Wake Up Dead Man: Pembunuhan, Iman, dan Pengakuan—Sebuah Film Misteri Pembunuhan Ruang Tertutup yang Melibatkan Kepercayaan

Identitas Film Judul : Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery Sutradara : Rian Johnson Produser : Ram Bergman, Rian Johnson Tanggal rilis : 12 Desember 2025 Rumah produksi : T-Streets Productions, Ram Bergman Productions Penulis naskah : Rian Johnson Durasi tayang : 2 jam 24 menit Pemeran : Daniel Craig, Josh O’Connor, Josh Brolin, Glenn Close, Mila Kunis, Jeremy Renner, Kerry Washington, Andrew Scott, Cailee Spaeny, Daryl McCormack, Thomas Haden Church Genre : Whodunit , dark comedy , drama, thriller , crime   Sinopsis Jud Duplencity (Josh O’Connor) adalah seorang pendeta yang baru saja ditempatkan di sebuah Gereja Our Lady of Perpetual Fo...

Vermilioin Rain: Novel Thriller-Misteri Lokal tentang Anomali Cuaca yang Cerdik dan Mencekam

Identitas Buku

Judul

:

Vermilion Rain

Penulis

:

Kai Elian

Penerbit

:

PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit

:

2023

Cetakan

:

I

Tebal

:

296 halaman

ISBN

:

9786020669724

Genre

:

Psychological thriller, misteri, fiksi ilmiah

 

Tentang Penulis

Kai Elian adalah seorang penulis asal Indonesia yang telah menuliskan beberapa buku best-selling, antara lain Teori Tawa dan Cara-Cara Melucu Lainnya (2022), Vermilion Rain (2023), Panduan Jalan-jalan Aman Bersama Mama Macan (2024), dan Halte Alam Baka (2025). Novel Vermilion Rain memenangkan juara III dalam Lomba Novel Thriller GPU x GWP. Kalian dapat mengikuti keseharian Kai Elian melalui akun Instagramnya di @hello.kaielian.

 

Sinopsis

Fenomena cuaca aneh terjadi di Desa Bokudi, sebuah desa yang berlokasi di pulau terpencil di wilayah Indonesia dengan akses yang sulit. Hujan telah turun selama 90 hari tanpa henti di sana, yang berisiko menyebabkan bencana hidrologi, mengingat lokasi desa yang berada di lereng Gunung Morui, gunung yang terletak di pulau terpencil tersebut.

Asayana “Asa” Brahma, seorang mantan ahli meteorologi yang sekarang menjadi disaster hunter, diajak temannya, Elang Langit—seorang ahli klimatologi dari BMKG—untuk bergabung dalam tim investigasi dan penyelamatan yang akan pergi ke Desa Bokudi. Dengan tim yang terdiri atas seorang petugas Basarnas, ahli geologi, petugas dinas kesehatan setempat, serta dirinya sendiri dan Elang, Asa berangkat untuk menyelamatkan nyawa penduduk desa.

Akan tetapi, kondisi desa tak seperti yang dia kira. Warga desa mengalami kejang yang tak wajar, sementara anak-anak mereka mengalami cacat fisik yang aneh. Asa juga melihat penampakan sosok perempuan berbaju putih yang misterius. Ditambah lagi, warga desa kesulitan berbahasa Indonesia yang menyulitkan mereka berkomunikasi di antara mereka.

Mereka hanya punya waktu enam hari untuk mengungsikan seluruh penduduk desa, tetapi kondisi desa dan warganya membuat evakuasi menjadi sulit. Apalagi, satu per satu anggota tim mereka terbunuh secara misterius. Apa yang sebenarnya terjadi di Desa Bokudi? Dapatkah Asa menyelamatkan penduduk desa?

 

Kelebihan

Terus terang, aku jarang membaca novel misteri, apalagi novel misteri oleh penulis Indonesia. Biasanya, aku membaca novel fantasi—dan itupun kebanyakan novel fantasi oleh penulis asing. Maka dari itu, ketika membaca Vermilion Rain, yang merupakan novel misteri oleh penulis Indonesia, aku merasa agak menyesal karena melewatkannya selama ini. Novel ini begitu thrilling dan bikin penasaran dari awal sampai akhir. Mari kujelaskan alasannya.

