Identitas Buku
|
Judul
|
:
|
The Love Hypothesis
|
|
Penulis
|
:
|
Ali Hazelwood
|
|
Penerjemah
|
:
|
Nurkinanti Laraskusuma
|
|
Penerbit
|
:
|
Gramedia Pustaka Utama
|
|
Tahun terbit
|
:
|
2024
|
|
Cetakan
|
:
|
I
|
|
Tebal
|
:
|
400 halaman
|
|
ISBN
|
:
|
9786020675862
|
|
Genre
|
:
|
Komedi romantis, roman kontemporer
|
Tentang Penulis
Ali Hazelwood adalah penulis novel roman berkebangsaan Italia
yang juga berprofesi sebagai ahli ilmu saraf yang bekerja di Amerika Serikat.
Dia menyukai kucing, Nutella, dan kuncir samping ekor kuda.
Dalam hal kepenulisan, Ali Hazelwood kerap menulis
kisah-kisah komedi romantis kontemporer bertema perempuan di dunia STEM (science,
technology, engineering, and mathematics) dan akademisi, yang merupakan
bidang profesional yang juga ia tekuni. Maka dari itu, karya debutnya adalah The
Love Hypothesis (2021). Padahal, mulanya cerita tersebut adalah sebuah fanfiction
‘fiksi penggemar’ Star Wars, tetapi kini telah menjadi salah satu novel New
York Times Best-Seller dan nominasi buku bergenre romantis terfavorit dalam
Goodreads Choice Award tahun 2021.
Setelahnya, karier Ali Hazelwood di dunia kepenulisan semakin
berkembang. Selanjutnya, ia menuliskan beberapa buku romcom tentang STEM
lagi: Love on the Brain (2022) dan Love, Theoretically (2023).
Dia juga pernah menuliskan tiga novela, yaitu Under One Roof, Stuck
with You, dan Below Zero—yang ketiganya lalu, pada tahun 2023,
diterbitkan menjadi buku berjudul Loathe to Love You (2023). Pada tahun
2023 juga, Ali Hazelwood menuliskan buku debut bergenre young adult-nya,
yaitu Check & Mate (2023). Ali Hazelwood kini bahkan menulis buku
bergenre roman supranatural, antara lain Bride (2024) dan Mate (2025).
Karyanya yang lain adalah Not in Love (2024) dan spin-off-nya,
yang berjudul Problematic Summer Romance (2025).
Sinopsis
Olive Smith membuat kesalahan
fatal. Demi meyakinkan temannya bahwa dia sudah punya pacar, Olive asal mencium
laki-laki yang pertama dia lihat. Sialnya, laki-laki itu adalah Adam Carlsen,
dosen killer yang ditakuti semua orang, tetapi berwajah tampan dan
berperawakan memesona.
Namun, ada yang lebih
mengejutkan Olive dibanding mencium Adam Carlsen, yaitu bahwa Adam Carlsen
setuju untuk berpura-pura berpacaran dengannya. Entah apa yang dapat diperoleh
Adam dari kesepakatan tersebut, Olive lega ada Adam di sisinya yang, secara mengejutkan,
tidak seburuk yang dia kira ataupun gosip yang beredar. Bahkan, ketika Olive di
ujung tanduk, Adam hadir memberikan dukungan yang ia butuhkan.
Akan tetapi, lama-lama,
eksperimen kecil Olive menjadi berbahaya bagi hatinya. Ketika dia harus
meneliti perasaannya sendiri, bagaimana Olive akan membuktikan hipotesis
cintanya?
Kelebihan
Novel The Love Hypothesis
adalah salah satu novel roman kontemporer paling populer beberapa tahun
terakhir ini. Aku sudah sering melihat karya-karya Ali Hazelwood berseliweran
di lini masa Instagram-ku, termasuk salah satunya ya The Love Hypothesis ini.
Popularitas The Love Hypothesis bahkan membawanya menjadi salah satu nominasi
buku genre romantis terfavorit di Goodreads Choice Award tahun 2021 lalu.
Namun, apakah popularitasnya
tersebut sepadan dengan kualitas ceritanya? Well, mari kita bahas ya.
