ya.

Baiklah, apakah film Agensi Rumah Tangga itu bagus atau tidak? Let’s talk about it. Ada beberapa hal yang aku suka dari film ini, sehingga secara umum, aku dapat mengatakan bahwa ini adalah film yang bagus. Pertama, ide ceritanya fresh dan lekat dengan anak muda zaman sekarang. Tokoh utamanya, Katia, bisa dibilang adalah generasi muda—antara generasi milenial atau Z—yang mengalami hal yang dialami banyak orang segenerasinya: terkena layoff.

Seperti Katia, banyak orang yang terkena layoff alias dirumahkan. Setelah enam bulan menganggur pun Katia tidak mendapat panggilan kerja, walaupun dia telah mengirim banyak lamaran ke berbagai perusahaan. Hal tersebut merupakan potret realitas hari ini yang memang sulit untuk mencari kerja. Maka dari itu, aku rasa, sedikit banyak, orang-orang akan relate dengan premis ceritanya.

Di sisi lain, ibunya Katia memaksanya terus untuk mendaftar menjadi PNS (pegawai negeri sipil)—yang sekarang lebih dikenal dengan istilah ASN (aparatur sipil negara). Lagi-lagi, ini adalah cerminan yang sangat relatable bagi banyak orang di Indonesia. Siapa yang pernah didesak orang tuanya untuk menjadi PNS alias ASN? Pasti ada banyak, karena aku sendiri pun juga mengalaminya, hahaha. Dan seperti banyak anak muda, Katia merespons desakan orang tuanya dengan penolakan—dia tidak mau menjadi PNS, titik.

Konflik antara Katia dan ibunya tersebut menjadi menarik karena begitu relatable bagi banyak orang. Klasik, tapi menarik. Di satu sisi, ibunya Katia memang hanya ingin Katia memiliki pekerjaan yang pasti dan stabil karena situasi ekonomi keluarga mereka menuntutnya; di sisi lain, Katia ingin bekerja mengikuti passion dan mencari pekerjaan yang lebih menantang baginya. Kemudian, Katia mengambil langkah yang sungguhan menantang: membuka usaha sendiri di bidang jasa penyalur asisten rumah tangga. Yang kusukai adalah konflik Katia dan ibunya tersebut mencoba membuka perspektif generasi yang lebih tua bahwa mata pencaharian zaman sekarang sangatlah beragam—tergantung bagaimana kita mengeksploitasi peluang yang ada.

Kemudian, hal yang aku sukai dari film ini adalah jajaran pemerannya beserta penokohannya. Kita tidak hanya fokus pada Katia, tetapi juga para calon ART yang ada di agensinya. Kita melihat mulai dari tahap seleksi sampai ketika para calon ART tersebut tinggal di mess, lalu satu per satu bekerja untuk majikan baru mereka. Di situlah letak keseruan film ini.

Ada banyak calon ART, beragam karakter, yang semuanya diperankan dengan sangat baik oleh aktris-aktris yang kocak sekali—jelas saja karena sebagian besar dari mereka adalah komika perempuan ternama Indonesia. Setiap ART memiliki karakter yang unik yang membedakan mereka satu sama lain sehingga mereka tidak sekadar menjadi pelengkap cerita, melainkan mereka juga adalah ceritanya. Ada yang normal dan ada yang aneh; ada yang memang bobot perannya ringan dan ada yang bobot perannya lebih berat. Namun, pembuat film berhasil membuat penonton dapat mengingat para ART tersebut beserta keunikan mereka.

Di antara para ART, salah satu yang paling dominan adalah Bi Minah (Tike Priatnakusumah) dan Nisa (Nada Novia). Bi Minah adalah ART senior yang telah bekerja di rumah Katia sejak Katia masih kecil, sementara Nisa adalah putri kandungnya Bi Minah. Mereka punya konflik sendiri yang menurutku menarik karena jarang diangkat ke layar. Peran ART dalam banyak tontonan di Indonesia seringkali sekadar sebagai pelengkap cerita atau bahkan sekadar extra. Namun, di film ini, melalui karakter Bi Minah dan Nisa, peran ART mendapat konfliknya sendiri—benar-benar tentang diri mereka dan keluarga mereka, tentang relasi ART yang sibuk bekerja untuk keluarga majikan dengan tanggung jawabnya kepada keluarganya sendiri. Itu hal yang menarik sekali bagiku.

Selain Bi Minah dan Nisa, ada juga Siti (Umi Quarry) yang menjadi sosok ART genit yang suka menggoda majikan. Aku yakin sosok ART seperti Siti ada banyak, tipe ART yang suka cari perhatian dan ganjen kepada majikan. Iya, ART memang bisa menjadi maut, seperti yang ditampilkan karakter Siti, tetapi eksekusinya dalam film ini malah ngakak banget!

Dari awal, karakter Siti memang membuat penonton tertawa. Aku ngakak ketika (spoiler alert) Siti menjemput Katia di stasiun kereta menggunakan sepeda motor, lalu saat tiba di kampung, yang membawa motornya malah Katia sendiri, hahaha. Siti ini memang kurang ajar.

Kemudian, saat dia menjadi ART di rumah Banu (Ardit Erwandha) dan Mila (Yunita Siregar), teman-temannya Katia, kelakuannya makin menjadi-jadi. Bisa-bisanya dia segenit itu kepada majikan, sambil diiringi lagu Kita Bikin Romantis oleh MALIQ & D’Essentials? Bukannya romantis, malah traumatis, hahaha. Pokoknya Siti sukses bikin kita semua ketawa.

