Si Paling Aktor: Film Komedi-Action yang Predictable, tapi Kocak-able

Identitas Film

Judul

:

Si Paling Aktor

Sutradara

:

Ody C. Harahap

Produser

:

Manoj Punjabi, Muhammad Arif

Tanggal rilis

:

30 Oktober 2025

Rumah produksi

:

MD Pictures

Penulis naskah

:

M. Ali Ghifari, Ody C. Harahap, Adhitya Mulya

Durasi tayang

:

1 jam 35 menit

Pemeran

:

Jourdy Pranata, Beby Tsabina, Kevin Julio, Yeyen Lidya, Kenny Austin

Genre

:

Drama komedi, action

 

Sinopsis

Sejak kecil, Gilang (Jourdy Pranata) bercita-cita menjadi seorang aktor. Dia suka sekali menonton film dan bahkan, dia hapal banyak dialog film. Ibunya (Yeyen Lidya) selalu mendukungnya. Namun, sudah di usia dewasa dan sudah 10 tahun ikut audisi sana-sini, Gilang paling mentok hanya menjadi figuran tanpa dialog.

Padahal, Gilang sangat berdedikasi terhadap semua perannya, sekalipun hanya figuran. Dia melakukan riset dan pendalaman peran, termasuk memakai metode akting serta berimprovisasi. Itu adalah bentuk cintanya kepada seni peran. Namun, rupanya itu tidak cukup membawanya untuk sukses di industri hiburan. Malahan, banyak yang tidak suka padanya karena dia dianggap “si paling aktor.”

Akhirnya, pihak manajemennya berkata ini adalah kesempatan terakhir Gilang. Dia sendiri juga sudah lelah menjadi beban bagi ibunya yang sudah tua. Dia tidak akan menyia-nyiakan perannya di film ini, walaupun cuma menjadi figuran hantu tentara Jepang.

Akan tetapi, segalanya berubah arah ketika dia, seorang aktris naik daun, seorang aktor ternama, dan seorang sutradara diculik saat berada di lokasi syuting. Sebenarnya, apa yang terjadi? Apa yang diinginkan orang-orang itu? Gilang, dengan seluruh keterampilan yang ia dapatkan selama berkarya sebagai aktor, harus menyelamatkan semua orang. Inilah kesempatannya untuk bersinar!

 

Kelebihan

Sampul buku Si Paling Aktor

Sudah lama aku tidak menonton film komedi-action Indonesia. Eh tapi, bukan berarti sudah lama tidak ada film komedi-action Indonesia yang tayang ya; hanya akunya yang baru menonton lagi film genre tersebut sekarang. Entah mengapa, di malam takbiran lalu aku malah memilih menonton Si Paling Aktor ini bareng keluargaku.

Aku sudah lumayan lama tahu tentang film ini, karena beberapa kali ke bioskop—which is termasuk jarang karena aku hanya ke bioskop tidak sampai lima kali di tahun 2025 kemarin sebab aku tinggal di kota yang tidak ada bioskopnya untuk kerja—aku melihat posternya di sana. Aku juga sempat lihat film ini ternyata diadaptasi dari buku berjudul sama karya Adhitya Mulya, yang juga pernah menulis Jomblo dan Sabtu Bersama Bapak (kedua judul tersebut juga sudah difilmkan).

Surprisingly, aku ternyata suka dengan film ini. Aku membayangkan ini akan menjadi film komedi-action dengan skala produksi yang besar, yang heboh banget pokoknya. Namun rupanya tidak. Vibe filmnya mirip banget dengan film-film komedi lokal tahun 2000-an—sederhana tapi plotnya padat dan terstruktur. Pokoknya, bagi aku yang mengutamakan kerapihan alur atau plot cerita, film ini termasuk bagus.

Mengapa aku bilang vibe-nya mirip film komedi Indonesia tahun 2000-an? Karena ada satu scene yang mengingatkanku ke film Punk in Love (2009)—film pertama yang kutonton di bioskop, dan ternyata juga disutradarai oleh Ody Harahap. Kalian yang pernah nonton film Punk in Love pasti akan tahu adegan mana yang kumaksud. Itu referensi yang bagus untuk menambah komedinya.

Desain produksi film ini tidak megah—sederhana serta hanya berpusar pada Gilang dan misinya menyelamatkan semua orang. Sekuensnya disusun untuk memperlihatkan bahwa Gilang adalah aktor serba bisa, punya banyak keterampilan demi mendalami peran-perannya. Misalkan, (spoiler alert) untuk memperlihatkan Gilang bisa bela diri, ada adegan Gilang bertarung melawan para penculik; tetapi tidak perlu sampai melawan sepasukan penculik kayak gangster, cukup 2–4 orang saja. Kemudian, walaupun ada adegan ketika Gilang dan yang lainnya kabur dengan membawa mobil dan truk, tidak perlu repot ada adegan kejar-kejaran mobil di jalan. Jadi, cerita tetap disusun agar memberi panggung bagi Gilang untuk unjuk kebolehan, tetapi tidak sampai yang heboh berlebihan—serderhana tapi efektif.

Kemudian, urusan plot cerita, aku suka plotnya karena terstruktur dan rapih dari awal ke akhir. Di awal kita sudah tahu jelas tujuan cerita ini apa dan memang sepanjang perjalanan cerita kita menyaksikan bagaimana si tokoh utama mewujudkannya. Aku tidak bilang film yang plotnya tidak straightforward seperti itu jelek, tetapi aku menekankan bahwa film ini memiliki alur cerita yang jelas sehingga penonton bisa menikmatinya. Penonton tidak perlu banyak berpikir saat menontonnya—tinggal duduk, lalu siap-siap dihibur.

