The Odyssey: Salah Satu Film Paling Mengagumkan di Tahun Ini!

Identitas Film Judul : The Odyssey Sutradara : Christopher Nolan Produser : Emma Thomas, Christopher Nolan Tanggal rilis : 17 Juli 2026 Rumah produksi : Universal Pictures, Syncopy Penulis naskah : Christopher Nolan Durasi tayang : 2 jam 52 menit Pemeran : Matt Damon, Anne Hathaway, Tom Holland, Robert Pattinson, Zendaya, Lupita Nyong’o, Himesh Patel, Jon Bernthal, Charlize Theron, John Leguizamo, Elliot Page, Samantha Morton, Benny Safdie Genre : Epos, petualangan, mitologi, dark fantasy , action   Sinopsis Sudah dua puluh tahun berlalu sejak negeri Ithaca ditinggal oleh rajanya, Odysseus (Matt Damon). Ratu mereka, Penelope (Anne Hathawa...

The Love Hypothesis: Apa Boleh Romcom antara Dosen dan Mahasiswa Terasa Semanis, Secanggung, dan Sekocak Ini?

Identitas Buku

Judul

:

The Love Hypothesis

Penulis

:

Ali Hazelwood

Penerjemah

:

Nurkinanti Laraskusuma

Penerbit

:

Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit

:

2024

Cetakan

:

I

Tebal

:

400 halaman

ISBN

:

9786020675862

Genre

:

Komedi romantis, roman kontemporer

 

Tentang Penulis

Ali Hazelwood adalah penulis novel roman berkebangsaan Italia yang juga berprofesi sebagai ahli ilmu saraf yang bekerja di Amerika Serikat. Dia menyukai kucing, Nutella, dan kuncir samping ekor kuda.

Dalam hal kepenulisan, Ali Hazelwood kerap menulis kisah-kisah komedi romantis kontemporer bertema perempuan di dunia STEM (science, technology, engineering, and mathematics) dan akademisi, yang merupakan bidang profesional yang juga ia tekuni. Maka dari itu, karya debutnya adalah The Love Hypothesis (2021). Padahal, mulanya cerita tersebut adalah sebuah fanfiction ‘fiksi penggemar’ Star Wars, tetapi kini telah menjadi salah satu novel New York Times Best-Seller dan nominasi buku bergenre romantis terfavorit dalam Goodreads Choice Award tahun 2021.

Setelahnya, karier Ali Hazelwood di dunia kepenulisan semakin berkembang. Selanjutnya, ia menuliskan beberapa buku romcom tentang STEM lagi: Love on the Brain (2022) dan Love, Theoretically (2023). Dia juga pernah menuliskan tiga novela, yaitu Under One Roof, Stuck with You, dan Below Zero—yang ketiganya lalu, pada tahun 2023, diterbitkan menjadi buku berjudul Loathe to Love You (2023). Pada tahun 2023 juga, Ali Hazelwood menuliskan buku debut bergenre young adult-nya, yaitu Check & Mate (2023). Ali Hazelwood kini bahkan menulis buku bergenre roman supranatural, antara lain Bride (2024) dan Mate (2025). Karyanya yang lain adalah Not in Love (2024) dan spin-off-nya, yang berjudul Problematic Summer Romance (2025).

 

Sinopsis

Olive Smith membuat kesalahan fatal. Demi meyakinkan temannya bahwa dia sudah punya pacar, Olive asal mencium laki-laki yang pertama dia lihat. Sialnya, laki-laki itu adalah Adam Carlsen, dosen killer yang ditakuti semua orang, tetapi berwajah tampan dan berperawakan memesona.

Namun, ada yang lebih mengejutkan Olive dibanding mencium Adam Carlsen, yaitu bahwa Adam Carlsen setuju untuk berpura-pura berpacaran dengannya. Entah apa yang dapat diperoleh Adam dari kesepakatan tersebut, Olive lega ada Adam di sisinya yang, secara mengejutkan, tidak seburuk yang dia kira ataupun gosip yang beredar. Bahkan, ketika Olive di ujung tanduk, Adam hadir memberikan dukungan yang ia butuhkan.

Akan tetapi, lama-lama, eksperimen kecil Olive menjadi berbahaya bagi hatinya. Ketika dia harus meneliti perasaannya sendiri, bagaimana Olive akan membuktikan hipotesis cintanya?

