Dendam Malam Kelam: Lebih Dari Sekadar Film Perselingkuhan; Ini Film Misteri dengan Plot Twist yang Mantap!

Identitas Film

Judul

:

Dendam Malam Kelam

Sutradara

:

Danial Rifki

Produser

:

Frederica

Tanggal rilis

:

28 Mei 2025

Rumah produksi

:

Falcon Pictures

Penulis naskah

:

Oriol Paulo (original screenplay), Danial Rifki, Lara Sandim

Durasi tayang

:

1 jam 43 menit

Pemeran

:

Arya Saloka, Bront Palarae, Marissa Anita, Davina Karamoy, Putri Ayudya

Genre

:

Misteri, thriller drama

 

Sinopsis

Sofia Arini (Marissa Anita), seorang pemilik perusahaan farmasi terbesar di negeri ini, meninggal karena henti jantung. Jenazahnya sedang disimpan di laboratorium polisi untuk autopsi lebih lanjut. Namun, hal mengejutkan terjadi—jenazah tersebut hilang dicuri.

Jefri Adam (Arya Saloka), suami Sofia sekaligus ahli farmasi yang menjadi direktur di perusahaan milik Sofia, dipanggil ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Polisi mencurigai Jefri pelaku pencurian jenazah tersebut supaya menutupi jejak kejahatan yang mungkin ada pada jenazah Sofia, sebab polisi menduga Sofia mati dibunuh Jefri.

Di sisi lain, Jefri memang benar membunuh Sofia, tetapi tidak mencuri jenazahnya. Oleh karena itu, Jefri dan selingkuhannya, Sarah (Davina Karamoy), menjadi tidak tenang dengan menghilangnya jenazah Sofia tersebut.

Kemudian, ketika Detektif Arya (Bront Palarae) menyelidiki kasus pencurian jenazah ini, dia menemukan bukti-bukti yang mengerucut kepada Jefri, dan rahasia perselingkuhan Jefri pun terancam terbongkar. Namun, berulang kali Jefri menyangkal bahwa dia tidak mencuri jenazah Sofia. Dia yakin ada orang yang mempermainkannya, atau mungkin Sofia masih hidup dan sengaja menjebak dirinya dan Sarah. Dapatkah Jefri lolos dari kecurigaan polisi dan menemukan siapa orang yang tengah mempermainkannya?

 

Kelebihan

Dendam Malam Kelam mungkin salah satu film underrated Indonesia yang tayang di tahun 2025. Film ini diadaptasi dari film Spanyol berjudul El Cuerpo karya Oriol Paulo—orang yang menciptakan film misteri populer The Invisible Guest. Aku sudah pernah menonton The Invisible Guest, film yang keren; tetapi belum pernah menonton El Cuerpo dan kebetulan tidak tahu bahwa Dendam Malam Kelam ini diadaptasi dari film tersebut. Jadi, aku tidak bisa membandingkan kedua film tersebut ya; tapi mungkin itu menjadi hal yang bagus karena pengalaman menontonku menjadi lebih segar dan menyenangkan.

Pertama, Dendam Malam Kalam memiliki cara bercerita bagus dan rapih serta ada sentuhan berbeda dibanding film-film Indonesia kebanyakan. Ketika menontonnya, aku agak terkejut karena gaya berceritanya mirip film-film luar negeri, dan ternyata memang film ini adaptasi film luar negeri. Meskipun begitu, itu tak mengurangi keunggulan film ini; malahan, itu menunjukkan bahwa Dendam Malam Kelam mampu mengadaptasi film El Cuerpo dengan sangat baik.

Aku menyukai gaya berceritanya yang membuat penonton bingung apakah film ini menggunakan unreliable narrator trope atau bukan. Unreliable narrator merupakan teknik bercerita yang menempatkan tokoh yang menarasikan cerita sebagai sosok yang tidak bisa dipercaya, entah karena bias, kondisi mental, niat menipu, dll, sehingga cerita yang ia bawakan pun tidak bisa dipercaya. Dalam film ini, kalian akan bertanya-tanya apakah semua kejanggalan yang terjadi hanya tipuan Jefri atau halusinasi Jefri atau memang ada yang ingin menjebaknya. Hal tersebut dikembangkan dengan sangat baik dalam film ini sehingga kalian akan dibuat fokus selama menonton.

