Identitas Buku
|
Judul |
: |
The Night Circus |
|
Penulis |
: |
Erin Morgenstern |
|
Penerjemah |
: |
RoséMia |
|
Penerbit |
: |
Noura Books PT Mizan Publika |
|
Tahun terbit |
: |
2025 (republish) dan terbit awal pada 2013 |
|
Cetakan |
: |
I |
|
Tebal |
: |
572 halaman |
|
ISBN |
: |
9786232425057 |
|
Genre |
: |
Tentang Penulis
Erin Morgenstern lahir pada tanggal 8 Juli 1978 dan tumbuh
besar di Marshfield, Massachusetts. Dia adalah seorang seniman multimedia asal
Amerika yang memiliki gelar seni teater dari Smith College, Massachusetts.
Selain menulis, dia juga juga melukis, khususnya lukisan akrilik.
Novel debutnya adalah The Night Circus yang sudah
mulai ia tulis sejak tahun 2005. Namun, novel tersebut ditolak berkali-kali
oleh banyak agen sastra hingga pada akhirnya dapat terbit di tahun 2011. Karya
tersebut membawa nama Erin Morgenstern menjadi salah satu penulis novel best-selling
di Amerika. Bahkan, The Night Circus telah diterjemahkan ke lebih dari
30 bahasa. Tidak hanya itu, The Night Circus juga telah menerima Alex
Award dari Asosiasi Perpustakaan Amerika serta
terpilih sebagai First Best Novel pada Locus Award
tahun 2012.
Karya terbaru Erin Morgenstern adalah The Starless Sea
yang telah terbit pada 5 November 2019.
Sinopsis
Le Cirque des RĂªves. Sirkus Mimpi. Buka saat senja dan tutup saat
fajar.
Sirkus itu tiba-tiba muncul,
walau tak ada kabar sebelumnya. Tak ada yang tahu juga kapan ia pergi ataupun
ke mana.
Di manapun sirkus itu berada, ia
selalu mendatangkan keajaiban. Tak ada yang biasa-biasa saja dari sirkus itu,
baik itu ilusionisnya, penarik akrobatnya, manusia karetnya, peramal nasibnya,
dan atraksi-atraksi lainnya. Tenda apapun yang dikunjungi, selalu ada kejutan
di dalamnya. Mulutmu akan ternganga oleh keindahan sirkus tersebut.
Namun, di balik semua ilusi tersebut,
ada rahasia tersembunyi. Ada dua pesulap yang bersaing dalam sebuah tantangan
unjuk keahlian yang sudah berlangsung beberapa dekade. Masalahnya adalah tidak
ada yang tahu apa yang dibutuhkan agar menang ataupun siapa yang membuat
keputusan siapa pemenangnya.
Celia dan Marco saling mengenal,
tetapi tidak mengetahui bahwa mereka adalah saingan. Mereka tidak boleh saling
menjegal; hanya dapat terus unjuk keahlian sampai putusan dibuat. Akan tetapi,
ketika persaingan mereka semakin intens, ada perasaan yang terlibat di antara
mereka.
Ketika dua pesaing yang tidak
seharusnya jatuh cinta justru jatuh cinta, tantangan mereka menjadi makin
pelik. Ketika risiko maut muncul, bagaimana Celia dan Marco dapat selamat dari
tantangan tersebut?

Celia Bowen (kiri) dan Marco Alisdair (kanan)
Kelebihan
The Night Circus adalah novel yang lumayan populer di kalangan
pembaca fantasi. Beberapa novel fantasi favoritku, Caraval dan Hotel
Magnifique, katanya mirip dengan buku satu ini. Lebih tepatnya, mungkin
kedua buku tersebut terpengaruh buku ini. Maka dari itu, ketika tahu bahwa
penerbit Noura akan menerbitkan ulang versi terjemahan buku ini dengan sampul
baru, aku tak ragu-ragu untuk membelinya.
Setelah membacanya, aku merasa
buku ini sangatlah unik dan berbeda daripada buku-buku fantasi yang telah
kubaca sebelumnya—termasuk Caraval dan Hotel Magnifique tadi.
