Identitas Film
|
Judul |
: |
Suka Duka Tawa |
|
Sutradara |
: |
Aco Tenriyagelli |
|
Produser |
: |
Ajish Dibyo, Tersi Eva Ranti |
|
Tanggal rilis |
: |
6 Desember 2025 (JAFF), 8
Januari 2026 (bioskop) |
|
Rumah produksi |
: |
BION Sinema, Spasi
Moving Image |
|
Penulis naskah |
: |
Indriani Agustina, Aco
Tenriyagelli |
|
Durasi tayang |
: |
2 jam 7 menit |
|
Pemeran |
: |
Rachel Amanda, Teuku Rifnu Wikana,
Marissa Anita, Enzy Storia, Arif Brata, Bintang Emon, Gilang Bhaskara |
|
Genre |
: |
Drama komedi |
Sinopsis
Tawa (Rachel Amanda) tak memiliki ayah. Mungkin, yang lebih tepat adalah ayah Tawa tidak pernah hadir dalam hidupnya. Sejak kecil, Tawa hanya berdua besama sang ibu, Indah (Marissa Anita) atau akrab dipanggil Ibu Cantik. Ayahnya meninggalkan mereka sejak Tawa masih kecil—yang bisa dia ingat adalah orang tuanya bertengkar hebat dan ayahnya tak sengaja melukainya.
Tawa tak peduli pada
ayahnya—lebih baik dia tidak ada dalam hidupnya. Namun, sang ayah malah menjadi
comedian terkenal yang selalu muncul di TV dengan nama panggung Keset (Teuku Rifnu
Wikana). Melalui layar TV, Tawa dapat melihat bagaimana karier sang ayah melejit,
sementara dia dan ibunya hanya tinggal di kontrakan sempit.
Ketika penampilan stand-up
comedy-nya viral dengan materi tentang nasibnya yang memiliki ayah tak
bertanggung jawab, kehidupan Tawa berubah. Banyak orang mengenalinya dari
video-video di media sosial dan peluang kariernya sebagai komika terbuka di
mana-mana. Namun, karena materinya melibatkan sang ayah, Tawa mau tak mau harus
menjalin hubungan kembali dengannya. Dapatkah Tawa memperbaiki hubungan dengan
ayahnya?
Kelebihan
Suka Duka Tawa adalah salah satu film Indonesia yang aku
tunggu-tunggu. Sayang, aku tidak bisa menontonnya di bioskop, karena kota
tempatku tinggal tidak ada bioskopnya. Jadi, aku harus menunggu sampai filmnya
bisa ditonton di platform OTT. Dan sesuai ekspektasi, filmnya bagus!
Yang menarik dari film ini
adalah ada dua fenomena yang ingin ditangkap olehnya: stand-up comedy
dan fenomena fatherless. Itu adalah dua isu yang kontras, tetapi
sama-sama lekat dengan masyarakat Indonesia hari ini.
Sejak tahun 2010-an, tren stand-up
comedy mulai menjamur di Indonesia (maaf kalau salah). Apalagi, ada banyak
kompetisi serta komunitasnya yang melahirkan banyak talenta komika baru di
dunia hiburan Indonesia. Hari ini saja, banyak acara hiburan dan film yang
diisi jebolan kompetisi stand-up comedy. So, I think it’s relevant to
bring up that culture to our cinema world.
Kemudian, sempat viral bahwa
Indonesia adalah negara yang fatherless, meskipun klaim tersebut
belakangan diketahui tak bisa dipertanggungjawabkan. Namun, itu tak mengubah
kenyataan bahwa banyak anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah—atau
ramai dikenal dengan istilah fatherless. Ketidakhadiran sosok ayah dalam
konteks ini tidak hanya karena figur ayah tersebut meninggal, tetapi juga mencakup
ayah yang tidak bertanggung jawab, ayah yang sibuk bekerja sehingga jarang
sekali di rumah, ayah yang berjarak dengan anaknya, ataupun ayah yang tidak
pernah dikenal karena anak tersebut lahir di luar pernikahan.
Menurutku, film Suka Duka
Tawa telah berhasil meramu keduanya menjadi cerita drama komedi keluarga
yang tidak pasaran. Pendekatan stand-up comedy-nya sangat bagus untuk
menjadikan drama keluarga ini terasa fresh. Pendekatan fenomena fatherless-nya
juga dibuat personal, tidak over dramatic, dan tetap lekat. Jadi,
menurutku eksekusi konsepnya menjadi cerita terbilang bagus.
Kemudian, akting Rachel Amanda
sebagai Tawa itu keren banget. Ada momen-momen yang memang komedi, membuat
penonton tertawa, tetapi di saat yang sama terasa juga sedihnya. Apalagi,
adegan (spoiler alert) ketika pertama kali Tawa membawakan materi stand-up
comedy tentang ayahnya. Itu lelucon self-deprecation—lelucon yang
merendahkan dan mengejek diri sendiri—yang lucu bagi yang tidak mengerti,
tetapi menyedihkan bagi Tawa. Kalian dapat melihat bagaimana tatapan Rachel
Amanda nelangsa saat membawakan materinya, tetapi harus dia samarkan sebagai joke.