Kemudian, dikombinasikan dengan alur maju mundur, gaya bercerita tadi makin berhasil mencuri perhatian penonton. Di tengah-tengah interogasi Jefri, kita akan diajak mengintip masa lalunya untuk mengetahui seperti apa hubungan dia dengan Sofia, istrinya, dan Sarah, selingkuhannya. Penempatan adegan kilas baliknya (flashback) sangat tepat—walaupun ada sedikit catatan. Namun yang pasti, dengan gaya berceritanya yang seperti unrealiable narrator tadi, kita akan dibuat bingung dengan semua kilas baliknya. Mungkinkah ada yang ditutupi dari kilas balik itu? Atau malah ada yang salah diingat oleh Jefri dari kilas balik tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan ada di pikiran kalian sampai akhirnya akhir film.

Kedua, para tokohnya begitu menarik dan didukung performa para pemerannya yang keren. Sosok Jefri yang diperankan Arya Saloka berhasil memperlihatkan pria berengsek yang malah asyik dengan selingkuhan ketika istrinya meninggal. Kalian akan dibuat jengkel dengan tingkah pongahnya Jefri sedari awal. Namun setelahnya, kalian akan sama bingungnya dengan Jefri terhadap segala keanehan situasi yang terjadi. Akting Arya Saloka sangat meyakinkan dan itu sangat terasa dari penyampaian dialog-dialognya yang terkesan takut, cemas, panik, dan marah.

Di sisi lain, ada Bront Palarae yang berperan sebagai Detektif Arya. Dia tokoh detektif yang unik—salah satunya karena dia mengucapkan “haram jadah” sebagai umpatan yang aku belum pernah dengar, tetapi katanya itu umpatan yang lazim digunakan pada tahun 90-an. Oke, selain karena diksi umpatannya, Detektif Arya menarik sebab dia diperlihatkan memiliki trauma masa lalu ketika istrinya meninggal—yang menjadi modal bagus untuk memperdalam karakter Detektif Arya sekaligus pengembangan ceritanya. Di samping itu, sebagai lawan mainnya Arya Saloka, Bront Palarae berhasil membangun chemistry antara polisi dan tersangka yang intens.

Tokoh-tokoh lainnya juga sukses mencuri perhatian. Ada Sarah yang diperankan Davina Karamoy, yang mulanya terkesan seperti peran-peran pelakor pada umumnya tetapi ternyata berbeda sekali. Aku berharap Davina Karamoy tidak terjebak terus-menerus di peran pelakor sih, tetapi penampilannya sebagai pelakor di film ini terasa menyenangkan. Selain itu, ada Sofia yang diperankan oleh Marissa Anita. Screentime dia tidak banyak, tetapi tiap kali dia muncul, dia berhasil mencuri perhatian. Tentu saja itu karena keseluruhan cerita ini berpusat pada hilangnya jenazah dia, maka wajar penonton akan berfokus pada sosoknya. Penonton pasti akan dibuat penasaran mungkinkah ada petunjuk yang menunjukkan bahwa Sofia tahu perselingkuhan Jefri. Jika kalian menonton film ini nanti, selamat menebak dan mencarinya, hehehe.

Ketiga, biarpun ini film misteri dan thriller, ada beberapa adegan yang justru disajikan dengan dramatis—tentu dengan cara yang baik. Salah satunya adalah ketika Jefri bercerita tentang awal kisahnya dengan Sofia—pertemuan pertama mereka dan kali pertama mereka jatuh cinta. Pada saat itu, Jefri menceritakannya dengan sangat emosional yang membuat penonton bisa merasakan bahwa hubungan Jefri dan Sofia adalah sesuatu yang dimulai dengan baik, bahagia, dan indah, tetapi lalu berakhir dengan tragis, kebencian, dan kematian. Soundtrack-nya pun mampu memperkuat kesan tersebut.

Kemudian, adegan lain yang terasa dramatis adalah ketika Jefri menceritakan hubungannya dengan Sarah. Perbedaannya adalah kesan yang kudapat adalah Jefri ini mokondo dan berengsek. Aku memang melihat Sofia bukan sosok istri yang terbaik dan aku bisa mengerti alasan Jefri memilih mencari kebahagiaan pada wanita lain, tetapi ketika dia menceritakan hubungannya dengan Sarah aku tidak bisa untuk tidak merasa kesal. Meskipun demikian, delivery cerita bagian tersebut termasuk bagus sih; tetapi tetap Jefri mokondo.