Pertama-tama, aku tertarik dengan latarnya yang mengambil tahun 1900-an,
tepatnya (jika aku tak salah ingat) adalah 1970-an sampai 1990-an. Yup, latar
ceritanya adalah di dunia kita, bukan sebuah dunia fiksi—menjadikan elemen
fantasinya subtle, tetapi tetap terasa memikat.
Aku sempat menduga-duga sebelum
membacanya bahwa latar dunianya akan di dunia fiksi, tetapi langsung
terpatahkan ketika tahu bahwa latar tempatnya adalah dunia kita dan itu
membuatku penasaran. Sihir yang disuguhkan buku ini tidak terasa “lantang”,
bahkan orang-orang biasa dalam buku ini pun tidak ada yang memprotes atau
menentang keberadaan sihir itu, tidak pula mengherankannya. Mereka mungkin
bingung di awal, lalu memilih tidak memikirkannya, lalu menikmatinya. Itu
sebuah daya pikat yang juga akan dialami pembacanya.
Yang mungkin lebih menarik
adalah bahwa latar waktu ceritanya panjang sekali. Kebanyakan buku fantasi yang
kubaca, memiliki latar waktu cerita yang berlangsung hanya beberapa hari sampai
dengan setahun. Namun, latar waktu cerita The Night Circus berlangsung
selama beberapa dekade. Cerita bahkan dimulai ketika Celia dan Marco masih
anak-anak, lalu berlanjut sampai beberapa dekade sejak mereka memulai tantangan.
Ketika aku mulai memahami bahwa sudah selama itu tantangan mereka berlangsung, rasanya
lumayan mind-blowing sih.
Selanjutnya, aku harus
mengapresiasi penokohannya. Ada banyak tokoh dalam buku ini dan bisa dibilang
setiap tokoh memiliki ambisi masing-masing. Ada Celia dan Marco, yang sedang
bersaing. Ada kedua guru mereka, Perospero dan Alexander. Ada tokoh-tokoh lain
seperti Isobel, Chandresh, Ethan, Tante Padva, Burgess Bersaudari, Tsukiko, Fredrick
Widget, Poppet, dan Bailey. Setiap tokoh memiliki perannya dan kepentingannya
yang terkadang saling bertentangan, meskipun mereka hanya bersinggungan
sesekali. Walaupun begitu, akan terlihat benang merah yang menyatukan mereka,
terutama menyatukan mereka dengan Celia dan Marco—yang menjadi keunggulan
tersendiri bagi alurnya. Aku sangat senang ketika penokohan cerita dapat
mendukung alur cerita sampai-sampai 500-an halaman tidak terasa membosakan.
Ditambah lagi, gaya narasi Erin
Morgenstern sangat memukau. Dia bercerita melalui rangkaian kalimat-kalimat
yang indah dan terasa mengalir. Terutama ketika ia menjelaskan keajaiban Sirkus
Mimpi. Terus terang, aku agak sulit mengimajinasikan atraksi-atraksi dalam
tenda-tenda sirkusnya, tetapi aku bisa merasakan atmosfer magisnya melalui
kalimat-kalimat Erin Morgenstern. Caranya mendeksripsikan Sirkus Mimpi dan
mengembangkan alur cerita serta kompleksitas relasi antartokoh terkesan
dramatis, sekaligus magis. Aku penasaran sekali sampai mana dia akan membawa
imajinasi pembaca dalam drama pelik ini.
Kemudian romansanya—aku
geregetan dengan itu. Kita tentu tahu bahwa pada akhirnya Celia dan Marco akan
terlibat dalam romansa, tetapi pertanyaan berikutnya adalah kapan. Kapan
keduanya mulai melibatkan perasasan dan saling terpikat? Ketika titik romansa mereka
dimulai, cerita menjadi begitu mengalir—sangat page-turning. Di bab
tersebut, ketika Celia dan Marco kali pertama berbicara panjang, aku langsung
deg-degan sendiri, tidak sabar ingin tahu akan jadi seperti apa kelanjutannya,
padahal di situ belum ada bibit-bibit romansa. Aku pikir Erin Morgenstern
sangat pintar untuk memasukkan romansa di titik itu sebab aku pribadi mulai
merasa ceritanya dragging. Pembicaraan Celia dan Marco di titik itu
menjadi semacam check-point yang berhasil menumbuhkan kembali rasa
penasaran pembaca.
