Identitas Buku
|
Judul |
: |
Eat My Belly |
|
Penulis |
: |
Vica Lietha |
|
Penerbit |
: |
Noura Books |
|
Tahun terbit |
: |
2025 |
|
Cetakan |
: |
I |
|
Tebal |
: |
384 halaman |
|
ISBN |
: |
9786232424753 |
|
Genre |
: |
Fiksi kontemporer, komedi
romantis, metropop |
Tentang Penulis
Vica Nourma Lietha, akrab dipanggil Vica Lietha, lahir di Bogor,
7 Maret 1986, lalu menghabiskan masa kecil di Samarinda, Kalimantan Timur, dan
masa dewasa di Cilegon, Banten. Dia adalah lulusan S1 Fakultas Hukum di Universitas
Negeri Sultan Ageng Tirtayasa dengan beasiswa dan gelar summa cum laude.
Sebelum menjadi penulis, Vica Lietha pernah bekerja sebagai
karyawan perusahaan, penyiar berita, produser, tim kreatif program TV, hingga
dosen public speaking. Dia orang yang sangat ingin tahu dan tidak bisa
diam. Karakternya itulah yang mendorongnya mengikuti banyak kompetisi, yang
membawanya sampai menjadi anggota paskibraka pembawa baki pagi bendera pusaka
Provinsi Banten 2002, runner-up Nong Banten 2007, dan Duta Wisata Kota
Cilegon 2007.
Berbekal pengalaman kariernya sebagai jurnalis selama 14
tahun, Vica Lietha menjajaki dunia kepenulisan fiksi secara serius dengan
menulis cerita fiksi di platform daring sejak tahun 2020. Sampai pada akhirnya,
novel Eat My Belly (2025) menjadi Top 10 dalam kompetisi Mizan Writing
Bootcamp 2022.
Selain menulis, Vica senang memasak, melakukan eksperimen
ilmiah sederhana—yang membuat heboh orang-orang—menyanyi, melukis, dan menonton
film action, terutama tentang zombi. Kini, Vica Lietha tinggal bersama
dua anaknya yang manis dan suaminya yang romantis.
Sinopsis
Karin Safari tidak pernah merasa minder karena bentuk
tubuhnya. Biarpun berat badannya sudah melewati angka 100 kg di timbangan,
Karin tidak risau. Dia tetap makan dan minum apapun yang dia inginkan atas
dasar prinsip hidup cuma sekali. Lagipula, menuruti keinginan perutnya juga
adalah bentuk cinta pada diri sendiri, kan? Karin juga sudah punya pacar yang
ganteng dan setia padanya. Bahkan, mereka sudah siap melanjutkan ke jenjang
yang lebih serius.
Namun, itu semua berubah ketika Karin bikin kacau di
pernikahan sepupunya dan membuat seluruh keluarganya malu. Kejadian tersebut
adalah permulaan dari berbagai rentetan musibah yang akan mengubah hidup Karin.
Apalagi, ketika Karin divonis mengidap diabetes tipe 2—sebuah vonis yang
menjadi tamparan bagi wanita itu.
Mau tidak mau, Karin harus menata kembali hidupnya. Bersama
dokter ganteng yang galak, Dokter Raza, Karin memulai perjalanannya untuk tak
hanya mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, tetapi juga menata kembali
hatinya yang berantakan karena berbagai rentetan musibah. Akankah Karin
berhasil melalui itu semua dan keluar sebagai pemenang dalam kisah hidupnya
yang penuh tragedi dan komedi ini?
Kelebihan
Siapa yang suka baca buku genre romcom? Aku pribadi
termasuk penggemar romcom dan menurutku, Eat My Belly termasuk
cerita romcom yang proper dan asyik dibaca. Pertama-tama, yang
membuat buku ini menarik adalah tokoh utamanya, Karin Safari, merupakan
representasi perempuan bertubuh besar sekaligus penderita diabetes melitus.
Cerita yang representatif seperti ini—yang dalam kasus ini adalah representasi
orang bertubuh besar (plus size) dan menderita penyakit kronis (chronic
illness)—memang sedang menjadi tren. Namun, penulis, Kak Vica Lietha, tidak
sekadar mengikuti tren; dia benar-benar melakukan kerja bagus dalam
menghadirkan representasi ini.