Hal pertama yang menarik dari
buku ini adalah temanya. Kebanyakan cerita romcom yang kubaca—atau
kutonton, dalam hal formatnya film atau serial TV—adalah tentang office romance,
teman masa kecil, musuh jadi teman, dan lain sebagainya. The Love Hypothesis
menjadi unik sebab, biarpun trope-nya adalah fake-dating, latar
belakang karakternya berasal dari dunia akademisi. Atau lebih tepatnya, seorang
yang berprofesi di dunia akademisi.
Penokohan sebagai profesional di
dunia akademisi tersebut terasa fresh bagiku. Biasanya, tokoh dalam romcom
adalah selebriti atau penulis/jurnalis. Dengan tokoh utamanya adalah peneliti,
pembaca punya kesempatan untuk mengenal seperti apa kehidupan para peneliti di
dunia akademisi. Melalui karakter Olive, kita dapat melihat bahwa peneliti
bukan profesi yang mudah. Ada banyak hal yang perlu dipikirkan dengan keras,
seperti sumber daya, dana penelitian, atau bahkan ide penelitian itu sendiri.
Olive pernah berpikir bahwa biarpun itu adalah bidang yang ia suka, mungkin itu
bukanlah jalur karier yang tepat untuknya. Bahkan, Olive juga menjelaskan bahwa
menjadi peneliti, terutama jika kalian masih mahasiswa, bukan profesi yang
menyejahterakan. Yup, karakter Olive mewakili kegalauan-kegalauan karier
seorang mahasiswa S3 di bidang STEM.
Selain itu, alur cerita buku ini
juga enak diikuti. Cara buku ini memulai cerita sungguh menarik. Maksudku,
orang waras mana yang asal mencium orang lain hanya karena ingin meyakinkan
temannya bahwa dia punya pacar? Ada cara lain untuk itu, tentu saja; tetapi
tindakan konyol tokoh utama kita tersebut seolah memberi janji tentang cerita fake-dating
yang lucu.
Yup, penggemar trope
fake-dating akan menyukai buku ini. Olive dan Adam adalah pasangan sunshine
girl dan grumpy man—kontras banget. Sepanjang cerita ini, penulis
mencoba mempertegas kontras karakter mereka. Ketika Olive suka baju warna-warni
dan minuman Starbucks yang tinggi gula, Adam hanya suka warna hitam dan kopi
hitam. Olive dikenal ramah walau canggung secara sosial, sementara Adam dikenal
antagonistik dan sulit didekati.
 |
| Adam Carlsen dan Olive Smith |
Yang menarik adalah kontras
tersebut berhasil disulam oleh penulis menjadi chemistry yang
menggemaskan. Alih-alih menjadikan kontras sebagai perdebatan tidak berguna di
antara Olive dan Adam, penulis menjadikannya sebagai bahan obrolan di antara
keduanya yang terasa tulus dan mengalir. Percakapan-percakapan Olive dan Adam
telah menjadi momen-momen favoritku dalam buku ini.
Namun, bukannya mereka tidak pernah
berdebat karena perbedaan kepribadian mereka, tetapi perdebatan tersebut
berlangsung secara dewasa. Apalagi, Adam yang lebih tua dariapda Olive dapat
bersikap lebih bijaksana dan menerima kritik.
Oh iya, selain percakapannya,
momen canggung Olive dan Adam juga seru. (Spoiler alert) mulai dari
ciuman canggung di parkiran, duduk berpangkuan di ruang seminar yang sesak,
sampai insiden tabir surya yang memalukan, semuanya aku suka. Itu adalah
momen-momen lucu yang juga bisa membuat pembaca baper. Ketika membacanya,
kalian pasti akan tertawa dan terheran-heran sendiri. Itu semua sangat tipikal romcom,
which is so fun!
Selain itu, ada adegan lainnya
yang kusukai dalam buku ini: adegan seks Olive dan Adam. Sebelum kulanjutkan,
aku akan beri tahu bahwa dalam buku ini ada satu bab—lumayan panjang—tentang (spoiler
alert) adegan seks antara Olive dan Adam. Aku bukannya mesum, tetapi
menurutku momen intim tersebut ditempatkan secara tepat. Ia tidak dinarasikan
secara cabul, alih-alih seperti dua orang yang memang menginginkan satu sama
lain secara romantis dan erotis. It is really hot.
 |
Sampul The Love Hypothesis edisi bahasa Inggris |
Kemudian, hal lain yang kusukai
dari novel ini adalah cara penulis mengembangkan hubungan Olive dan Adam.