Namun, apakah konflik romansanya
hanya sebatas itu? Tentu saja tidak. Dalam cerita ini, ada tokoh bernama Isobel
yang juga menyukai Marco. Malah, (spoiler alert) keduanya sempat menjadi
“pasangan” sebelum persaingan antara Celia dan Marco dimulai. Aku pribadi
terkejut dengan keberadaan Isobel sebagai orang ketiga—karena tanpa ada dia,
sebenarnya Celia dan Marco sudah punya rintangan dalam romansa mereka. Kehadiran
Isobel justru memberikan rintangan lain, yang kalau terjadi di cerita-cerita
lain, mungkin aku tidak akan suka. Namun, aku menyukai karakter Isobel dan
mengasihaninya. Aku yakin, kalian tidak akan bisa membencinya.
Yang selanjutnya menjadi
keunggulan cerita ini, menurutku, adalah worldbuilding atau sistem
sihirnya. Kebanyakan buku, film, atau anime bergenre fantasi yang kutonton
selalu menjelaskan sistem sihir mereka. Bahkan, beberapa cerita menjelaskannya
begitu teknis, seperti anime Bleach, Jujutsu Kaisen, dan Witch
Hat Atelier atau novel Babel dan Fourth Wing.
Akan tetapi, The Night Circus
sama sekali berbeda. Ia tidak menjelaskan bagaimana sihir bisa ada atau
dipraktikkan, seolah-olah ia tidak mau pembaca pusing dengan hal-hal teknis
semacam itu. Padahal, latar dunianya adalah dunia nyata, tetapi Erin
Morgenstern tidak merasa perlu repot menjabarkan bagaimana bisa Celia dan Marco
menggunakan sihir, dan uniknya adalah itu berhasil. Pokoknya, Celia dan Marco
belajar ilmu sihir dari guru masing-masing dan mereka memiliki pendekatan yang
berbeda, tetapi tidak pernah dijelaskan seperti apa persisnya itu dilakukan.
Meskipun begitu, pembaca tetap dapat merasakan keindahan sihir tersebut yang
hadir di Sirkus Mimpi. Keren sekali!
Mungkin, berbicara tentang sihir
dalam buku ini, aku akan menyebutkan salah satu adegan favoritku—yang masih
berhubungan dengan sihirnya. Itu adalah adegan penyalaan perapian pertama kali
ketika malam pembukaan Sirkus Mimpi. Keseluruhan adegan tersebut dinarasikan
dengan indah dan memikat. Imajinasiku menjadi liar dibuatnya. Aku seolah ikut
hadir di pembukaan sirkus tersebut.
Adegan favoritku yang lain tentu
saja ketika (spoiler alert) percakapan pertama Celia dan Isobel yang
diikuti dengan pertemuan Celia dan Marco. Rangkaian adegan tersebut sederhana,
tetapi siapapun yang membaca buku ini pasti paham bahwa itu momen yang
ditunggu-tunggu. Aku tidak akan menjelaskan lebih jauh soal adegan itu; silakan
dibaca sendiri ya.
Satu lagi adegan favoritku yang
patut disebutkan adalah ketika Marco dan Celia berbicara panjang pertama kali.
Itu adalah momen yang ditunggu-tunggu juga, menjadi titik awal romansa mereka. Seriously,
dalam adegan itu tidak ada sihir atau apa, hanya dua orang yang mengobrol,
tetapi aku merasa berdebar. Aku seperti tersedot ke dalam percakapan mereka
karena itu adalah salah satu momen yang kutunggu-tunggu di buku ini. Erin
Morgenstern, nice job!