 

Kelebihan

Novel The Love Hypothesis adalah salah satu novel roman kontemporer paling populer beberapa tahun terakhir ini. Aku sudah sering melihat karya-karya Ali Hazelwood berseliweran di lini masa Instagram-ku, termasuk salah satunya ya The Love Hypothesis ini. Popularitas The Love Hypothesis bahkan membawanya menjadi salah satu nominasi buku genre romantis terfavorit di Goodreads Choice Award tahun 2021 lalu.

Namun, apakah popularitasnya tersebut sepadan dengan kualitas ceritanya? Well, mari kita bahas ya.

Hal pertama yang menarik dari buku ini adalah temanya. Kebanyakan cerita romcom yang kubaca—atau kutonton, dalam hal formatnya film atau serial TV—adalah tentang office romance, teman masa kecil, musuh jadi teman, dan lain sebagainya. The Love Hypothesis menjadi unik sebab, biarpun trope-nya adalah fake-dating, latar belakang karakternya berasal dari dunia akademisi. Atau lebih tepatnya, seorang yang berprofesi di dunia akademisi.

Penokohan sebagai profesional di dunia akademisi tersebut terasa fresh bagiku. Biasanya, tokoh dalam romcom adalah selebriti atau penulis/jurnalis. Dengan tokoh utamanya adalah peneliti, pembaca punya kesempatan untuk mengenal seperti apa kehidupan para peneliti di dunia akademisi. Melalui karakter Olive, kita dapat melihat bahwa peneliti bukan profesi yang mudah. Ada banyak hal yang perlu dipikirkan dengan keras, seperti sumber daya, dana penelitian, atau bahkan ide penelitian itu sendiri. Olive pernah berpikir bahwa biarpun itu adalah bidang yang ia suka, mungkin itu bukanlah jalur karier yang tepat untuknya. Bahkan, Olive juga menjelaskan bahwa menjadi peneliti, terutama jika kalian masih mahasiswa, bukan profesi yang menyejahterakan. Yup, karakter Olive mewakili kegalauan-kegalauan karier seorang mahasiswa S3 di bidang STEM.

Selain itu, alur cerita buku ini juga enak diikuti. Cara buku ini memulai cerita sungguh menarik. Maksudku, orang waras mana yang asal mencium orang lain hanya karena ingin meyakinkan temannya bahwa dia punya pacar? Ada cara lain untuk itu, tentu saja; tetapi tindakan konyol tokoh utama kita tersebut seolah memberi janji tentang cerita fake-dating yang lucu.

Yup, penggemar trope fake-dating akan menyukai buku ini. Olive dan Adam adalah pasangan sunshine girl dan grumpy man—kontras banget. Sepanjang cerita ini, penulis mencoba mempertegas kontras karakter mereka. Ketika Olive suka baju warna-warni dan minuman Starbucks yang tinggi gula, Adam hanya suka warna hitam dan kopi hitam. Olive dikenal ramah walau canggung secara sosial, sementara Adam dikenal antagonistik dan sulit didekati.

Adam Carlsen dan Olive Smith

Yang menarik adalah kontras tersebut berhasil disulam oleh penulis menjadi chemistry yang menggemaskan. Alih-alih menjadikan kontras sebagai perdebatan tidak berguna di antara Olive dan Adam, penulis menjadikannya sebagai bahan obrolan di antara keduanya yang terasa tulus dan mengalir. Percakapan-percakapan Olive dan Adam telah menjadi momen-momen favoritku dalam buku ini.

Namun, bukannya mereka tidak pernah berdebat karena perbedaan kepribadian mereka, tetapi perdebatan tersebut berlangsung secara dewasa. Apalagi, Adam yang lebih tua dariapda Olive dapat bersikap lebih bijaksana dan menerima kritik.

Oh iya, selain percakapannya, momen canggung Olive dan Adam juga seru. (Spoiler alert) mulai dari ciuman canggung di parkiran, duduk berpangkuan di ruang seminar yang sesak, sampai insiden tabir surya yang memalukan, semuanya aku suka. Itu adalah momen-momen lucu yang juga bisa membuat pembaca baper. Ketika membacanya, kalian pasti akan tertawa dan terheran-heran sendiri. Itu semua sangat tipikal romcom, which is so fun!

Selain itu, ada adegan lainnya yang kusukai dalam buku ini: adegan seks Olive dan Adam. Sebelum kulanjutkan, aku akan beri tahu bahwa dalam buku ini ada satu bab—lumayan panjang—tentang (spoiler alert) adegan seks antara Olive dan Adam. Aku bukannya mesum, tetapi menurutku momen intim tersebut ditempatkan secara tepat. Ia tidak dinarasikan secara cabul, alih-alih seperti dua orang yang memang menginginkan satu sama lain secara romantis dan erotis. It is really hot.