Itu momen yang keren banget sih untuk karakter Tawa.
Di sisi lain, Teuku Rifnu Wikana
sebagai ayahnya Tawa alias Keset alias Pak Hasan, juga menampilkan range akting
yang baru. Aku selalu melihat Teuku Rifnu Wikana sebagai karakter yang serius di
beberapa filmnya. Agak terkejut ketika melihat dia ternyata bagus berperan
sebagai seorang ayah yang merasa gagal sekaligus pria yang berprofesi sebagai
pelawak. Waktu menonton, aku berpikir, “ternyata Teuku Rifnu Wikana bisa juga ya main
di film yang drama komedi begini, apalagi karakternya kebanyakan bercandanya”.
Masih tentang Pak Hasan alias
Keset, aku capek banget terheran-heran dengan rumahnya. Latar rumah Pak Hasan
penuh dengan barang-barang aneh, yang mempertegas karakternya sebagai komedian.
Ada celengan ayam raksasa dan patung harimau jelek. Aku heran banget itu untuk
apa ada di situ, tetapi oke untuk menambah efek komedi.
Selanjutnya, yang aku sukai dari
film ini adalah kehadiran teman-temannya Tawa. Ada Adin (Enzy Storia), Rais
alias Nasi (Arif Brata), Iyas (Bintang Emon), dan Fachri (Gilang Baskara)—tiga
diperankan oleh komika jebolan kompetisi dan satu diperankan oleh aktris muda
top tanah air. Namanya drama komedi, pertemanan mereka berlima itu ribut
banget, tetapi solid. Mereka selalu mendukung Tawa, termasuk soal memperbaiki
hubungan Tawa dengan ayahnya—aku suka banget itu.
Kemudian, surprisingly,
pertemanan mereka dikonsep supaya seimbang. Ada tiga karakter yang heboh, satu
pendiam tapi aneh, dan satu normal. Nah, yang normal surprisingly (lagi)
adalah karakternya Bintang Emon—agak aneh (in a good way) rasanya
melihat Bintang Emon memerankan karakter yang lempeng. Oh iya, aku juga senang
melihat relasi dia dengan Tawa yang selalu menemaninya ke mana-mana. Sementara
itu, Enzy Storia sebagai Adin juga tampil bagus. Enzy Storia memang lumayan
sering tampil sebagai karakter yang lawak, tapi di sini tuh beda. Interaksi dia
sama Tawa tuh khas anak Jabodetabek banget, yang dikit-dikit mencaci satu sama
lain, tetapi di saat yang sama mereka yang paling keras mendukung satu sama
lain. Kemudian ada Arif Brata dengan karakternya Rais alias Nasi (rice).
Yang paling ngakak adalah (spoiler alert) waktu dia bicara panjang lebar
ke Tawa, tapi malah ditinggal—sial, itu kocak banget! Kalau Gilang Bhaskara
sebagai Fachri yang pendiam, kikuk, dan aneh itu terasa janggal. Risih banget,
tapi juga kocak, karena karakter asli Gilang Bhaskara tidak begitu—lucu deh.
Selanjutnya, mari membicarakan
dramanya. Film ini jago banget menggunakan kedok stand-up comedy untuk
mengemas drama yang emosional dan menohok. Di separuh pertama film, fokus kita
adalah sudut pandang Tawa sebagai anak yang fatherless. Bagaimana dia
tumbuh membawa trauma tersebut serta bagaimana dia berusaha survive in this
economy. Film ini mencoba memperlihatkan seperti apa relasi antara trauma
masa kanak-kanak terhadap karakter seseorang di saat dewasa.
Dalam hal ini, Tawa mungkin
lumayan beruntung karena dapat memanfaatkannya untuk stand-up comedy dan
viral, yang membuka peluang untuknya. Namun, perlu dilihat juga bahwa pada
awalnya itu berat bagi Tawa untuk membicarakan traumanya; kalian dapat
melihatnya dari ekspresi Tawa yang nelangsa.
Yang menarik adalah (spoiler
alert) stand-up comedy dengan materi anak yatim pasif tersebut juga
membuka peluang baginya untuk memperbaiki hubungan dengan sang ayah. Tiap kali
Tawa membawa joke yang self-deprecating dan me-roasting
sang ayah, dia seolah-olah meluapkan segalanya yang dia simpan untuk sang ayah.
Di sisi lain, sang ayah dengan rela menerima itu semua, sekalipun menutup
peluang kariernya, karena ia merasa itu pantas diterimanya. Aku sedikit merasa kecewa
karena mereka tidak melakukannya melalui percakapan empat mata, tetapi aku
mengerti bahwa itu proses yang perlu ditempuh keduanya untuk merasa lega.