Kalau bicara soal representasi orang bertubuh besar, aku
teringat film Imperfect (2019). Namun, Eat My Belly tidak
membahas problem orang bertubuh besar dari perspektif isu kecantikannya,
melainkan isu kesehatannya. Jadi, salah satu kritikku untuk film Imperfect
adalah walaupun di akhir si tokoh utamanya, Rara (yang diperankan Jessica
Mila), sadar bahwa memiliki tubuh fit dan berolahraga itu penting untuk
kesehatan dan bukan kecantikan, sepanjang ceritanya (kalau aku tidak salah
ingat ya) tidak ada bagian yang mengarah ke isu kesehatan tersebut; sepanjang
film hanya membicarakan insecurity Rara akan bentuk tubuhnya yang gemuk.
Filmnya lebih banyak membicarakan standar kecantikan. Makanya, aku kurang sreg
ketika kesimpulannya malah tubuh fit serta berolahraga itu penting untuk
kesehatan.
Eat My Belly tidak seperti itu. Di
dalamnya ada juga tentang kecantikan, tapi sedari awal poin utamanya adalah
tentang kesehatan. Buku ini ingin mempromosikan pentingnya menjaga pola hidup
sehat agar kita bisa hidup lama bersama orang-orang yang kita sayang, dan salah
satu caranya adalah dengan memiliki tubuh yang fit lewat olahraga rutin
dan diet yang sehat dan seimbang. Jadi, tubuh langsing dan fit dalam
cerita ini bukan semata demi si tokoh utama merasa lebih percaya diri terhadap
bentuk tubuhnya, tetapi memang demi kesehatannya. Maka dari itu, isu yang
diangkat dan kesimpulan di akhir ceritanya cocok.
Di samping menjadi representasi orang berbadan besar, buku
ini juga representasi orang dengan penyakit kronis. Karin adalah penyandang
diabetes melitus tipe 2. Oleh karena itu, di dalam cerita ini, kita akan banyak
mendapat informasi tentang penyakit tersebut serta informasi pola hidup sehat.
Melalui tokoh Dokter Raza, kita bisa belajar tentang penyakit diabetes itu
sendiri, termasuk penyebab dan faktor-faktor yang memengaruhi risikonya. Kita
juga diajak mengenal diet berigizi dan seimbang yang baik untuk menjaga
kesehatan serta beberapa bahan makanan yang cocok dengan diet tersebut. Ada
juga olahraga apa yang bagus untuk orang-orang obesitas dan penderita diabetes.
Aku yang membaca buku ini sambil minum es kopi susu dan camilan manis langsung
tersindir, hehehe. Penulis ingin memastikan bahwa buku ini tidak asal
mempromosikan pola hidup sehat tanpa benar-benar memberikan edukasi soal itu.
Selain itu, aku suka dengan gaya kepenulisannya penulis
karena tetap mengalir dan nyaman dibaca, meskipun banyak eksposisinya.
Penyampaian eksposisi tersebut bergaya khas cerita metropop-komedi yang
membuatnya mudah dipahami.
Masih tentang representasi orang dengan penyakit kronis, selain
berbagai informasi soal penyakit diabetes dan pola hidup sehat, penulis juga
menghadirkan cerita dari sudut pandang Karin yang akan terasa lebih personal. Aspek
representasinya pun tidak sekadar menjadi bahan untuk edukasi, tetapi memang
menjadi bagian dari cerita tersebut. Seperti yang banyak orang sudah tahu,
diabetes itu penyakit turunan, itu berarti ada anggota keluarga Karin yang juga
bernasib sama seperti dia. Itu menjadi bagian yang menyakitkan hati banget.
Padahal, bab-bab sebelum peristiwa itu terjadi vibes-nya komedi banget,
masih ketawa-ketawa, tetapi langsung berubah drastis.
Kemudian, ada beberapa kalimat penyemangat untuk para pasien
diabetes. Jadi, dalam cerita ini, (spoiler alert) Karin akan bertemu
pasien-pasien diabetes lainnya dalam klub diabetes yang dibentuk Dokter Raza.
Dengan bertemu orang-orang dengan nasib yang sama, Karin bisa belajar untuk
menerima nasibnya dan jadi lebih semangat untuk berjuang, memberinya keyakinan bahwa
ia tidak sendirian dalam perjuangan ini. Dokter Raza pun mengingatkan bahwa
melawan diabetes akan menjadi perjalanan yang panjang dan tak mudah, tetapi bukan
mustahil. Itu memberikan motivasi hangat bahkan untukku secara pribadi Aku
salut penulis terpikir untuk memunculkan hal tersebut karena aku yakin jika ada
pembaca yang kebetulan seorang penderita diabetes, mereka bisa merasa tidak
sendirian lagi.
