Sore: Istri dari Masa Depan: Tentang Cinta, Waktu, dan Perjuangan—serta Cewek Bebal yang Yakin "I Can Fix Him"
Identitas Film
|
Judul |
: |
Sore: Istri Dari Masa Depan |
|
Sutradara |
: |
Yandy Laurens |
|
Produser |
: |
Suryana Paramita, Ernest Prakarsa, Asri Welas, Mira
Lesmana, Maya Hasan |
|
Tanggal rilis |
: |
10 Juli 2025 (Indonesia), 10
Desember 2025 (Amerika Serikat) |
|
Rumah produksi |
: |
Cerita Films, Slingshot
Pictures, Imajinari Productions, Miles Films, Studio Artemis Jagartha,
Trinity Entertainment, Dwidaya Amadeo Gemintang |
|
Penulis naskah |
: |
Yandy Laurens |
|
Durasi tayang |
: |
1 jam 59 menit |
|
Pemeran |
: |
Sheila Dara Aisha, Dion
Wiyoko, Goran Bogdan |
|
Genre |
: |
Fantasi
romantis, time-travel |
Sinopsis
Jonathan (Dion Wiyoko) terkejut
sekali ketika bangun tidur pagi itu. Ada perempuan asing di ranjang bersamanya.
Perempuan itu orang Indonesia, seperti dirinya. Ia mengaku bernama Sore (Sheila
Dara Aisha), dan yang lebih gila adalah ia mengaku istri Jonathan dari masa
depan.
Tentu Jonathan tak percaya,
tetapi wanita itu bersikap seolah tahu apa saja yang akan terjadi—seolah-olah
ia betul datang dari masa depan. Sore bilang dia datang untuk mengubah
Jonathan. Dia ingin Jonathan memperbaiki gaya hidupnya agar lebih sehat dengan
berhenti merokok dan minum alkohol, serta rajin berolahraga, makan makanan
sehat, dan tidur yang cukup.
Entah benar atau tidak Sore
datang dari masa depan, Jonathan tidak tahu. Siapa sebenarnya wanita misterius
ini? Apa tujuannya mendatangi Jonathan? Mungkinkah benar Sore adalah istrinya
dari masa depan?
Kelebihan
Akhirnya aku bisa menonton film Sore:
Istri dari Masa Depan! Maklum ya, aku tinggal di kota yang tidak ada
bioskopnya. Sebelumnya, aku hanya bisa melihat hype orang-orang saja;
sekarang aku bisa mengerti yang mereka rasakan setelah menonton film ini.
Bagi yang tidak tahu, Sore: Istri dari Masa Depan ini mulanya adalah sebuah web series yang tayang di Youtube—gratis, bisa kalian tonton sendiri ya. Itu salah satu web series lokal favoritku karena pada masanya (sekitar tahun 2017-an) dia termasuk “revolusioner” (jika memang itu istilah yang tepat). The whole web series is actually a campaign of a brand, but it was presented so well that I and so many people love it. Aku suka banget dengan web series-nya, maka aku merasa harus menonton versi film panjangnya. Kemudian tentu saja, sedikit banyak, aku akan membandingkan keduanya. Oh, aku peringatkan juga di awal bahwa reviu ini akan penuh spoiler ya.
Dalam hal inti cerita, Sore:
Istri dari Masa Depan yang versi film dan web series itu sama. Masih
tentang seorang istri yang melintasi waktu ke masa lalu demi mengubah suaminya
agar menjadi orang yang lebih baik. Hal tersebut tidak diubah dalam film,
melainkan dielevasi menjadi lebih pelik. Aku akan membahasnya lebih rinci, tapi
yang pasti pengembangan cerita yang versi film menarik sekali untuk ditonton
dan akan menyedot perhatianmu sampai akhirnya film berakhir.
Pertama-tama, aku harus
menyampaikan bahwa cerita ini dibagi menjadi tiga babak: (spoiler alert)
babak Jonathan, babak Sore, dan babak Waktu. Pada babak Jonathan, cerita mirip
seperti yang ada di web series. Kalian yang pernah menontonnya pasti
akan familier. Babak Sore dan babak Waktu adalah pengembangannya—yang
benar-benar mengejutkan.