Setelahnya, di separuh terakhir,
kita mulai diperlihatkan cerita dari sudut pandang Pak Hasan alias Pak Keset
dan Bu Indah alias Ibu Cantik. Awalnya, kita mulai diperlihatkan bahwa ada juga
masalah antara Tawa dan ibunya. Pertikaian Bu Indah dengan Pak Hasan ternyata
juga membuat hubungan Bu Indah dengan Tawa berjarak. Sewaktu Tawa mencoba membawa materi stand-up
tentang hubungan orang tuanya, aku tidak mau spoiler, tapi yang
pasti ending-nya tidak sesuai rencana Tawa. Kecemasan Tawa begitu terasa
yang menunjukkan ada lapisan trauma lain dalam batinnya yang belum selesai,
yang bahkan dia belum sanggup untuk menertawakannya. Kemudian, ada adegan
ketika Tawa dan ibunya bicara yang seolah menempatkan Tawa di posisi harus
memilih antara ayah dan ibunya. Itu membuatku merinding karena emosi dalam
adegan itu sendiri tinggi banget.
Setelah itu, beban konfliknya
ditambah lagi dengan “mempertemukan” kedua orang tua Tawa. Teuku Rifnu Wikana dan
Marissa Anita sudah bagus banget lah soal akting, tinggal bagaimana ceritanya
saja. Untungnya, drama hubungan suami istri ini terasa sangat manis getir yang
bisa membuat penonton mengerti betapa susahnya menjadi orang tua. Aku tidak
menyangka film ini bahkan sampai menghadirkan (spoiler alert) flashback
ketika Pak Hasan dan Bu Indah belum menikah, ketika hubungan mereka penuh
senyum dan harapan masa depan. Mengetahui bahwa beberapa puluh tahun kemudian
hubungan mereka sedingin dan semati itu, aku menjadi bertanya-tanya, “what
did go wrong?” Sedih banget loh rasanya.
Salah satu adegan paling mengena
dalam film ini adalah (spoiler alert) sewaktu Pak Hasan dan Bu Indah
duduk berdua di meja makan dan mengobrol. Itu adegan yang terlihat sederhana,
tetapi semua beban hati mereka hadir dan sesak di situ. Mantap banget lah!
Terakhir, yang perlu diapresiasi
dari film ini adalah scoring dan soundtrack-nya. Scoring-nya
bagus banget, apalagi waktu Tawa sedang cemas. Itu cuma “Haha”, tapi terasa
mengganggu dan membuatku gelisah. Kemudian, soundtrack yang digunakan,
salah satunya, adalah Bunga Maaf oleh The Lantis. Saat lagu itu diputar, langsung terasa
muram sih suasana filmnya. Cocok banget untuk menggambarkan perasaan sesal yang
ada dalam hubungan Tawa, Ibu Indah, dan Pak Hasan.
Kelemahan
Now let’s talk about the
weaknesses of this movie.
Meskipun filmnya bagus banget, ada beberapa hal yang membuatku risih—atau ya, seharusnya
bisa diperbaiki. Salah satunya adalah transisi konflik yang awalnya antara Tawa
dengan sang ayah menjadi antara Tawa dengan sang ibu. Di awal aku agak
heran—aku berpikir, “kok Tawa jadi berantem juga sama ibunya?” Memang
pengembangannya bagus dan penting untuk sampai di konklusi ceritanya, tetapi
aku kurang merasakan peristiwa yang memicunya.
Kemudian, aku kurang suka dengan resolusi antara Tawa dengan teman-temannya. (Spoiler alert) aku lebih suka kalau Tawa yang minta maaf ke mereka, bukan ibunya. Itu membuat Tawa seperti anak kecil. Padahal, jika Tawa yang meminta maaf kepada mereka, itu bisa menjadi perkembangan karakter baginya.
Terakhir, ini soal penyelesaian
masalah dalam film ini, bagian konklusinya. Aku merasa itu terlalu main aman—terlalu
main aman. Ini soal selera ya, tetapi aku pribadi merasa konklusi filmnya
seharusnya bisa lebih baik daripada itu. Although, aku senang tiap orang
mendapat akhir yang layak mereka dapatkan.
Kesimpulan
Suka Duka Tawa adalah film drama menohok yang berkedok komedi. Pendekatan stand-up comedy-nya dipadukan dengan konflik tentang anak yang fatherless—atau kalau kata film ini: yatim pasif. Rachel Amanda, Marisa Anita, serta Teuku Rifnu Wikana berhasil mengeksekusi drama keluarga yang begitu kompleks yang dibalut komedi self-deprecating yang mantap. Apalagi, alur ceritanya dirangkai sedemikian rupa sehingga fase-fase konfliknya dapat dinikmati penonton, walaupun ada beberapa bagian yang sedikit membuatku risih juga. Meskipun begitu, ceritanya tetap menyenangkan kok, terutama karena teman-temannya Tawa membuat cerita makin warna-warni. Jadi, kalau ditanya ini film yang “Haha” atau “Hihi”, jawabannya ini film yang “Haha Hihi”—tidak bisa hanya salah satu. Silakan kalian tonton film ini bareng keluarga atau teman-teman kalian. Skornya aku kasih 8,8/10. Selamat menyaksikan suka dukanya Tawa.
Kalian bisa menonton Suka Duka Tawa di Netflix. Silakan tonton trailer-nya di bawah ini.
Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!












Komentar
Posting Komentar