Hal lainnya yang menjadi keunggulan buku ini adalah
perkembangan karakter Karin. Karin di awal begitu self-centered, hanya
memikirkan apa yang ia senangi. Dia bikin onar sana-sini, tapi selalu merasa
tak bersalah, merasa apa yang dia buat tak seburuk itu dan seharusnya dimaklumi.
Itulah yang membawanya masuk ke banyak masalah di awal buku.
Akan tetapi, ketika kemalangan demi kemalangan menimpanya,
runtuhlah semua pertahanannya. Sikap self-centered-nya tersebut
merupakan benteng yang dia bangun untuk membuat dirinya percaya diri dalam
pergaulan, tapi benteng itu runtuh dan menyadarkan Karin bahwa dia keliru. Dia
pikir self-centered adalah self-love, padahal bukan. Aku ikut
patah hati membaca bagian ini dan ingin memeluk Karin. Yang aku sayangkan
adalah Karin harus mempelajari itu the hardest way—seriously, it was
the hardest way.
Barulah setelah itu hubungannya dan Dokter Raza dimulai. Aku
suka bagaimana Karin sungguh-sungguh ingin berubah—tak hanya mengubah pola
hidup, diet, dan bentuk tubuh, tetapi juga pola pikir dan sikapnya terhadap
diri sendiri. Oleh karena itu, perjalanan Karin untuk sembuh sejatinya juga
perjalanan Karin untuk kembali menata hati dan mengubah caranya memangdang diri
sendiri. Dia perlahan bertransformasi menjadi wanita yang percaya diri dan
mawas diri. Keren banget pokoknya!
Di sepanjang perjalanan tersebut, akan ada banyak
adegan-adegan komedinya. Komedinya bukan datang dari dialog yang sengaja dibuat
lucu, tetapi dari interaksi dan sikapnya Karin yang semberono. Aku yakin kalian
akan ngakak membaca celetukan dan kelakuan Karin yang ada-ada saja. Aku
terkadang geleng-geleng kepala dengan sikap dan pikiran Karin—lucu banget loh.
Mulai dari (spoiler alert) pura-pura kesurupan di resepsi pernikahan, menerobos
kerusuhan penonton sepak bola, sampai marah-marah sendiri ke helm karena pacar
yang selingkuh di parkiran ruko. Pokoknya, bersiaplah dibuat ketawa oleh
tingkahnya Karin.
Oke, selain Karin, ada Dokter Raza yang sungguh green flag.
Raza ditampilkan sebagai pria matang, mapan, dan kaya—yang kata penulis mirip
Yoshi Sudarso; kalian jadi mudah memvisualkannya di imajinasi kalian. Yang aku
suka dari karakter Raza adalah sikap dewasanya meladeni Karin. Dia juga begitu
perhatian pada Karin dan keluarganya. Dia sungguh-sungguh mengeluarkan effort
besar demi Karin. Aku salut banget mengenai hal itu. Belum lagi jurus-jurus
gombalnya yang suka meluncur tiba-tiba—tidak hanya bikin Karin baper,
tapi pembaca pun juga ikut senyum-senyum.
Romansa antara Karin dan Raza pun terasa dewasa, walaupun
tetap bernuansa komedi. Tidak ada drama bertele-tele karena memang salah satu
pihak dalam kasus ini, yakni Raza, sudah mature. Orientasi hubungan
mereka pun sudah bukan main-main lagi, tetapi pernikahan, dan keduanya sudah
memperjelas itu sedari awal. Karena itu juga, cerita kita bisa lebih fokus pada
perkembangan karkater Karin untuk menjadi lebih sehat, tidak teralihkan drama
percintaan yang rumit.
Selanjutnya, selain kedua tokoh utamanya tersebut, aku juga
tertarik pada tokoh-tokoh pendukungnya. Mereka semua pasti akan mencuri
perhatian kalian. Sebagian besar adalah keluarga Karin: Aldi, adiknya Karin;
Omah Sarmani, neneknya Karin; dan Mang Jai, kakek yang dihormati di keluarganya
Karin; lalu ada juga teman-temannya Karin, seperti Teh Ice, Pak Doni, dan Ci
Jeni. Kehadiran mereka membuat buku ini lebih berwarna dan hangat. Aku suka
sekali interaksi mereka dengan Karin dan Raza.
