Tunggu Aku Sukses Nanti: Sebuah Film yang Lebaran Banget—Ketika Kumpul Keluarga Malah Menjadi Momen Getir bagi Sandwich Generation
Identitas Film
|
Judul |
: |
Tunggu Aku Sukses Nanti |
|
Sutradara |
: |
Naya Anindita |
|
Produser |
: |
Sunil Samtani |
|
Tanggal rilis |
: |
18 Maret 2026 |
|
Rumah produksi |
: |
Rapi Films, Screenplay
Films, Legacy Pictures, Vortera Studios, Navvaros Entertainment |
|
Penulis naskah |
: |
Evelyn Afnilia, Naya Anindita |
|
Durasi tayang |
: |
1 jam 50 menit |
|
Pemeran |
: |
Ardit Erwandha, Lulu Tobing,
Ariyo Wahab, Adzana Ashel, Niniek L. Karim, Fita Anggriani, Reza Chandika, Maudy
Effrosina, Sarah Sechan, Afgan, Ayu Laksmi, Jamie Aditya, Renitasari Adrian,
Marchella FP |
|
Genre |
: |
Drama komedi |
Sinopsis
Arga (Ardit Erwandha) tidak suka
acara kumpul keluarga. Setiap kali keluarganya berkumpul, seperti saat lebaran,
ia akan ditodong pertanyaan “kapan kerja”, lalu dibanding-bandingkan dengan
sepupu-sepupunya yang sudah lebih dulu mapan daripada dia. Apalagi, usianya
juga sudah mendekati akhir 20-an, memang sudah sewajarnya berpenghasilan
sendiri.
Arga bukannya tidak pernah berusaha. Hanya nasibnya yang belum beruntung. Akan tetapi, om dan tantenya, terutama Tante Yuli (Sarah Sechan) yang sangat julid itu, tak henti-hentinya merendahkan Arga. Maka dari itu, Arga bertekad untuk menjadi sukses sampai bisa membungkam omongan Tante Yuli dan anggota keluarganya yang lain. Lihat saja, Arga pasti akan sukses!
Kelebihan
Tunggu Aku Sukses Nanti adalah film lebaran yang sudah kunanti-nantikan
sejak awal tahun ini. Banyak reviu positif untuk film ini, tetapi apakah benar
filmnya sebagus itu? Let’s talk about it.
Salah satu kelebihan utama film
ini adalah ide ceritanya. Film ini sangat cocok menjadi film lebaran sebab di
dalamnya ada banyak adegan lebarannya—mulai dari ketika Arga masih anak-anak,
remaja, hingga ia dewasa. Semua itu untuk memperlihatkan bagaimana suasana
kumpul keluarganya Arga saat lebaran, dan untuk mempertegas bahwa dari tahun ke
tahun, keluarganya Arga selalu “diremehkan” oleh keluarga besarnya.
Ini pendekatan yang menarik
sekali untuk memotret fenomena lebaran zaman sekarang. Lebaran yang seharusnya
menjadi momen bersilaturahim dan berkumpul bersama seluruh keluarga, justru kerap
dipersepsikan sebagai momen yang menyebalkan. Itu disebabkan oleh ajang pamer pencapaian
antaranggota keluarga. Pertanyaan-pertanyaan seperti “kapan kerja”, “kapan naik
jabatan”, “kapan ngenalin pacarnya ke keluarga”, “kapan menikah”, “kapan
punya anak”, “kapan anaknya nambah lagi”, dan kapan-kapan yang lainnya menjadi
senjata yang malah membuat momen kumpul keluarga terasa pahit.
Film ini berhasil memindahkan
fenomena tersebut ke layar lebar secara efektif. Di film ini, pertanyaan
utamanya adalah kapan Arga punya pekerjaan dan sukses, meskipun sebenarnya pertanyaan
tersebut bisa diganti jadi apapun. Esensinya adalah bahwa zaman sekarang, ketika
kumpul keluarga seperti saat lebaran, itu juga menjadi momen perbandingan
kesuksesan. Aku yakin banyak orang yang bisa relate dengan itu sehingga hooked
dengan ide utama film ini.