Di versi web series kita
tahu bahwa Sore melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, bertemu dengan
Jonathan yang belum menjadi suaminya. Di versi film, kurang lebih sama, tetapi
rupanya (spoiler alert) Sore terjebak dalam time loop. Itu
berarti Sore mengulangi sekuens yang sama berkali-kali dalam upayanya
menyelamatkan Jonathan.
Itu pengembangan cerita yang mind-blowing.
Ketika sedang menontonnya, saat tiba-tiba Sore bilang “Kita ulang lagi dari
awal ya. Ini bukan yang pertama”, ternyata maksudnya dia sudah pernah menjalani
itu semua. Itu bukan percobaan pertamanya menemui Jonathan di masa lalu dan
ingin mengubahnya. Aku saat itu hanya berpikir, “Loh, berarti itu tadi
percobaan ke berapa?”, dan ternyata entah sudah keberapa kali.
Pengulangan-pengulangan yang
dilakukan Sore ditampilkan lewat montase-montase cepat yang menyajikan sekuens
yang sama lagi dan lagi. (Spoiler alert) mulai dari bangun di sebalah
Jonathan dan berakhir dengan Jonathan melanggar janjinya untuk hidup sehat
kepada Sore. Tiap kali pengulangan, tiap kali Sore bangun lagi di titik awal,
aku bisa ikut merasakan lelah dan putus asanya dia. Aku yakin, ada pertanyaan
di dalam kepala Sore, “Apakah usahanya tersebut sepadan dan akan membuahkan
hasil? Atau apakah semua ini cuma kesia-siaan?”. Setiap pengulangan tersebut
terasa seperti itu, terasa seperti siklus yang entah bisa terputus atau tidak.
Meskipun demikian, aku mengagumi
Sore. Entah bisakah aku seteguh dia jika memang aku yang ada di posisi
tersebut. Aku pikir, mengulangi siklus yang sama berulang kali, yang dilakukan atas
kehendak sendiri, merupakan perjuangan cinta yang besar. Dalam film, Jonathan
pun sempat bertanya, “Kamu tuh suka banget ya sama aku?” Aku pun berpikir
demikian, pasti Sore sangat mencintai Jonathan hingga mendorongnya melakukan
itu. Aku hanya berpikir bahwa Jonathan beruntung banget bisa dicintai sebegitu
besarnya oleh wanita seperti Sore.
Kemudian, membicarakan tentang
cinta dan waktu, film ini mengingatkanku pada film Kimi no Na wa (2016) karya
Makoto Shinkai (baca reviunya di sini). Dalam siniar
(podcast) bersama Raditya Dika pun Yandy Laurens mengakui bahwa ia cukup
terpengaruh film Kimi no Na wa tersebut dalam pembuatan film ini. Bagiku,
kedua film tersebut—Kimi no Na wa dan Sore: Istri dari Masa Depan—sama-sama
indah karena mampu menunjukkan bahwa cinta itu begitu besar hingga tak lekang
oleh waktu. Cinta itu transenden, melampaui ruang dan waktu. Mungkin, beberapa
kritik terhadap film Sore: Istri dari Masa Depan bilang bahwa mereka
tidak menangkap alasan Sore untuk memperjuangkan Jonathan sampai seperti
itu—aku pun mengakuinya sih (yang akan kubahas lebih lanjut nanti)—tapi aku
tetap suka dengan penggambaran perjuangan cintanya Sore.
Motivasi Sore adalah duka (grief),
dan seperti kata Vision dari MCU: what is grief, if not love preserving?
Duka adalah yang mendorong Sore rela melakukan itu semua. Tentu melelahkan, dan
aku yakin Sore juga merasakannya. Bagi kita, mungkin itu tidak masuk akal,
tidak relatable. Namun, banyak hal-hal tak masuk akal yang dilakukan
atas nama cinta. Karena alasan itulah aku bisa berempati kepadanya. Justru,
jika aku melihat usaha Sore hanya setengah-setengah, aku akan bilang film ini
jelek.
Kemudian, dalam cerita-cerita
bertema time loop yang pernah kubaca/kutonton, si tokoh utama yang
mengalami time loop biasanya akan mengalami perkembangan karakter yang
merupakan kunci agar ia bisa lepas dari time loop tersebut. Namun, film Sore:
Istri dari Masa Depan ini berbeda. Kita tahu bahwa agar time loop tersebut
berhenti yang harus berubah adalah Jonathan, justru orang yang tak mengalami time
loop, tak merasakan lelahnya harus mengulang semua hal yang sama
berkali-kali. Itu menjadi keunikan tersendiri film ini yang menjadikan
konfliknya lebih pelik untuk dipecahkan serta menjadikannya berbeda dari
cerita-cerita time loop lainnya.
