Dua Dini Hari: Ketika Anak-Anak Jalanan Dianggap Sumber Masalah Kota Jakarta—Sebuah Cerita Fiksi Thriller yang Membuatmu Tidak Nyaman Hingga Halaman Terakhir
Identitas Buku
|
Judul |
: |
Dua Dini Hari |
|
Penulis |
: |
Chandra Bientang |
|
Penerbit |
: |
Noura |
|
Tahun terbit |
: |
2019 |
|
Cetakan |
: |
I (edisi republish) |
|
Tebal |
: |
208 halaman |
|
ISBN |
: |
9786232424562 |
|
Genre |
: |
Misteri, crime, urban thriller, iyamisu |
Tentang Penulis
Chandra Bientang lahir di Jakarta pada 17 Februari 1989. Dia
merupakan alumnus Jurusan Ilmu Filsafat Universitas Indonesia yang lulus pada
tahun 2013. Setelah itu, dia beberapa kali berkarier sebagai public relation
officer dan content writer.
Dalam dunia kepenulisan, ia debut dengan karya yang berjudul Dua
Dini Hari (2019), sebuah novel misteri-thriller yang diterbitkan
penerbit Noura. Pada tahun yang sama, cerpennya yang berjudul Anak Kucing
Leti terpilih dalam Emerging Writers Program di Ubud Writers
& Readers Festival. Cerpen tersebut menjadi salah satu cerita dalam
buku Karma: A Bilingual Anthology of Indonesian Writings.
Karya-karya Chandra Bientang kerap kali mengangkat isu
ketidakadilan sosial. Dia mengambil inspirasi dari kemuakannya terhadap stigma
dan stereotipe terhadap kelompok termarjinalkan, terutama yang biasa
diasosiasikan kepada perempuan. Selain kedua judul di atas, Chandra Bientang
juga telah melahirkan karya-karya lain, yaitu Sang Peramal (2021) dan Batu
Berkaki (2024). Namun sayang, Chandra Bientang sudah berpulang ke Yang Maha
Kuasa pada 25 Maret 2025 lalu. Meskipun begitu, karya-karyanya masih terus
digemari pembaca di tanah air.
Sinopsis
Jakarta heboh pagi itu ketika ditemukan tiga mayat anak
jalanan tergantung di bawah flyover di Kawasan Jatinegara. Esoknya, satu
mayat lagi ditemukan terlilit kabel tiang listrik. Tentu saja itu mencengangkan
kota tersebut, tetapi siapa yang benar-benar peduli? Mereka hanyalah anak
jalanan, yang kerap dianggap salah satu pemasalahan di kota tersebut. Polisi
pun ogah-ogahan menyelidiki kasusnya.
Di saat yang sama, Kanti, seorang mahasiswi yang sedang
mengambil cuti kuliah dan bekerja sebagai ilustrator lepas, yang tinggal di kos
kumuh di wilayah Jatinegara, setiap malam terbangun dan tertarik pada rumah pink
misterius di depan kosnya. Kanti selalu merasa ada yang aneh dengan kosnya itu,
tetapi memilih tidak mencari tahu. Dia pun sedang mengalami kesulitannya
sendiri yang membuatnya memandang dunia dengan gelap.
Sementara itu, Elang, seorang taruna akpol yang ingin
berhenti dari pendidikannya itu, tertarik pada kasus penemuan mayat anak-anak
jalanan tersebut. Elang yang selalu merasa dirinya lebih pintar dari semua
orang yakin bisa mengungkap kebenaran atas kasus tersebut, lebih cepat dan
lebih baik daripada polisi.
Akan tetapi, kasus ini lebih pelik daripada yang Elang duga.
Akankah Elang bisa mengungkapkan kebenaran? Atau itu hanya akan menempatkan
dirinya dalam bahaya?
Kelebihan
![]() |
| Sampul edisi lama Dua Dini Hari |
Aku membaca Dua Dini Hari yang edisi republish
dengan sampul baru. Kalau kubaca catatan dari penulisnya, katanya ada sedikit
perubahan dalam cerita, terutama pada penggambaran karakter Kanti, tetapi
selebihnya cerita tetap sama. Alurnya juga sama. Maka dari itu, aku akan
mereviu berdasarkan edisi yang kubaca ini, yang mungkin—aku tidak tahu—berbeda dari
edisi lama yang telah lebih dulu dibaca orang-orang. Semoga sih, tidak ada
perbedaan signifikan ya antara kedua versi supaya kalian yang dulu membaca
edisi lamanya tetap bisa relate dengan reviuku.
Baiklah, first of all, aku mau bilang bahwa buku ini
sepertinya bisa dikategorikan ke dalam genre iyamisu. Itu merupakan subgenre
thriller yang memfokuskan cerita pada sisi gelap manusia yang
menimbulkan kesan creepy dan jijik pada pembaca. Namun, mungkin karena terminologi
iyamisu saat ini menjadi trademark penerbit lain, buku ini tidak
bisa dilabeli iyamisu secara komersil. Meskipun begitu, kebanyakan
mereka yang sudah membaca buku ini kuyakin akan sepakat kalau buku ini dapat dibilang
termasuk genre iyamisu.