Kemudian, shout out untuk
Ardit Erwandha karena telah berhasil memerankan karakter Arga. Ardit Erwandha sebanarnya
bukan wajah baru di dunia perfilman Indonesia, tetapi selama ini, kebanyakan
perannya adalah sebagai tokoh pendukung atau beberapa peran di balik layar.
Debut dia sebagai pemeran utama adalah di film Persugihan Sate Gagak,
tapi karena aku belum menonton filmnya, maka tidak akan kubandingkan dengan
film tersebut ya. Nah, baru di film inilah aku melihat Ardit Erwandha sebagai
pemeran utama. Aura main character-nya ada loh.
Dia akting lucu sudah pasti
berhasil, tetapi ternyata dia juga bisa akting yang lebih serius. Ardit Erwandha
menunjukkan bahwa dia memiliki range akting yang lebih luas. Kayaknya,
kalau aktor lain yang memerankan Arga, kesan yang dirasakan penonton terhadap
film ini akan berbeda deh. Aku yakin akan ada banyak film-film keren lainnya dari
dia setelah ini.
Aku juga perlu memuji
kepenulisan karakter Arga itu sendiri—walau ada kritik nanti. Dalam film ini
dapat dilihat bahwa Arga selalu ngebatin ketika diremehkan keluarga
besarnya, dan itu sudah terjadi sejak kecil. Itu ternyata terbawa terus hingga
dewasa. Ada beban yang dia simpan terus dalam hatinya.
Kemudian, saat dewasa pun perlakuan
meremehkan tersebut tidak berhenti, hanya berganti bentuk. Ditambah lagi, dia adalah
anak pertama yang diekspektasikan secara tidak tersurat untuk sukses secepatnya
dan membantu menopang perekonomian keluarga. Apalagi, ketika dewasa, Arga
menjadi lebih peka terhadap keadaan di sekitarnya—dia sadar penghasilan
keluarganya pas-pasan serta perlakuan om dan tantenya kepada orang tuanya
sangat merendahkan. Itu semua dia jadikan bahan bakar untuk mengejar kesuksesan
untuk mengangkat derajat keluarganya.
Yang menarik adalah (spoiler
alert) ketika Arga sampai di titik yang lebih baik dalam hidupnya, timbul
pertanyaan “apakah itu cukup” dan “apakah dia merasa puas”. Itu menjadi
pengembangan cerita yang menarik sekali dalam film ini. Untuk pertanyaan
pertama, kalian dapat lihat sendiri di filmnya bahwa ternyata itu tidaklah
cukup. Di film ini diperlihatkan bahwa akan terus muncul pertanyaan baru, tolok
ukur kesuksesan baru. Tidak akan ada habisnya.
Sementara untuk pertanyaan yang
kedua, silakan kalian tonton sendiri ya. Namun, mungkin sedikit yang bisa
kusinggung soal itu adalah ucapan Fanny (Fita Anggriani), salah satu teman Arga,
bahwa tidak seharusnya Arga membandingkan pencapaiannya, kehidupannya dengan
orang lain. Arga malah menjadi seperti Tante Yuli dan om tantenya yang lain. Standarnya
bukan di pendapat mereka, tapi di hati Arga sendiri.
Secara pribadi, ada beberapa hal
yang aku relate banget dengan Arga. Dia orang yang selalu menahan diri
ketika di depan keluarganya dan dia hanya bisa meluapkan emosinya ketika
bersama teman-temannya atau sedang sendirian. Dia tidak mau terlihat lemah di
depan keluarganya. Ketika Arga marah, terasa sekali emosinya. Aku bisa mengerti
perasaan marahnya Arga. Ardit Erwandha keren banget bisa menyampaikan itu semua
kepada penonton—applause!
Kemudian, kelebihan lain dari
film ini adalah chemistry kuat antara semua tokohnya. Arga bersama keluarga intinya—yang terdiri
atas ayah (Ariyo Wahab), ibu (Lulu Tobing), dan adik perempuan yang bernama
Alma (Adzana Ashel)—sangat hangat. Ada juga neneknya Arga (Niniek L. Karim)
yang selalu membela Arga. Aku suka banget adegan-adegan sewaktu (spoiler
alert) Arga membantu orang tuanya ketika dia sudah berpenghasilan—aku sampai
menangis karena ikut bangga. Aku senang melihat bagaimana mereka mendukung Arga,
menjadi support system yang tak pernah membebani Arga.