Keempat, film ini tidak seperti film misteri pada umumnya, ada kesan film horor dan creepy yang dapat membuat penonton gelisah. Film ini dibuka dengan adegan yang sangat khas film horor, apalagi ia melibatkan mayat hilang—sebuah formula bagus untuk film horor. Akan tetapi setelahnya, cerita fokus pada penyelidikan polisi yang mempertegas bahwa genrenya adalah misteri. Ketika kalian pikir tidak akan ada hal-hal supranaturalnya, sebaliknya justru film ini mulai menunjukkan hal-hal tak masuk akal. Jefri mulai mengalami keanehan selama dia ditahan di kantor polisi, yang membuat penonton bingung apakah itu halusinasi atau memang gangguan supranatural. Aku sendiri beberapa kali merasakan ngeri dan takut dengan adegan-adegan tersebut.

Kelima, aku suka dengan pemilihan latar filmnya yang sebagian besar hanya di kantor polisi. Dengan fokus pada satu latar tersebut, ada kesan bahwa si tokoh utama sedang terjebak. Hal tersebut memperkuat intensitas cerita serta kesan panik dan membingungkan yang dirasakan si tokoh utama. Semakin ke belakang, kalian akan melihat bagaimana Jefri muak berada di kantor polisi tersebut, apalagi dengan adanya berbagai gangguan aneh yang terkesan supranatural.

Terakhir, babak terakhir film ini memiliki plot twist yang sungguh mengejutkan. Aku tidak akan bilang plot twist-nya apa—silakan kalian tonton sendiri. Namun yang pasti, plot twist ini bukan asal-asalan. Banyak film yang asal menaruh plot twist supaya menarik perhatian penonton, tetapi eksekusinya berantakan. Berbeda dengan film-film tersebut, Dendam Malam Kelam mengeksekusi plot twist dengan sangat baik. Plot twist tersebut tidak meruntuhkan segala plot yang telah dibangun sebelumnya, alih-alih membuatnya makin solid. Plot twist tersebut juga memberikan konklusi cerita yang bagus dan kesan memuaskan bagi para penonton. Kalian harus tonton sendiri supaya paham. Saran dariku, jangan terlalu ditebak-tebak plot twist-nya, cukup tonton dan nikmati ceritanya supaya pengalaman menontonnya makin memuaskan.

 

Kelemahan

Secara umum, Dendam Malam Kelam adalah cerita misteri thriller yang bagus, tetapi ada beberapa hal yang menjadi catatanku untuk film ini. Pertama, aku memang suka dengan penggunaan alur maju mundurnya, tetapi ada beberapa transisi dari adegan masa sekarang ke adegan kilas balik yang terasa kasar. Memang tidak merusak ceritanya, tetapi itu membuat adegannya kurang nyaman ditonton.

Kedua, aku risih dengan sikap pongah Jefri di awal interogasi. Jefri kan suami yang seharusnya sedang berduka karena kepergian istrinya, tetapi saat dia ditanyai polisi, dia tidak memperlihatkan hal itu. Di depan orang-orang yang datang melayat, dia berlaga sedih; tetapi di hadapan polisi yang jelas sedang mencurigai dia, dia malah berlaga pongah. Aku merasa itu sesuatu yang aneh karena jika Jefri ingin menutupi kejahatannya, tentu seharusnya ia membuat polisi tidak lagi mencurigainya. Namun, entah mengapa malah jadi seperti itu hasilnya.

 

Kesimpulan

Dendam Malam Kelam mungkin film Indonesia yang underrated karena saat masa penayangannya di bioskop, tidak ramai orang yang membicarakannya. Padahal, ini adalah film yang sangat cocok untuk kalian pecinta plot twist. Diadaptasi dari film Spanyol, Dendam Malam Kelam menunjukkan kualitasnya sebagai film adaptasi yang keren. Aku suka dengan teknik berceritanya yang membuat penonton bingung apa yang benar terjadi dan apa yang tidak. Aku juga suka dengan pemilihan latar tempatnya yang fokus pada satu tempat sehingga memperkuat kesan terjebak dan paniknya. Walalupun ada transisi adegan kilas balik yang kasar, pola alur maju mundurnya berhasil memperkuat storytelling film ini. Apalagi, secara umum, akting para pemerannya bagus-bagus. Terkhusus untuk Arya Saloka sebagai Jefri, biarpun ada sedikit catatan, ia tampil dengan sungguh keren bersama lawan mainnya, Bront Palarae. Baiklah, secara keseluruhan, aku memberi skor 8,9/10. Silakan tonton ini bareng siapapun, tapi jangan bareng anak di bawah umur ya.

Dendam Malam Kelam bisa kalian tonton di Netflix. Silakan melihat trailer-nya dulu di bawah ini.


***

Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!

Komentar