Berikutnya, mumpung masih
membicarakan karakter Sore, aku ingin mengapresiasi aktris yang memerankannya:
Sheila Dara Aisha. Gila sih, performa akting dia di film ini luar biasa!
Mungkin, harus kuberi tahu dulu bahwa pemeran Sore di web series adalah
Tika Bravani—she’s a great actress—sementara pemeran Sore di film adalah
Sheila Dara Aisha, yang sudah langganan bermain di karya-karyanya Yandy Laurens
bareng Dion Wiyoko. Aku sudah menonton banyak film Sheila Dara Aisha dan sudah
tahu kualitas aktingnya, tetapi di film ini, aku merasa akting dia lebih bagus
dibandingkan film-filmnya yang pernah kutonton.
Di film ini, Sheila Dara
berhasil menampilkan emosi Sore hanya lewat mimik wajah. Tiap kali Sore bangun
lagi di sebelah Jonathan pada lini masa (timeline) yang berbeda, selalu
terasa perbedaan pada mimik wajahnya. Hanya dari tatapan matanya dan tarikan
napasnya yang berat, itu tersirat bahwa ini percobaan kesekian kali; juga bahwa
ia lelah melakukan ini, tetapi ia tetap memilih melakukannya. Itu tidak cuma di
adegan bangun tidur, pada adegan-adegan selanjutnya juga begitu. Akting Sheila
Dara luar biasa, maka tak heran dia menang pemeran utama perempuan terbaik di
Festival Film Indonesia (FFI) pada 2025 lalu.
Berikutnya, mari bahas Jonathan.
Aku suka sekali karena pengembangan karakter Jonathan dalam film ini menjadikan
ia sosok yang lebih kompleks. Di web series, Jonathan ya seorang pria
baik tapi gaya hidupnya gak sehat—tak ada pendalaman lebih dari itu karena
memang medium ceritanya terbatas. Akan tetapi, dalam film ini, aku suka dengan
pengembangan yang dilakukan Yandy Laurens terhadap Jonathan.
Jonathan ternyata memiliki masa
lalu traumatis (spoiler alert) ditinggal ayahnya. Ayahnya memilih wanita
lain dan meninggalkan dia, ibunya, dan kakaknya, saat ia masih kecil. Bagi
seorang anak, itu sangat traumatis, karena memberikan memori dan keyakinan
bahwa dirinya tak cukup, bahwa kehadirannya tak cukup bagi ayahnya sehingga
ayahnya memilih orang lain. Hal itulah yang memengaruhi pemahaman self-worth
Jonathan, yang membuatnya pergi ke Kroasia agar dekat dengan ayahnya, yang
membuatnya menulis semua surat-surat tersebut.
Mengembangkan karakter Jonathan
tersebut adalah langkah yang tepat karena jika Jonathan hanya sekadar pria baik
tapi gaya hiudpnya gak sehat, dia akan menjadi tokoh yang membosankan—kalah
imbang dengan karakter Sore. Terlebih lagi, pengembangan karakter Jonathan
tersebut juga sukses menghadirkan perkembangan karakter yang bagus sekali. (Spoiler
alert) pada akhirnya, Jonathan memilih untuk tak bertemu ayahnya, merelakan
marah dan bencinya kepada ayahnya—itu sebuah keputusan yang hanya bisa diambil
ketika mentalmu sudah matang.
Mungkin ada yang menyayangkan
Jonathan memilih tak bertemu ayahnya, tetapi menurutku, itu pertanda bahwa bagi
Jonathan ayahnya tak lagi penting dalam hidupnya. Apapun alasan ayahnya
meninggalkannya, sudah tak lagi penting. Dia sudah memutuskan bahwa hidupnya
tak akan lagi dipengaruhi orang yang tak memilihnya. Itu sebuah kematangan diri
yang mungkin hanya bisa kita mengerti ketika kita juga ada di tahap tersebut.
