The Dragon's Promise: Petualangan Putri Shiori Berlanjut—Sebuah Petualangan Epik tentang Keluarga, Cinta, dan Untaian Benang Nasib
Identitas Buku
|
Judul |
: |
The Dragon’s Promise |
|
Penulis |
: |
Elizabeth Lim |
|
Penerjemah |
: |
Reni Indardini |
|
Penerbit |
: |
Bentang Pustaka |
|
Tahun terbit |
: |
2024 |
|
Cetakan |
: |
I |
|
Tebal |
: |
440 halaman |
|
ISBN |
: |
9786231863737 |
|
Genre |
: |
High fantasy, petualangan, romantis, young adult |
Tentang Penulis
Elizabeth Lim tumbuh di besar di
Amerika Serikat dan Jepang. Dia tumbuh bersama dongeng, mitos, dan lagu yang
hangat. Dia sudah mendongeng sejak usia 10 tahun dengan menulis fanfiction untuk Sailor Moon, Sweet Valley,
dan Star Wars. Namun, ketika guru
bahasa Inggrisnya mengkritik esainya, dia berhenti menulis cerita dan fokus
untuk tidak mendapatkan nilai jelek pada bahasa Inggris.
Ketika dewasa, Elizabeth Lim
berprofesi sebagai komposer film dan video
game. Dia memiliki gelar A.B. dalam musik dan studi Asia Timur dari Havard
College, gelar sarjana dari The Julliard School, serta gelar doktor dalam
komposisi musik. Akan tetapi, dia selalu rindu menulis cerita.
Pada suatu hari, dia mulai
menulis novel kembali, hanya iseng-iseng. Namun, itu berubah menjadi serius dan
sejak saat itu, dia tak pernah menoleh ke belakang. Kini, Elizabeth Lim telah
menulis beberapa judul buku best-selling dan
dirinya pun telah menjadi penulis best-seller
versi New York Times, Sunday Times, dan USA TODAY.
Beberapa karya terkenalnya
adalah dwilogi Blood of Stars, yaitu Spin the Dawn (2018) dan Unravel
the Dusk (2020); serta dwilogi Six
Crimson Cranes, yaitu Six Crimson
Cranes (2021) dan The Dragon’s Promise (2022). Dwilogi
Six Crimson Cranes tersebut juga memiliki dua buku spin-off, yaitu Her Radiant Curse (2023) dan The Forgery of Fate (2025).
Karya terbarunya adalah Fishbone
Cinderella yang direncanakan
terbit pada tahun 2026.
Saat ini, Elizabeth tinggal di
New York bersama suami dan putrinya.
Sinopsis
![]() |
| Shiori'anma, darah bertuah Kiata |
Setelah berhasil melepas kutukan pada dirinya dan
kakak-kakaknya, Putri Shiori melanjutkan petualangan. Dia sudah berjanji kepada
mendiang ibu tirinya, Raikama, untuk mengembalikan mutiara naga nista milik
Raikama kepada pemilik sahnya—sosok yang disebut Siluman. Namun, ada banyak
pihak yang menginginkan mutiara tersebut. Ditambah lagi, mutiara nista itu
seperti memiliki pikirannya sendiri. Petualangan Shiori tidak akan mudah.
Ditemani keenam kakak laki-lakinya; sahabatnya, Kiki si
burung bangau kertas; Seryu, sang Pangeran Naga; dan Takkan, kekasihnya yang
berhati lembut, Shiori melanjutkan petualangannya. Dia harus menjelajahi negeri
naga, Ai’long, di kedalaman laut dan berhadapan dengan sang Raja Naga Nazayun
dan putrinya yang penuh muslihat. Kemudian, Shiori harus ke Pulau Lapzur, tempat
sang Siluman berada, bersama sepasukan iblis yang dikurung di sana. Shiori juga
dikejar oleh Bandur sang Raja Iblis yang menginginkan darahnya untuk
membebaskan para iblis di Pegunungan Timur. Di saat yang sama, penduduk Kiata ingin
menangkap dan membunuhnya karena Shiori adalah darah bertuah Kiata.
Petualangan ini tidak akan mudah, dan Shiori tahu itu. Akan
ada hal yang perlu dia korbankan dan setelah semua ini selesai, tidak mungkin
semuanya akan tetap sama seperti dulu. Meskipun begitu, Shiori tetap harus melakukannya
demi menunaikan janji kepada sang ibu tiri.