Di awal buku, Karin pun kerap mengeluhkan orang-orang di
sekitarnya itu, padahal merekalah yang selalu ada untuknya. Di saat Karin
sedang terpuruk, orang-orang itulah yang menemani Karin dan membantunya bangkit
kembali. Aku bahkan salut banget pada Omah Sarmani yang bersikap bijak sekali
mendukung Karin. Dan aku lega karena pada akhirnya Karin bisa melihat itu,
bahwa dia dikelilingi orang-orang yang sayang padanya, bahwa dia layak untuk
dicintai sehingga tak seharusnya dia membenci dirinya, juga bahwa orang-orang
tersebut tidak peduli Karin gemuk atau kurus, yang penting Karin sehat dan
bahagia supaya bisa hidup panjang.
Kelebihan berikutnya dari buku ini adalah latarnya, yaitu
Kota Cilegon, Banten, yang tak hanya dijadikan latar tempat oleh penulis,
tetapi juga menjadi bahan untuk mempromosikan seni dan budaya Banten. Ini buku
pertama yang aku baca yang latarnya di Cilegon—dan kebetulan aku belum pernah
ke sana—maka aku senang sekali bisa membaca banyak informasi tentang kota
tersebut dari sudut pandang warganya. Penulis tampaknya ingin mempromosikan
kota Cilegon agar tak hanya dikenal sebagai kawasan industri baja semata,
tetapi juga sebagai kota yang memiliki seni dan budaya yang menarik, seperti
tari tradisional dan makanan tradisional. Selain itu, beberapa dialog dalam
buku ini, terutama yang disampaikan Omah Sarmani dan Mang Jai, berbahasa asli Jawa
Serang. Aku merasa itu memperkuat latarnya—bahwa latarnya tidak sekadar latar,
melainkan bagian penting yang mengonstruksi konteks cerita dan tokoh-tokohnya.
Kelebihan terakhir—ini sesuatu yang sepele, tapi unik banget—adalah
pembatas bukunya. Pembatas bukunya tuh bukan seperti pembatas buku pada
umumnya. Pembatas bukunya berupa kartu infografik tentang tumpeng gizi
seimbang, yakni panduan untuk menyajikan makanan bergizi seimbang sebagai diet
sehari-hari. Itu lucu banget, hehehe.
Kelemahan
Kelemahan yang aku rasakan ada dalam buku ini terletak di
karakter Raza. Dia terlalu green flag, tak ada cela. Jika kita ingin
realistis, semua orang pasti memiliki cela, walaupun hal kecil, tetapi Raza
tidak. Hal itu menjadikannya tidak seimbang dengan Karin yang serba banyak
masalahnya di dalam buku ini. Dan dari perspektif yang lebih “serius”, itu
memperlihatkan Karin sebagai perempuan itu impulsif dan emosional, sementara
Raza sebagai laki-laki itu bijak dan dewasa. Karakternya jadi timpang banget
dan seolah-olah mempertegas stereotipe gender.
Akan lebih bagus kalau Raza juga memiliki cela, sekalipun itu
sepele. Misal, Raza ternyata takut gelap atau takut setan. Itu bisa menjadi
selingan humor juga dalam cerita serta membuat karakternya lebih realistis.
Kesimpulan
Eat My Belly adalah novel metropop-romcom yang patut dibaca semua orang. Novel ini sudah pasti kocak dengan berbagai leluconnya dan menggemaskan dengan berbagai gombalannya. Kalian akan dibuat suka pada Karin dan Raza yang dinamikanya lucu banget. Tidak hanya itu, novel ini merupakah representasi orang bertubuh besar (plus size) dan orang berpenyakit kronis (chronic illness). Karin, si tokoh utamanya, menderita diabetes melitus tipe 2, dan karenanya di dalam buku ini akan ada banyak informasi tentang penyakit diabetes, pola hidup sehat, serta motivasi untuk para pasien diabetes di luar sana. Penulis pun memanfaatkan materi representasi tersebut dengan sangat baik, bukan asal mengikuti tren.
Selain itu, kalian juga akan bertemu tokoh-tokoh pendukung yang keren-keren dan kocak-kocak—akan ramai pokoknya. Meskipun Raza terlalu green flag sampai terkesan tidak realistis, aku tetap yakin ia akan membuat banyak pembaca baper. Sementara itu, karakter Karin akan menghadirkan perjalanan transformasi yang mengagumkan—tak hanya transformasi menjadi lebih sehat, tetapi juga menjadi lebih bahagia. Oleh karena itu, aku beri skor 8,6/10 untuk Eat My Belly. Buku ini cocok untuk semua orang, remaja hingga dewasa, terutama teman-teman yang sedang berjuang melawan diabetes ataupun keluarganya. Kalian tidak sendiri, banyak orang yang sedang berjuang; jadi jangan menyerah ya!


Komentar
Posting Komentar