Oh iya, omong-omong kalian mungkin akan menyadari bahwa pemeran dalam film ini sebagian besarnya adalah perempuan. Jarang sekali ada peran laki-laki, dan sekalinya ada, dia tidak diperlihatkan sebagai laki-laki yang bekerja—kecuali Kafka yang diperankan Afgan karena dia kan bintang pop. Hal ini mungkin disengaja karena ingin mengedepankan peran perempuan dalam mencari nafkah.

Dalam salah satu dialog sederhana di film ini, ada pesan kuat yang disampaikan. (Spoiler alert) ketika Katia pergi ke desa tempat Bi Minah tinggal untuk merekrut calon-calon ART, dia berkeliling desa dan melihat bagaimana perempuan di desa tersebut bekerja giat, sedangkan para laki-lakinya malah berleha-leha. Kemudian dikatakan bahwa bagi perempuan, apapun pekerjaannya akan dilakukan yang penting halal dan bisa menghidupi keluarga, sementara yang laki-laki sepertinya gengsi untuk melakukan pekerjaan kasar.

Aku pernah mendengar ada penelitian yang mengatakan bahwa jika kepala rumah tangga adalah perempuan, ruamh tangga tersebut akan lebih sejahtera dibandingkan jika kepala rumah tangganya adalah laki-laki. Maka dari itu, ketika aku melihat adegan tersebut di film, aku pikir itu adalah potret yang dimaksud hasil penelitian tersebut. Bahwa perempuan itu pekerja keras dan berperan besar bagi perekonomian keluarga, bahkan komunitasnya. Itu adalah sesuatu yang menarik sekali, sesuatu yang tidak kusangka akan kudapatkan dari film komedi ini.

 

Kelemahan

Ini kali kedua aku menonton film karya Naya Anindita dan kali ketiga menonton film hasil adaptasi dari novel Almira Bastari, salah satu penulis favoritku. Dibandingkan dengan film Tunggu Aku Sukses Nanti, Ganjil Genap, atau Home Sweet Loan, film Agensi Rumah Tangga sayangnya berada di bawah itu semua, meskipun bukan film yang jelek ya.

Alasan yang pertama adalah peran teman-teman Katia. Ciri khas cerita karya Almira Bastari adalah si tokoh utama selalu memiliki besties yang kali ini adalah Sashi (Fita Anggriani) dan Banu. Biasanya, peran para besties ini penting bagi tokoh utama karena mereka yang menjadi tempat si tokoh utama dapat bersandar dan mencurahkan isi hati. Misalnya, di film Home Sweet Loan, tokoh utamanya, Kaluna, selalu cerita masalah keluarganya kepada Danan, Tanisha, dan Miya.

Akan tetapi, yang kulihat di film Agensi Rumah Tangga tidak begitu. Meskipun Sashi adalah rekan bisnis Katia, Katia tidak curhat kepadanya. Sebagian besar masalah pekerjaan dan keluarga ia tanggung sendiri. Aku justru heran mengapa Katia tidak meledak, padahal ada momen-momen yang sangat wajar jika akhirnya dia meledak. Akibatnya, tidak ada dialog yang “dalam” antara Katia dengan besties-nya.

Kemudian, aku merasa subplot romansa antara Katia dan Kafka (Afgansyah Reza) kurang dieksekusi dengan baik. Aku sih tidak masalah jika ada romansa dalam cerita ini, tetapi romansa antara Katia dan Kafka terlalu “diarahkan”. Menurutku, bahkan di dalam film genre romansa yang kita sudah tahu bahwa kedua tokoh utamanya akan jatuh cinta, romansanya itu harus tetap timbul secara natural. Itulah yang membuat penonton baper. Namun, romansa di film ini terlalu digiring sehingga hasilnya kurang memuaskan.

Selain itu, di akhir, film ini berusaha sedikit menyinggung isu perlindungan ART. Untuk yang tidak tahu, sampai saat ini di Indonesia belum ada hukum yang memberikan perlindungan kepada ART sehingga mereka sangat rentan. Sayangnya, isunya hanya disinggung melalui adegan sederhana yang juga cepat berlalu dalam film ini. Penonton mungkin akan lebih fokus ke adegan setelahnya, padahal isu yang ingin diangkat sangat penting. Aku menyayangkan itu karena pesan yang ingin disampaikan jadi terlewat begitu saja.

 

Kesimpulan

Agensi Rumah Tangga merupakan film komedi yang sangat menyenangkan. Kalian yang suka dengan film Tunggu Aku Sukses Nanti dan Home Sweet Loan harus coba menonton ini—film lainnya tentang generasi milenial kelas menengah yang kesulitan untuk memenuhi penghidupan. Kujamin premisnya akan relatable bagi banyak orang. Apalagi, jajaran pemerannya diisi oleh aktor/aktris yang keren-keren serta komika-komika perempuan yang luar biasa. Tentu saja, lawakan demi lawakannya tidak ada yang meleset. Kalian akan dibuat tertawa dari awal sampai filmnya selesai.

Memang ada beberapa hal yang masih terasa kurang, seperti peran teman-temannya Katia dan subplot romansanya. Namun, secara keseluruhan itu tidak merusak cerita serta kelucuannya. Kemudian, di balik ceritanya yang ringan dan menghibur, film ini sebenarnya mencoba menyampaikan berbagai isu menarik yang relevan, seperti sulitnya mencari kerja bagi generasi muda serta peran perempuan dalam mencari nafkah. Pokoknya, film ini akan membuat kalian senang begketika keluar dari bioskop. Oleh karena itu, skornya adalah 7/10. Jadi, langsung saja kalian tonton filmnya, bisa bareng teman, pacar, atau keluarga!

Kalian dapat menonton Agensi Rumah Tangga di bioskop-bioskop kesayangan kalian! Silakan tonton trailer filmnya di bawah ini ya.


***

Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post! 

Komentar