Kelebihan
Sebelum masuk ke reviu, aku mau cerita sedikit dulu tentang buku
ini. Buku ini adalah sekuel dari Six Crimson Cranes (baca reviunya di sini), sekaligus buku terakhir dari petualangannya Putri Shiori. Aku
membaca buku ini tahun 2025, which is sudah ada jeda waktu hampir
setahun sampai aku menulis reviunya. Di samping itu, buku pertamanya, yang Six
Crimson Cranes tersebut, aku baca di 2023, which is udah hampir tiga
tahun lalu. Jadi, sudah lupa-lupa ingat sama isi bukunya, baik yang ini ataupun
yang pertama. Namun, aku akan mencoba mereviunya sebaik mungkin, walau
sepertinya akan sulit untuk dibanding-bandingkan secara detail ya. Semoga
reviuku masih bisa meyakinkan kalian untuk baca ini, hehehe.

Sampul Six Crimson Cranes (kiri) dan The Dragon's Promise
(kanan) versi Indonesia
Omong-omong sebelum masuk ke isi bukunya, aku mau
mengapresiasi dulu luar bukunya, yaitu sampulnya. Serius, aku suka sekali
dengan sampul edisi bahasa Indonesia ini. Memang sampul novel-novel Indonesia
itu superior sih daripada versi Amerika, walau bukan berarti yang versi Amerika
jelek ya. Apalagi, sampul edisi bahasa Indonesia ini sengaja dibuat serasi
dengan buku pertamanya, Six Crimson Cranes. Kalau disandingkan, gambar
keduanya saling bersambung. Tentu aku harus mengapresiasi Kak Muthofa Nur
Wardoyo, selaku desainer sampulnya, dan Kak Sulton, selaku ilustrator
sampulnya.

Sampul The Dragon's Promise versi Amerika (kiri) dan
Inggris (kanan)
Baiklah, sekarang mari membicarakan isi bukunya. Pertama-tama,
aku masih suka dengan semesta ciptaan Elizabeth Lim ini, yaitu semesta Lor’yan.
Aku masih dibuat kagum dengan negeri Kiata yang tidak melarang sihir. Aku suka
dengan konsep dasarnya tersebut yang langsung menjadi bahan konflik bagi si
tokoh utama. Kemudian, di buku ini, kita diajak melihat tempat-tempat lain di
dalam semesta tersebut. Oh iya, buku ini dilengkapi dengan peta semesta Lor’yan
yang menampilkan tempat-tempat yang didatangi Shiori sehingga memudahkan
pembaca untuk membayangkan petualangannya.
Aku suka sekali ketika Shiori, Seryu, dan Kiki pergi ke Ai’long,
negeri kaum naga, yang terletak di dasar laut. Sejujurnya, aku tidak terbiasa
dengan konsep negeri naga yang berada di dasar laut sebab aku berpikir naga
adalah makhluk langit, maka lebih cocok kalau negeri naga ada di gunung tinggi.
Kebanyakan cerita fantasi yang kukonsumsi biasanya menghadirkan negeri manusia
ikan yang ada di dasar laut, seperti Atlantis, misalnya. Namun, Elizabeth Lim,
yang mengambil inspirasi dari mitologi di wilayah Asia Timur, menjadikan negeri
naga di dasar laut. Makanya aku merasa ada kesan kebaruan dalam cerita ini. Apalagi,
lucu sekali ketika (spoiler alert) membaca Pangeran Elang, sepupunya
Seryu, bersanding dengan pasukan penyu. Naga dan penyu jelas bukan dua makhluk
yang pernah kubayangkan bisa bersandingan.
Selain itu, latar tempat baru lainnya yang ada di buku ini
adalah Kepulauan Tambu, tempat asal Raikama. Bagian ini menurutku pribadi agak
mengagetkan karena tidak kusangka Shiori akan singgah di sana. Meskipun begitu,
bagian ini memiliki peran penting untuk memperdalam karakter Raikama, dan
menjadi momen bagi Shiori untuk mengenal lebih dekat sosok ibu tirinya itu. Di
samping itu, kita juga mendapat sedikit teaser cerita Her Radiant
Curse, yang merupakan spin-off dari cerita ini yang mengisahkan masa
muda Raikama dan adiknya, Vanna.
Tempat berikutnya adalah Pulau Lapzur, yang merupakan latar
tempat untuk puncak babak kedua buku ini. Kejadian yang terjadi di sini sangat
epik dan menegangkan. Aku bisa membayangkan stake ceritanya tinggi
sekali saat di sini. Kalian harus membacanya sendiri supaya mengerti.