Sampul The Love Hypothesis 
edisi bahasa Inggris
Kemudian, hal lain yang kusukai dari novel ini adalah cara penulis mengembangkan hubungan Olive dan Adam. Prolog novel ini sangat bagus, menjadi modal yang baik untuk pengembangan hubungan kedua tokoh utama. Selanjutnya, meskipun klise khas romcom, penulis mengembangkan hubungan Olive dan Adam secara bertahap dan rapih. Fase-fasenya terasa, dan kebanyakan justru terjadi melalui percakapannya, bukan kontak fisik dan situasi yang canggung. Aku menyukai hal tersebut karena dapat membantu pembaca untuk mengikuti alur cerita, sekaligus mengenal kedua tokohnya. Sampai akhirnya prolog tadi dipakai di akhir yang menjadikan hubungan Olive dan Adam semakin terasa manis.

Satu kelebihan terakhir: sampulnya. Desain sampul buku ini cantik banget, sangat enak dipandang. Aku suka sampul versi bahasa Inggrisnya, masih lebih bagus daripada novel-novel lainnya, tetapi sampul versi bahasa Indonesia sangat tak tersaingi. Kak Hastapena adalah ilustrator sampulnya. Great job for you!

 

Kelemahan

Selain beberapa keunggulan buku ini yang telah kusebutkan, ada beberapa kelemahan yang kurasakan. Salah satunya adalah peran teman-teman Olive. Mungkin kalau perannya Malcolm, teman serumahnya Olive, masih oke; tetapi Anh? Walaupun Olive berulang kali mengatakan Anh sahabatnya, aku merasa peran dia tidak besar-besar amat untuk cerita. Anh lebih sering muncul untuk membicarakan agenda aktivisme feminismenya di kampus dan untuk menempatkan Olive di situasi canggung bersama Adam. Rasanya aku tidak terlalu merasakan ada momen ketika Anh sangat berarti atau penting bagi Olive—selain yang memang disampaikan melalui narasinya.

Hal lain yang mungkin terasa kurang dari buku ini adalah gaya narasinya yang terkadang terlalu bertele-tele. Jadi, cerita ini disampaikan dari sudut pandang orang ketiga melalui perspektif Olive. Dia sendiri adalah karakter yang overthinking dan memiliki kemampuan intrapersonal yang kurang. Maka dari itu, narasi terasa sekali seperti pikiran Olive yang loncat sana-sini akibat overthinking. Hal tersebut terkadang mengganggu karena agak menyulitkan pembaca memahami cerita. Gagasan di paragrafnya jadi terasa carut marut karena mencoba menerjemahkan pemikiran overthinking-nya Olive.

             

Kesimpulan

The Love Hypothesis merupakan novel romcom yang begitu menghibur. Berbeda dari kebanyakan cerita romcom, novel ini mengambil latar dunia profesi akademisi. Melalui tokoh utamanya, Olive, kita dapat mempelajari bahwa dunia akademisi tidak seperti yang kita bayangkan—ada berbagai permasalahan yang ternyata memengaruhi kesejahteraan para akademisi. Namun, selain hal-hal serius seperti itu, novel ini memiliki keunggulan lain yang terletak pada penokohan kedua tokoh utamanya. Karakter mereka yang sangat kontras dalam berbagai hal membuat hubungan mereka terasa manis. Apalagi, penulisnya telah berhasil merangkai perkembangan hubungan tersebut dengan lihai. Akan tetapi, gaya narasinya yang terlalu bertele-tele karena ingin mencerminkan pikiran Olive yang overthinker terkadang membuat cerita sulit dimengerti. Dan meskipun hubungan Olive dan temna-temannya terasa kurang dioptimalkan, hubungan Olive dan Adam justru amat menggemaskan. Cara mereka memberi dukungan kepada satu sama lain adalah sebuah hal baik yang perlu ditiru pasangan manapun.

Kemudian, mungkin perlu kusampaikan bahwa dalam novel ini ada adegan seks yang gamblang diceritakan. Oleh karena itu, sesuai anjuran umur di buku ini, buku ini sebaiknya tidak dibaca oleh pembaca berusia di bawah 21 tahun. Baiklah, skor yang kuberikan untuk novel ini adalah 7,5/10. Buku ini amat cocok untuk para penggemar romcom, asalkan kalian sudah cukup umur ya!

Oh iya, The Love Hypothesis akan segera diadaptasi menjadi film yang akan tayang di platform Prime Video loh!

***

Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!

Komentar