Aku juga senang dengan interaksi
Arga dengan keluarga besarnya. Ada Tante Yuli, Tante Yenny (Ayu Laksmi), Om
Sandi (Jamie Aditya), Tante Yara (Renitasari Adrian), dan sepupu-sepupunya,
terutama Dwiki (Afgan). Ketika mereka semua kumpul lalu merumpi, itu langsung
terasa seperti keluarga sungguhan. Kalian pasti juga akan ikut terbawa kesal,
ketika melihat bagaimana mereka memperlakukan Arga dan keluarganya. Kalian
mungkin akan bertanya-tanya kapan sih Arga akan “meledak” dan meluapkan
segalanya.
Satu lagi, yaitu chemistry Arga
dengan teman-temannya, Fanny dan Wicak (Reza Chandika). Adegan mereka bertiga terasa
menyenangkan dan hangat. Interaksi mereka sebagai teman dari zaman sekolah
sampai dewasa sangat meyakinkan. Apalagi, hanya ketika bersama mereka Arga
dapat jujur pada perasaannya. Karena itu, hanya ketika bersama Fanny dan Wicak,
Arga bisa tertawa selepas-lepasnya dan marah sejadi-jadinya—ada adegan yang membuatmu
tertawa dan yang membuatmu merasa getir.
Oh iya, selain soal drama
keluarga, ada insight menarik yang bisa diambil dari film ini: susahnya
cari kerja. Arga melamar kerja sana-sini, tetapi sulit sekali untuk mendapat
panggilan. Orang yang tidak memiliki pengalaman kerja, seperti Arga, sulit
banget mencari kerja kantoran. Di film ini juga dibilang bahwa yang mau cari
kerja ada banyak. Pada akhirnya, Arga harus rela kerja di beberapa tempat, hustling
sana-sini, tetapi penghasilannya tak seberapa. Itu merupakan potret
realitas sekarang—in this economy, mencari kerja dengan penghasilan
layak memang sesulit itu. Namun, menurutku, kalau Arga cukup pintar, dia akan
mengelola dapur MBG saja yang sudah jelas pendapatannya, hahaha.
Oke, terakhir, aku suka soundtrack-nya.
Lagu Gemilang oleh
Perunggu cocok sekali untuk mengiringi cerita Arga. Pas lagu ini diputar di
filmnya, asyik banget pokoknya.
Kelemahan
Meskipun film ini sudah sangat
bagus menangkap keresahan para sandwich generation masa kini, ada
beberapa kelemahan yang harus dibahas. Salah satunya adalah terdapat pada
karakter Arga. Di awal, kita melihat Arga kesulitan mencari kerja, tetapi (spoiler
alert) malah dibilang juga bahwa Arga hanya mengirim lamaran kerja ke satu
perusahaan. Mengingat usianya yang sudah di akhir 20-an, aku mulanya tak bisa
bersimpati terhadap Arga dan menganggap wajar dia dicibir terus sebagai
pengangguran. Walaupun setelahnya kita melihat perjuangan Arga untuk sukses, satu
adegan tersebut sayangnya memberikan fondasi yang rapuh untuk karakter Arga.
Kemudian, film ini memiliki beberapa
subplot yang penyelesaiannya tidak memuaskan bagiku. Yang pertama adalah konflik
di tempat kerja Arga. Setelah apa yang terjadi dengan Arga di tempat kerjanya, setelah
usaha dia mendapatkan pekerjaan tersebut, di akhir film tidak ada closure yang
cukup memasukan. Padahal menurutku, selain konflik keluarga, konflik karier Arga
juga penting.