Selain perluasan latar tempat di dalam semesta Lor’yan
tersebut, buku ini terasa menyenangkan dibaca karena penokohannya. Seperti
dalam Six Crimson Cranes, Shiori ditampilkan memiliki ikatan yang kuat
dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam petualangan ini, dia dibantu semua
orang yang dia sayangi, mulai dari Kiki dan Seryu, keenam kakaknya dan kakak
ipar barunya, sampai Takkan, kekasihnya. Relasi Shiori dengan mereka terasa
menghangatkan hati dan somehow bisa meyakinkanku bahwa semuanya akan
baik-baik saja, sekalipun petualangannya kali ini akan lebih sulit. Di sisi
lain, semua tokoh di sini pun jadi memiliki andil dalam misi ini. Tidak ada
tokoh yang terasa disia-siakan.
Sementara itu, khusus karakter Shiori sendiri, aku sangat
bangga karena perkembangan karakternya terasa banget dari buku pertamanya. Dulu,
Shiori adalah putri yang pembangkang dan selalu membuat onar, serta sok tahu
tentang yang baik dan tidak. Namun di sini, beberapa hal tersebut masih ada sih,
tetapi dia sudah mampu bersikap lebih dewasa, seperti menghormati tradisi dan
keluarga, serta tidak lagi menunjukkan pertidaksetujuan lewat cara yang
gegabah. Aku melihat Shiori lebih bertanggung jawab daripada yang dulu.
Di sisi lain, perkembangan karakter Shiori menjadikan dirinya
sosok yang lebih hati-hati. Dia beberapa kali ingin menanggung semuanya
sendirian, tak melibatkan keluarganya dan Takkan. Namun, salah satu kakaknya
Shiori mengingatkan bahwa Raikama gagal melindungi mereka semua karena mencoba
mejauhkan semua orang, lalu menanggung semua beban sendiri. Itu menjadi pukulan
yang menyadarkan Shiori bahwa dia tidak bisa berjuang sendirian; ada hal-hal
yang hanya bisa dilakukan secara bekerja sama.
Seperti yang kukatakan tadi, di buku ini, semua orang berkontribusi
melindungi Shiori agar ia bisa menyelesaikan misi tersebut. Gagasan tentang
ikatan antartokoh yang kuat tersebut diwujudkan dalam cerita ini sebagai
untaian benang nasib. Ada salam perpisahan khas Kiata yang sangat aku sukai: “Semoga
untaian benang nasib kita senantiasa berkelindan.”
Di kebudayaan dan kepercayaan daerah Tiongkok, serta beberapa
wilayah Asia Timur lainnya, nasib kerap diimajinasikan sebagai benang—benang nasib,
sebutannya. Benang nasib satu orang akan bertautan dengan benang nasib orang
lainnya yang berarti nasib mereka saling bertautan. Itulah mengapa ada yang
bilang bahwa selama benang nasib dua orang saling bertautan, mereka akan terus
terhubung dan dapat bertemu lagi. Gagasan tersebutlah yang menjelaskan bagaiman
Shiori menjalin hubungan nasib dengan Takkan, Kiki, Seryu, dan keluarganya. Aku
rasa, itulah kekuatan sejati Shiori, kekuatan yang membantunya melewati semua
rintangan di petualangan ini.
Yang berikutnya, aku merasa bersimpati pada karakter Shiori di buku ini karena dia sebenarnya sedang berduka atas kepergian Raikama, tetapi dia tidak memiliki waktu untuk memproses duka tersebut. Dia harus bergegas mengembalikan mutiara kepada sang Siluman, tetapi sebenarnya dia tuh sedang bersedih karena kehilangan seorang ibu. Maka dari itu, di beberapa kesempatan, Shiori selalu mengenang Raikama. Bahkan, bagian di Kepulauan Tambu merupakan momen bagi Shiori untuk mengenal sosok ibunya itu. Oleh karena itu, sejatinya misi Shiori mengembalikan mutiara naga kepada sang Siluman juga adalah perjalanan Shiori untuk terhubung kembali dengan Raikama sekaligus merelakan kepergiannya.
Sementara itu, kalian yang penggemar romansa, pasti akan puas melihat perkembangan hubungan Shiori dan Takkan. Di buku ini, mereka sudah lebih terang-terangan pacarannya, dan terasa manis sekali. Takkan masih seorang yang green flag—bahkan, hijaunya itu hijau hutan (bukan kebun sawit, tentu saja). Dia selalu mendukung Shiori dan setia mendampinginya dalam segala situasi. Namun, ada beberapa momen yang membuatnya terjerumus dalam bahaya yang mengancam hidup dan mati—yang bisa bikin pembaca cemas sendiri.