Maka dari itu, kalian yang sudah biasa membaca cerita iyamisu
seharusnya sudah langsung tahu apa yang dapat kalian ekspektasikan dari buku
ini. Iya, kalian akan mendapati cerita yang membuat kalian bergidik ngeri dan
merasa jijik, serta merasa bahwa setan saja lebih baik daripada manusia-manusia
di cerita ini.
Secara narasi, buku ini terbilang unik sebab cerita tidak
terlalu fokus pada satu atau beberapa tokoh tertentu. Setiap bab diceritakan
dari sudut pandang tokoh yang berbeda. Bahkan, beberapa tokoh hanya muncul satu
kali itu saja, tetapi efektif untuk menghadirkan angle berbeda terhadap
permasalahan yang ingin diangkat cerita ini serta untuk membangun suasananya.
Meskipun begitu, ada dua tokoh yang sudut pandangnya muncul beberapa kali:
Kanti dan Elang. Maka, bisa dianggap merekalah tokoh utama cerita ini. Melalui
mereka berdualah kita perlahan mengurai misteri ini.
Aku menyukai cara penulis menuturkan cerita melalui banyak sudut
pandang tersebut. Walaupun beberapa tokoh hanya muncul satu kali itu, kita
tetap diceritakan sepenggal kisah mereka sehingga cerita mereka tak sekadar
lewat saja. Bahkan, ketika nama mereka disebutkan pada bab-bab berikutnya, kita
masih bisa mengingat kembali siapa mereka. Dan yang menarik adalah penulis mampu
memberi kesan bahwa setiap sudut pandang memang diceritakan dari sudut pandang
yang berbeda, bahwa setiap tokoh memiliki permasalahan, pengalaman, dan
pemahamannya sendiri terhadap hal-hal yang terjadi sehingga sudah sewajarnya
cerita yang dituturkan melalui sudut pandang mereka berbeda-beda.
Khusus untuk Kanti dan Elang yang merupakan tokoh utama, aku
pribadi tidak terlalu bisa bersimpati kepada mereka—which is sesuatu
yang unik karena biasanya tokoh utama selalu digambarkan agar bisa disukai,
sekalipun melalui hal kecil. Mungkin, yang lebih bisa disukai di sini adalah
Kanti. Aku sangat terkejut saat mengetahui masa lalunya di akhir cerita. Namun,
sebelum itu, sepanjang cerita bergulir, aku tak bisa memercayainya. Aku mencurigai
dia terus, meskipun aku tak yakin dia orang yang membunuh anak-anak jalanan itu.
Aku hanya merasa dia menyembunyikan sesuatu yang membuatku tak nyaman dan tak
bisa percaya padanya.
Sementara itu, Elang secara terang-terangan digambarkan tak
bisa disukai. Sikap sombongnya yang merasa si paling pintar dan suka ikut
campur tentu adalah penyebabnya. Katanya, semakin bijak seseorang, semakin dia
merendah diri—tetapi Elang justru sebaliknya, yang hanya berarti satu hal: dia
tidaklah sepintar yang dia kira. Aku tahu cepat atau lambat, Elang akan kena sialnya
karena sikapnya itu; dan benar saja, dia kena sialnya. Namun, memang harus
diakui hanya Elang yang menyelidiki kasus ini, dan melalui sudut pandangnya
kita tahu kasus ini tak sesederhana itu. Bahkan, boleh dibilang, bab-bab yang
diceritakan dari sudut pandang Elang adalah bab-bab yang paling bikin berdebar
dan penasaran. Aku harus memuji kelihaian Chandra Bientang dalam meramu sudut
pandang-sudut pandang tersebut.
Kemudian, kelebihan lainnya cerita ini adalah gaya narasinya
yang terkesan mencekam dan kelam. Hal ini terutama dituturkan melalui sudut
pandang Kanti yang mengalami depresi. Gaya narasi Kak Chandra Bientang seolah mengatakan
bahwa permasalahan di Jakarta tak hanya sekadar permasalahan tata ruang dan
ketimpangan, tetapi juga tentang kesehatan mental. Aku ingat di bab-bab awal
sempat disinggung tentang kemacetan dan permasalahan lainnya yang sudah
dianggap normal di Jakarta, padahal seharusnya hal tersebut tidak dianggap normal.
Tanpa disadari, permasalahan-permasalahan yang sudah dianggap normal tersebut telah
memengaruhi kita, bahkan sampai ke kesehatan mental. Pada akhirnya, cerita ini mencoba
mengatakan bahwa permasalahan di Jakarta adalah masalah struktural yang sudah
berdampak pada berbagai aspek kekhidupan penduduknya, termasuk kesehatan
mental.