Well, satu kelebihan terakhir dari novel ini: sampulnya.
Novel-novel fantasi dari Mizan tidak pernah mengecewakan soal estetika sampul. The
Night Circus edisi terbit ulang dengan sampul baru ini sungguh brilian!
Siapapun yang melihat sampulnya akan langsung terpikat dan ingin membacanya. Apresiasi
yang tinggi untuk ilustrator dan desainernya.
Kelemahan
Terlepas dari segala hal-hal
indah dalam ceritanya, ada beberapa kelemahan yang kutemukan di buku ini,
terutama di sekiat 100-150 halaman pertama. Yang pertama adalah latar waktunya.
Seperti yang kubilang, kisah ini berlangsung tidak hanya beberapa hari atau
tahun, tapi dekade. Kisah dimulai ketika Celia dan Marco masih anak-anak, lalu
berlanjut ketika mereka mungkin sudah usia 50-an. Aku sempat kesulitan untuk
memahami latar waktunya karena jeda tahun dari bab ke bab berbeda-beda.
Terkadang jedanya beberapa bulan saja, tetapi terkadang jedanya bisa beberapa
tahun. Bahkan di beberapa bab akhir, jedanya hanya beberapa hari atau jam.
Ditambah lagi, lini masa cerita
ini tidak linier. Urutan bab tidak sama dengan urutan latar waktu, maksudnya
adalah bab ketiga mungkin berlatar tahun 1981, tetapi bab keempat mungkin akan
berlatar 2001, lalu bab kelima berlatar 1982, dan bab keenam berlatar 1985.
Jeda waktu antarbab tidak akan sama, tidak linier. Meskipun memberikan
pengalaman unik dalam membaca, aku sempat kesulitan untuk memahami rangkaian
peristiwanya—peristiwa mana yang terjadi duluan dan kemudian, serta sudah
berapa lama waktu berlalu antarperistiwa tersebut. Di beberapa bab awal, itu
agak menyebalkan dan sangat mungkin membuat banyak pembaca baru yang menyerah.
Apalagi, tokoh-tokoh dalam buku
ini ada banyak. Selain latar waktunya yang bergonta-ganti, tokohnya juga.
Memang pusat cerita ini adalah Celia dan Marco, tetapi ada beberapa bab, bahkan
sebagian besar bab awal, yang justru berfokus pada tokoh-tokoh lain. Mereka
bukannya tidak penting, malah sebaliknya, sudut pandang mereka membantu
membangun konteks cerita. Namun, banyaknya nama tersebut sempat membuat
bingung. Apalagi, kadang ada tokoh yang sudah muncul di awal, lalu tiba-tiba
muncul lagi setelah 100 lebih halaman tanpa sedikit pengenalan lagi dia siapa.
Itu cukup menambah pekerjaan dalam membaca buku ini.
Kesimpulan
The Night Circus adalah sebuah novel fantasi yang memukau melalui
banyak hal. Plotnya sebenarnya sederhana, tetapi dirangkai menjadi rumit
sehingga sukses memantik rasa penasaran. Relasi antartokohnya sangatlah
menarik—siapapun akan terkejut melihat bagaimana seluruh tokohnya saling
terhubung. Meskipun lini masa ceritanya lompat-lompat sehingga agak sulit
dipahami, lama-lama kalian akan terbiasa dengannya dan malah akan menyukainya.
Apalagi, gaya narasi Erin Morgenstern sangat memikat. Gaya penulisannya tersebut
sukses menghidupkan atmosfer Sirkus Mimpi, membuat pembaca seolah-olah
merasakan keajaiban sirkus tersebut. Kemudian, romansa antara Celia dan Marco
juga menarik untuk diikuti, dan pada akhirnya, keduanya akan menuntun cerita
menuju akhir yang tidak disangka-sangka. Aku yakin penggemar buku romantasy
akan menyukainya. Maka dari itu, aku beri skor 9/10 untuk novel best-selling
satu ini.
Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!

Komentar
Posting Komentar