Kemudian, ada satu tokoh lagi yang mencuri perhatian sekali sedari awal: Seryu, si pangeran naga. Di babak pertama cerita, ketika Shiori ada di Ai’long, ia hanya didampingi Seryu. Petualangannya bersama Seryu terasa sangat seru dan menegangkan. Bagaimana tidak? Mereka harus melawan Raja Naga sendiri, Nazayun. Namun, yang lebih mengena di hati adalah relasi antara Shiori dan Seryu yang merupakan situasi cinta tak berbalas. Seryu menyukai Shiori, yang justru menyukai Takkan. Astaga, kalian mungkin bisa terkena second-lead syndrome karena Seryu. Namun, aku senang karena permasalahan di antara Seryu dan Shiori tersebut diselesaikan dengan baik sehingga memberikan akhir yang konklusif bagi mereka. Meskipun, aku tetap ingin memberi Seryu pelukan.
![]() |
| Raikama yang Gemilang (kiri), Bushi'an Takkan dari Iro (tengah), dan Seryu sang Pangeran Naga (kanan) |
Kelemahan
Overall, buku ini sangatlah seru dan
epik, sebuah petualangan princess yang sama sekali tidak cringe ataupun
lebay. Namun, ada kelemahan yang terasa, terutama pada akhir buku, yaitu pada babak
ketiganya. Jadi, (spoiler alert) ketika Shiori dan yang lainnya berhasil
mengembalikan mutiara nista kepada sang Siluman, buku itu belum sampai di
akhir; masih ada beberapa puluh halaman lagi. Aku bingung saat itu, masih ada
apa lagi yang mau diceritakan, mengingat misi utamanya selesai.
(Spoiler alert) ternyata akan dibahas tentang Shiori
yang seorang darah bertuah. Terjadi huru-hara yang melibatkan istana dan kelompok
oposisi di Kiata. Mereka ingin membunuh Shiori sebelum Shiori termakan bujukan
para iblis, lalu membebaskan mereka. Cerita di babak ketiga ini lebih banyak tentang
nasib Shiori sebagai seorang darah bertuah.
Yang aku tidak suka adalah itu menyebabkan buku ini terkesan
punya dua konflik utama: mengembalikan mutiara kepada sang Siluman dan menyelamatkan
Shori dari orang-orang yang ingin membunuhnya. Padahal, di babak satu dan dua,
semua terfokus pada konflik pertama, yang mengembalikan mutiara. Sementara itu,
konflik kedua, yang tentang nasib Shiori sebagai darah bertuah Kiata, memang
disinggung beberapa kali, tetapi tidak secara mendalam dan serius. Maka dari
itu, ketika cerita masih berlanjut dan fokusnya menjadi hal tersebut di babak
ketiga, aku merasa buku ini seperti hilang fokus. Mungkin, kalau konflik
tersebut dibuat menjadi satu buku sendiri yang terpisah—sehingga menjadi
trilogi—akan lebih baik dan lebih bisa dinikmati.
Kesimpulan
The Dragon’s Promise adalah
sekuel dari Six Crimson Cranes karya Elizabeth Lim yang menyajikan kisah
petualangan yang lebih epik dan seru. Dalam cerita ini, Elizabeth Lim
memperluas semestanya yang disebut Lor’yan dengan menambah tempat-tempat baru,
antara lain negeri kaum naga, tempat asal Raikama, serta pulau Lapzur yang
menjadi penjara pasukan iblis. Dengan begitu, petualangan Shiori akan lebih
imajinatif, seru, serta emosional. Shiori sendiri mengalami perkembangan
karakter yang bagus di sini, tetapi di saat yang sama ia terasa sekali sedang
berduka dan merindu. Akan tetapi, di babak akhirnya, buku ini malah seperti tidak
tahu mau fokus ke mana lagi.
Meskipun begitu, aku yakin itu bisa tertutupi oleh petualangan
pada babak pertama dan keduanya yang epik. Apalagi, relasi Shiori bersama
orang-orang tersayangnya sangat menghangatkan hati, yang menunjukkan betapa
kuatnya ikatan di antara mereka. Selain itu, kisah cinta segitiga antara
Shiori, Takkan, dan Seryu masih berlanjut dalam buku ini—yang akan membuat
kalian gemas dengan Shiori dan Takkan, sekaligus patah hati dengan nasib Seryu.
Jadi, aku beri skor 8,8/10 untuk The Dragon’s Promise, yang kusarankan
dibaca semua orang (yang sudah cukup umur, tentu saja).
Kira-kira buku Elizabeth Lim apa lagi yang harus kubaca berikutnya ya?
Sebelumnya (Six Crimson Cranes)




Komentar
Posting Komentar