Selain Sore dan Jonathan, ada
satu tokoh yang aku apresiasi di sini: Karlo (Goran Bogdan). Aku senang dengan
kehadiran Karlo dalam film ini yang memberikan warna dalam hubungan Sore dan
Jonathan. Karlo menjadi humor yang memberi jeda di tengah ketegangan cerita,
dan ia juga hadir sebagai sosok sahabat yang baik sekali bagi Jonathan. Ada
satu interaksi dia dengan Sore dan itu aku suka sekali. Dalam dialog mereka
itu, mereka membahas soal waktu dan dunia paralel—di situlah Yandy Laurens
menyisipkan konsep time loop yang menjadi pondasi cerita ini. Namun,
lebih dari itu, aku merasa Karlo seperti katalis dalam cerita ini, yang
mendorong agar Sore dan Jonathan menemukan kebahagiaan mereka.
Baiklah, di samping ide dan
pengembangan cerita serta penokohannya, aku juga suka banget dengan teknis film
ini. Sejak awal film, aku dibuat terpukau dengan pemandangan arktik, sepasang
beruang kutub, dan aurora borealis. Itu semua cantik banget. Shots yang
ditampilkan juga sangat pleasing to the eyes. Aku jadi teringat film Nomadland
(2020) karya Chloé Zhao yang juga banyak menampilkan wide shot pemandangan
alam (baca reviunya di sini). Oh, ada satu hal yang menarik banget di adegan arktik itu: tetesan
air jatuh. Aku langsung menyadari itu aneh, dan ternyata ada penjelasannya di
akhir film—dan itu mind-blowing.
Selain di arktik, shots
yang indah juga ada kok di adegan-adegan lainnya. Misalnya, adegan Sore dan
Jonathan di dalam trem, adegan ketika Jonathan memotret foto siluet Sore saat
matahari terbenam, adegan ketika Sore dan Jonathan jogging, adegan
ketika Sore dan Jonathan berjabat tangan membuat janji, adegan ketika Sore dan
Jonathan menunggu bus di halte, adegan Sore di apartemen barunya, dan masih
banyak adegan lainnya. Semua adegan-adegan tersebut ditampilkan dengan estetika
yang sederhana, komposisinya tidak penuh atau minimalis, tapi terlihat
sempurna. Aku harus memuji penyutradaraannya Yandy Laurens sih—keren banget.
Aspek teknis lainnya yang perlu
diapresiasi ialah pemilihan soundtrack-nya. Di awal, kita menyaksikan
Jonathan di arktik dengan diiringi lagu Adhitia Sofyan yang berjudul Forget
Jakarta. Penonton web series-nya
akan bernostalgia sebab lagu tersebut juga ada di web series-nya. Selain
itu, lagu tersebut juga mewakili perasaan Jonathan yang pergi jauh dari
rumahnya ke Kroasia agar lebih dekat dengan ayahnya, tetapi tak benar-benar
berani untuk bertemu dengan ayahnya. Kemudian, ada lagu Pancarona
oleh Barasuara yang mengiringi Sore ketika ia sedang lelah sekali dalam
pengulangan time loop tersebut. Itu juga mewakili perasaan Sore yang
meragukan usahanya, meragukan apakah Jonathan memang layak diperjuangkan.
Terakhir, ada lagu Terbuang dalam Waktu oleh Barasuara. Lagu tersebut menjadi viral sekali karena
film ini. Terlepas dari itu, aku rasa lagu tersebut memang pas untuk Sore dan
Jonathan.
Terakhir, hal yang kusukai dari
film ini adalah pesan yang ingin disampaikannya. Di versi web series,
kita tahu bahwa pesan utamanya adalah supaya memiliki gaya hidup sehat agar
bisa berumur panjang sehingga bisa bersama-sama lebih lama dengan orang-orang
yang kita sayang. Sementara di versi film, aku rasa tidak ada pesan yang khusus
ditonjolkan—karena ini bukan campaign sebuah brand sih. Namun,
tetap ada kok pesan untuk hidup sehat tersebut.
Mungkin, kita bisa mengambil kesimpulan
bahwa pada dasarnya, yang bisa mengubah seseorang adalah dirinya sendiri. Mau
berusaha seperti apapun, mau berjuang seperti apapun untuk mengubah seseorang,
jika orang itu tidak ingin berubah, orang itu tidak akan berubah. Jonathan pun
akhirnya berubah ketika Sore akhirnya melepas semuanya. Sebuah rasa rindu yang
meluruhkan tameng diri Jonathan mendorongnya untuk mengubah gaya hidupnya, lalu
pulang ke Jakarta; meskipun ia sendiri tak tahu rindu pada apa.