Aku juga suka dengan chemistry Gilang dan tokoh-tokoh lainnya. Yang paling aku suka adalah chemistry Gilang dan ibunya. Adegan-adegan mereka di awal menjadi modal yang kuat untuk jalan ceritanya. Kemudian, interaksi Gilang dengan Rachele (Beby Tsabina) dan Tegas (Kevin Julio) juga asyik dan seru. Komedi di antara mereka bertiga berhasil sih. Aku banyak ngakaknya melihat mereka. Oh iya, bahkan interaksi para penjahatnya juga lucu banget. Screentime mereka tidak banyak, tapi kocaknya maksimal.

Selain itu, aku rasa ide cerita film ini terbilang jarang di dunia perfilman lokal. Film ini membahas profesi aktor tetapi bukan dari sudut pandang aktor terkenal, melainkan seorang aktor figuran. Kita juga dapat melihat bahwa di Indonesia, profesi aktor/aktris sangatlah kompetitif dan tidak bisa diremehkan.

Namun, mungkin hal unik yang kupelajari mengenai profesi aktor melalui sosok Gilang adalah bahwa aktor merupakan profesi yang memungkinkan seseorang menjalani berbagai macam kehidupan. Setiap peran memiliki ceritanya sendiri yang menuntut seorang aktor/aktris bisa menghidupkan peran tersebut. Oleh karena itu, seorang aktor/aktris pasti harus kaya pengalaman serta keterampilan selain akting itu sendiri. Itu jelas bukanlah pekerjaan mudah.

Berikutnya, selain tentang profesi aktor, ada pesan menarik dalam film ini yang bisa kita pelajari. Pesan yang kerap disampaikan oleh Gilang, yaitu: kesuksesan itu adalah ketika kesempatan bertemu dengan kerja keras. Kesempatan itu asalnya dari Tuhan dan kerja keras berasal dari diri sendiri. Jadi, karena kita tidak tahu kapan kesempatan tersebut datang, kita harus terus berusaha dan mempersiapkan diri sebelumnya supaya ketika kesempatan itu akhirnya datang, tidak terlewatkan atau tersia-siakan begitu saja.

 

Kelemahan

Kelemahan film ini adalah mudah ditebak, hehehe. Alur ceritanya terstruktur dan vibe-nya mirip banget dengan film-film komedi tahun 2000-an, maka kalian yang biasa menonton film-film drama/komedi di zaman itu sangat mungkin bisa menebak alur ceritanya. Kalaupun ada kejutan, itu tidak terlalu mengejutkan. Sebenarnya itu bukan hal yang buruk, tetapi tidak cukup untuk meng-hook beberapa penonton.

Selain itu, motivasi para tokoh pendukung di film ini terasa flat. Aku tidak melihat ada urgensi dalam motivasi Rachele dan Tegas untuk membantu Gilang. Bahkan, Rachele yang merupakan pacarnya Kevin, menurutku, akan lebih aman jika dia tidak ikut Gilang. Skripnya belum cukup mampu meyakinkanku mengapa Rachele dan Tegas harus ikut.

Oh iya, (spoiler alert) romansa antara Gilang dan Rachele juga tipis sekali. Oke, kalian yang terbiasa dengan film komedi Indonesia di awal tahun 2000-an pasti bisa menebak dari awal bahwa akan ada romansa antara Gilang dan Rachele, tapi aku pribadi mengharapkan sesuatu yang lebih dalam, tidak secetek ini. Meskipun romansa tersebut sudah “ditanam” sana-sini di awal, aku tetap merasa agak tiba-tiba banget romansanya dimunculkan di film. Bagiku, romansanya hambar, padahal masih bisa dimaksimalkan.

 

Kesimpulan

Si Paling Aktor adalah film komedi-action yang bisa membawamu nostalgia ke film-film tahun 2000-an. Desain produksinya membuat vibe film ini seperti film-film komedi di era itu: tidak heboh tapi tetap efektif. Film ini terbilang unik karena mengambil sudut pandang aktor figuran yang kariernya mandek, padahal dia punya skill yang luar biasa. Aku pribadi salut pada dedikasi karakter Gilang terhadap pekerjaannya—itu baru orang yang mencintai pekerjaannya. Karakternya tersebut juga memperlihatkan penonton bahwa profesi aktor/aktris itu tidaklah mudah serta menuntut usaha ekstra, tetapi di saat yang sama, profesi tersebut juga memberikan kesempatan seseorang untuk menjadi orang lain dan menyampaikan cerita-cerita mereka.

Meskipun ada beberapa kelemahan pada motivasi para tokoh pendukung yang kurang urgen serta romansa yang tidak dimaksimalkan, interaksi para tokohnya mampu membuat cerita ini menyenangkan. Ada banyak komedi lucu yang menghibur penonton sepanjang cerita ini. Aku berikan skor 7/10 untuk film satu ini. Aku pikir film ini cocok ditonton semua orang—bisa bareng keluarga, teman, dan pasangan—tetapi ada beberapa adegan kekerasan sehingga harus ditonton orang yang sudah cukup umur ya.

Kalian bisa menonton Si Paling Aktor di Netflix. Silakan tonton trailer-nya dulu di sini.


***

Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post! 

Komentar