Namun, buku ini menunjukkan bagaimana pemahaman tersebut berujung
pada solusi yang gelap: melenyapkan orang-orang miskin—dalam kasus ini, mereka
adalah para anak jalanan. Para anak jalanan diceritakan dianggap sebagai sumber
permasalahan di kota Jakarta. Mereka tidak mau dibina untuk bersekolah dan
lebih senang mencari uang di jalanan, dan suatu saat mereka akan melahirkan
anak-anak jalanan baru.
Di luar sana memang ada orang-orang yang berpendapat bahwa
orang-orang miskin tersebutlah sumber masalahnya. Mereka sering dicap miskin
karena malas berusaha dan bodoh, dan malah terus beranak pinak melahirkan orang-orang
miskin baru. Stigma negatif melekat pada mereka karena mereka terkesan tidak
ingin ditolong walau sudah banyak program rehabilitasi, edukasi, dan bantuan
pemerintah. Novel ini menunjukkan perwujudan ekstrem dari pemahaman dan stigma
tersebut, yaitu bahwa melenyapkan orang-orang miskin merupakan solusinya.
Menurutku pribadi, pemahaman tersebut mengerikan. Bahkan,
sekalipun seseorang tidak sampai membunuh, selama dia merasa bahwa orang-orang
miskinlah yang salah, aku menganggapnya mengerikan. Itu karena pemahaman
tersebut lahir dari kesombongan dan ketiadaan empati, serta ketidakpahaman
(atau keacuhan) terhadap ketimpangan antarkelas. Itu sebabnya bagiku pribadi,
buku ini mampu membuatku merinding. Mungkin, selain memengaruhi kesehatan
mental, novel ini ingin mengatakan bahwa permasalahan di Jakarta bahkan sudah
memengaruhi moral dan nurani penduduknya sendiri.
Namun, selain itu, aku mendapat insight bahwa buku ini
sepertinya terinspirasi dari peristiwa penembakan misterius pada era Orde Baru,
yang pada zaman itu, banyak ditemukan orang tewas dengan luka tembak secara
misterius. Aku belum lahir di zaman itu, tetapi dari cerita-cerita yang
kudengar, biasanya korbannya adalah orang yang dianggap preman. Mereka sering
dianggap pengganggu ketertiban dan sumber masalah, maka harus disingkirkan. Hal
yang sama ditunjukkan dalam novel ini terhadap anak-anak jalanan. Melalui buku
ini, penulis seolah ingin mengatakan bahwa pada dasarnya menghilangkan nyawa
seseorang adalah hal yang salah, sekalipun alasannya demi kepentingan umum.
Apalagi jika korbannya adalah orang-orang miskin, yang sebenarnya adalah korban
dari ketimpangan sosial ekonomi yang ada.
Kelemahan
Menurutku pribadi, kelemahan cerita ini adalah bagian
akhirnya yang agak terasa terburu-buru. Sebenarnya penulis sudah jelas
menyatakan apa yang terjadi di akhir, tetapi akhir dari sudut pandang Elang
terasa tiba-tiba.
Selain itu, narasi cerita sempat terasa bertele-tele di
tengah, terutama karena cerita terus berganti sudut pandang. Ada beberapa bab
yang diceritakan dari sudut pandang tokoh yang hanya sekali muncul yang terasa
terlalu panjang. Di awal, mungkin itu menarik karena bagus untuk build-up cerita.
Namun, ketika makin ke akhir, aku berharap kita bisa fokus pada sudut pandang
Elang dan Kanti saja, tanpa diselingi yang lain.
Kesimpulan
Dua Dini Hari adalah sebuah novel thriller berlatar kota Jakarta yang terasa mencekam dan mampu membuatmu bergidik ngeri. Alih-alih menggambarkan Jakarta dan gemerlapnya, buku ini mengambil latar pemukiman padat penduduk di Jatinegara. Novel ini diceritakan dari sudut pandang banyak tokoh yang membuat ceritanya terasa lebih utuh ketika dibaca. Namun, kesan yang ingin disampaikan buku ini sungguh membuat tidak nyaman, tetapi juga bikin penasaran dengan misterinya. Lewat sudut pandang Kanti kalian akan ikut merasa stres dengan situasi yang terjadi dan lewat sudut pandang Elang kalian akan mengurai kasus ini secara bertahap. Selain itu, buku ini mencoba mengkritik persoalan kota Jakarta yang sudah mengganggu kesehatan mental, bahkan moral dan nurani, penduduknya. Buku ini juga mencoba menggambarkan bagaimana jika permalahan-permasalahan tersebut dipahami tanpa landasan nilai kemanusiaan: lagi-lagi orang miskin lah yang dijadikan kambing hitam. Buku ini sangat cocok untuk kalian penggemar cerita iyamisu atau cerita thriller secara umum. Aku beri skor 9,2/10 untuk novel satu ini.



Komentar
Posting Komentar