Oh, aku hampir lupa. Kalau
membicarakan cerita Sore: Istri dari Masa Depan, tentu tak boleh lupa
menyinggung kutipan (quote) terkenalnya.
Tahu enggak, kenapa senja itu menyenangkan?
Kadang ia merah merekah, bahagia,
Kadang ia gelap hitam, berduka,
Tapi langit selalu menerima senja apa adanya.
Itu kutipan yang sangat terkenal
dari web series Sore: Istri dari Masa Depan, yang dimunculkan
lagi di filmnya. Kutipan tersebut seperti menggambarkan bagaiman Sore tetap
menerima Jonathan apapun keadaannya.
Namun, ada kutipan lainnya di
versi film yang sangat terkenal, dan mengena di hati: Kalau harus ngulang
seribu kalipun, aku akan tetap pilih kamu. Memilih berarti atas kehendak
sendiri. Memilih berarti ada alternatif yang direlakan. Kutipan tersebut
sederhana, tetapi menunjukkan kehendak serta komitmen seseorang terhadap cinta.
Kelemahan
Meskipun film ini sangat
mengagumkan dalam berbagai hal, tetap ada sedikit kritik dariku. Salah satunya
adalah film ini belum berhasil untuk memperlihatkan apa yang membuat Jonathan
layak diperjuangkan. Kita hanya dibuat yakin bahwa Sore sangat mencintai
Jonathan, tetapi tak diperlihatkan seperti apa arti Jonathan bagi Sore. Walaupun
aku suka dengan perjuangan Sore, tapi bagian tersebut mengganjal sekali. Seharusnya
di akhir, (spoiler alert) selain bagaimana Sore yang berduka kehilangan
Jonathan, kita juga melihat apa yang membuat Sore jatuh cinta sedalam itu pada
Jonathan.
Selain itu, aku masih lebih suka
adegan akhir versi web series-nya, karena itu menutup untaian perjalanan
waktunya. Dalam web series, (spoiler alert) ketika Sore dari masa
depan menghilang, Jonathan tak lupa akan pengalamannya bersama Sore. Kemudian,
ia benar-benar mengubah gaya hidupnya, lalu pulang ke Jakarta dan mencari Sore
yang di masa sekarang. Ketika mereka bertemu, tertutuplah lingkaran sekuensnya,
dan itu cukup untuk memberi tahu penonton bahwa Sore akan sangat dibuat jatuh
cinta oleh Jonathan.
Akan tetapi, di versi film,
adegan ending-nya diubah sama sekali. Memang lebih relevan dengan
pengembangan ceritanya, tetapi agak kurang pas saja bagiku karena ia tidak
menutup rangkaian sekuensnya. Padahal, sebagai pembuat film, Yandy Laurens bisa
saja mengarang sedemikian rupa agar ending versi web series dapat
direplikasi dengan pas ke dalam filmnya.
Kesimpulan
Sore: Istri dari Masa Depan adalah sebuah film romantis yang sungguh revolusioner dalam berbagai hal di dunia perfilman tanah air. Berbeda dari film-film romantis Indonesia lainnya, film ini mengusung tema tentang cinta dan waktu serta kegigihan perjuangan cinta yang sangat luar biasa. Sheila Dara Aisha dan Dion Wiyoko dengan luar biasa menghadirkan karakter Sore dan Jonathan beserta kompleksitas karakter, relasi, dan emosi mereka. Yandy Laurens selaku sutradara dan penulis naskah sukses menghadirkan kisah yang tak hanya indah di mata, tapi juga dalam terkait makna. Mungkin, masih terdapat kekurangan dalam filmnya, tetapi itu tak menyingkirkan keindahan yang dicoba disajikan film ini. Aku beri skor 9/10 untuk film ini dan bagi penonton versi web series-nya, aku rasa kalian harus menontonnya. Silakan tonton bareng pasangan, pacar, sahabat, keluarga, atau gebetan, atau siapapun!
Film Sore: Istri dari Masa Depan dapat kalian tonton di Netflix. Silakan tonton trailer-nya dulu di bawah ini.











Komentar
Posting Komentar