Yang kedua adalah konflik love
interest Arga. (Spoiler alert) karakter Andien (Maudy Effrosina) didn’t
get her justice. Dia sudah menemani Arga dari nol, tidak menuntut apa-apa,
tetapi dilepas begitu saja. Sebenarnya, tanda-tandanya sudah ada sejak awal,
dan aku pun melihat hubungan dia dengan Andien hanya sebagai salah satu “pencapaian”
Arga—sesuatu yang bisa dibanggakan kepada keluarganya; bahwa dia setidaknya
punya pacar yang cantik, walaupun belum punya pekerjaan. Dari sudut pandang tersebut,
aku tidak masalah jika Arga dan Andien putus, tapi aku tetap merasa Andien
tidak mendapat closure yang sepantasnya.
Di sisi lain, (spoiler alert)
transisi karakter Fanny dari teman menjadi pacar Arga terasa dipaksakan. Aku
tidak mendapat alasan yang kuat supaya Fanny menjadi pacar Arga. Momen-momen Arga
dan Fanny yang diromantisasi malah membuatku risih dan heran. Aku lebih pilih
Fanny tetap menjadi teman Arga saja.
Kemudian, aku juga merasa kurang
sreg dengan nasibnya Tante Yuli. Dari awal, kita sudah melihat bahwa Tante
Yuli merupakan antagonis cerita yang paling sering menjulidkan Arga. Tante Yuli
menjadi potret anggota keluarga yang paling julid soal membanding-bandingkan
pencapaian anggota keluarga. Menurutku, terlepas dari alasannya, yang dilakukan
Tante Yuli salah—yang dilakukan anggota keluarga besar Arga salah. Seharusnya
ada penyelesaian yang lebih baik soal ini, setidaknya ada adegan maaf-maafannya,
tetapi bukan saat lebaran.
Kelemahan film ini yang berikutnya
adalah transisi emosinya. Film ini memiliki plot yang padat dengan porsi komedi
dan drama yang juga padat. Maka dari itu, emosi yang ditunjukkan film ini
dinamis sekali—sangat naik turun. Namun, transisinya pada beberapa bagian terasa
tiba-tiba. Sehabis adegan yang lucu-lucu, tiba-tiba yang sedih, lalu tiba-tiba
yang membuat marah. Bahkan, adegan yang membuat marahnya pun ada beberapa
level, mulai dari Arga marahnya dipendam sampai Arga marahnya diluapkan.
Terkadang, transisi emosi tersebut terasa kayak jomplang sehingga kurang nyaman.
Kesimpulan
Tunggu Aku Sukses Nanti adalah film lebaran yang lebaran banget. Film
ini sukses menangkap fenomena keluarga di Indonesia. Melalui Arga, kita bisa
melihat bagaimana lebaran yang seharusnya menjadi momen hangat ketika keluarga
berkumpul malah menjadi momen menyebalkan ketika pencapaian kita dihakimi, lalu
yang paling bawah direndahkan. Kita juga dapat melihat beratnya menjadi anak
pertama yang juga seorang sandwich generation, yang memikul
banyak beban ekspektasi yang tidak ada habisnya. Pasti banyak penonton yang relate
dengan Arga. Meskipun begitu, ada subplot-subplot yang terasa kurang memuaskan,
seperti soal karier dan percintaan Arga. Transisi emosi antaradegannya juga
terkadang terasa kurang nyaman. Akan tetapi, itu semua masih bisa ditutup dengan
kisah perjalanan Arga yang membanggakan, yang tentu saja didukung performa Ardit
Erwandha yang keren banget.
Ajak orang tua, saudara, om tante, kakek nenek, sepupu-sepupu, keponakan-keponakan, teman-teman, dan pacar/pasangan kalian untuk menonton Tunggu Aku Sukses Nanti. Setidaknya, melalui film ini, kalian bisa mengutarakan hal yang mengganjal di hati selama ini secara tidak langsung, hahaha. Tapi, semoga pulang dari bioskop tidak jadi awkward ya. Oke, terakhir, skor untuk film ini adalah 7,5/10. Aku pribadi menunggu lebih banyak film-film keren lainnya dari Ardit Erwandha setelah ini.
Kalian bisa menonton Tunggu Aku Sukses Nanti di bioskop-bioskop kesayangan kalian. Silakan tonton trailer-nya dulu di bawah ini ya.













Komentar
Posting Komentar