Prolog novel ini sangat bagus, menjadi modal yang baik untuk pengembangan
hubungan kedua tokoh utama. Selanjutnya, meskipun klise khas romcom,
penulis mengembangkan hubungan Olive dan Adam secara bertahap dan rapih.
Fase-fasenya terasa, dan kebanyakan justru terjadi melalui percakapannya, bukan
kontak fisik dan situasi yang canggung. Aku menyukai hal tersebut karena dapat
membantu pembaca untuk mengikuti alur cerita, sekaligus mengenal kedua
tokohnya. Sampai akhirnya prolog tadi dipakai di akhir yang menjadikan hubungan
Olive dan Adam semakin terasa manis.
Satu kelebihan terakhir:
sampulnya. Desain sampul buku ini cantik banget, sangat enak dipandang. Aku suka
sampul versi bahasa Inggrisnya, masih lebih bagus daripada novel-novel lainnya,
tetapi sampul versi bahasa Indonesia sangat tak tersaingi. Kak Hastapena adalah
ilustrator sampulnya. Great job for you!
Kelemahan
Selain beberapa keunggulan buku
ini yang telah kusebutkan, ada beberapa kelemahan yang kurasakan. Salah satunya
adalah peran teman-teman Olive. Mungkin kalau perannya Malcolm, teman
serumahnya Olive, masih oke; tetapi Anh? Walaupun Olive berulang kali
mengatakan Anh sahabatnya, aku merasa peran dia tidak besar-besar amat untuk
cerita. Anh lebih sering muncul untuk membicarakan agenda aktivisme
feminismenya di kampus dan untuk menempatkan Olive di situasi canggung bersama
Adam. Rasanya aku tidak terlalu merasakan ada momen ketika Anh sangat berarti
atau penting bagi Olive—selain yang memang disampaikan melalui narasinya.
Hal lain yang mungkin terasa kurang
dari buku ini adalah gaya narasinya yang terkadang terlalu bertele-tele. Jadi,
cerita ini disampaikan dari sudut pandang orang ketiga melalui perspektif
Olive. Dia sendiri adalah karakter yang overthinking dan memiliki
kemampuan intrapersonal yang kurang. Maka dari itu, narasi terasa sekali
seperti pikiran Olive yang loncat sana-sini akibat overthinking. Hal
tersebut terkadang mengganggu karena agak menyulitkan pembaca memahami cerita. Gagasan
di paragrafnya jadi terasa carut marut karena mencoba menerjemahkan pemikiran overthinking-nya
Olive.
Kesimpulan
The Love Hypothesis merupakan novel romcom yang begitu menghibur.
Berbeda dari kebanyakan cerita romcom, novel ini mengambil latar dunia
profesi akademisi. Melalui tokoh utamanya, Olive, kita dapat mempelajari bahwa
dunia akademisi tidak seperti yang kita bayangkan—ada berbagai permasalahan yang
ternyata memengaruhi kesejahteraan para akademisi. Namun, selain hal-hal serius
seperti itu, novel ini memiliki keunggulan lain yang terletak pada penokohan
kedua tokoh utamanya. Karakter mereka yang sangat kontras dalam berbagai hal
membuat hubungan mereka terasa manis. Apalagi, penulisnya telah berhasil
merangkai perkembangan hubungan tersebut dengan lihai. Akan tetapi, gaya
narasinya yang terlalu bertele-tele karena ingin mencerminkan pikiran Olive
yang overthinker terkadang membuat cerita sulit dimengerti. Dan meskipun
hubungan Olive dan temna-temannya terasa kurang dioptimalkan, hubungan Olive
dan Adam justru amat menggemaskan. Cara mereka memberi dukungan kepada satu
sama lain adalah sebuah hal baik yang perlu ditiru pasangan manapun.
Kemudian, mungkin perlu
kusampaikan bahwa dalam novel ini ada adegan seks yang gamblang diceritakan.
Oleh karena itu, sesuai anjuran umur di buku ini, buku ini sebaiknya tidak dibaca
oleh pembaca berusia di bawah 21 tahun. Baiklah, skor yang kuberikan untuk
novel ini adalah 7,5/10. Buku ini amat cocok untuk para penggemar romcom,
asalkan kalian sudah cukup umur ya!
Oh iya, The Love Hypothesis akan segera diadaptasi menjadi film yang akan tayang di platform Prime Video loh!
***
Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!
Komentar
Posting Komentar