Petama, aku senang dengan premisnya yang menggunakan fenomena anomali cuaca. Aku selalu suka dengan cerita-cerita modern yang mengangkat isu cuaca sebab ceritanya pasti akan menyinggung isu krisis iklim. Benar saja, novel Vermilion Rain juga demikian—beberapa kali di dalam ceritanya, disebutkan bahwa krisis iklim telah menyebabkan cuaca yang makin sulit diprediksi, seperti halnya hujan yang tak berhenti di Desa Bokudi. Lebih jauh lagi, kasus Desa Bokudi juga menjadi pengingat bagi kita bahwa masalah cuaca dan krisis iklim ini bukan masalah yang bisa kita anggap sepele karena ia bisa menyebabkan bencana alam, seperti longsor dan banjir; gagal panen yang berujung pada kelaparan; serta masalah-masalah kesehatan.

Tak hanya itu, novel ini pun bisa dibilang memberi kita insight bahwa dalam krisis iklim, orang yang paling dirugikan adalah orang-orang kecil, seperti penduduk Desa Bokudi. Mereka mungkin tak berkontribusi terhadap peningkatan suhu Bumi, tetapi mereka terancam oleh risiko bencana alam akibat fenomena cuaca yang tak terprediksi. Mereka pun harus pergi meninggalkan tanah leluhur mereka. Aku menyukai novel ini karena mampu secara tersirat memperlihatkan ketidakadilan iklim (climate injustice) tersebut.

Selain krisis iklim, novel ini juga akan menyinggung masalah pencemaran lingkungan. Bagian ini akan terlalu spoiler, maka tak akan kuceritakan banyak-banyak. Yang pasti, kasus pencemaran lingkungan di buku ini terinspirasi dari kasus sungguhan yang pernah terjadi di beberapa tempat, termasuk di Indonesia, maka itu bukan karangan penulis ya. Novel ini bisa dibilang mampu memberi insight bagaimana pencemaran lingkungan bisa begitu subtle, tetapi dampaknya muncul sebagai permasalahan kesehatan dalam skala yang besar dan serius.

Kedua, tokoh utamanya menarik sekali. Asa bukanlah tokoh yang akan kalian sukai dan dia memang bukan tokoh yang berbudi baik. Dia morally gray character, kalau menggunakan istilah sekarang. Di dalam novel ini, cerita akan diselingi dengan masa lalu Asa, terutama tentang istri dan anaknya. Sedari awal, mungkin kalian akan merasakan ada sesuatu yang aneh dengan cerita tersebut, juga dengan cara Asa ketika membicarakan mereka. Meskipun beberapa orang mungkin bisa menebak arahnya, aku yakin tetap ada rasa terkejut ketika kita mengetahui apa yang terjadi pada Asa dan keluarganya. Asa bukanlah orang yang sepenuhnya baik, meskipun aku respek dengan kegigihan usahanya menyelamatkan warga Desa Bokudi, walaupun kesalahan yang diperbuatnya memang pantas menghantuinya terus-menerus.

Yang mungkin menarik adalah hal tersebut membuat cerita jadi makin membingungkan. Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Asa, kita jadi tak bisa sepenuhnya percaya pada narasinya. Ketika sesuatu terjadi dan hanya Asa yang melihat, rasanya itu tak lagi bisa dipercaya. Hal tersebut sukses membuat misteri dalam novel ini menjadi lebih pelik. Hal tersebut akan membuat kalian penasaran sampai akhir. Kalau berhenti membaca, kalian pasti akan dihantui rasa penasarannya. Good job untuk Kak Kai Elian yang membuat alur ceritanya begitu page-turning.[1]

Oh iya, omong-omong soal Kak Kai Elian, dia menjadi cameo dalam cerita ini. Iya, cameo, yang kayak di film atau serial TV itu. Di dalam cerita, akan ada polisi yang hendak membantu evakuasi warga dan salah satu polisi tersebut bernama Kai Elian. Lucu sih karena penulis menjadikan dirinya sendiri sebagai cameo di dalam ceritanya sendiri. Aku baru pertama kali melihat yang seperti itu.

Ketiga, tentu saja misterinya itu sendiri. Misteri di novel ini sama sekali tidak tertebak bagiku. Ketika tiba-tiba ada tokoh yang ditemukan terbunuh, misteri dimulai dan dari situ cerita menjadi begitu thrilling serta suspenseful. Aku pribadi tidak bisa menebak akan ke arah mana misteri ini, dan jawabannya pun cukup mengejutkan. Ditambah lagi, dengan kondisi si tokoh utama yang tak bisa dipercaya, cerita makin membingungkan bagiku—apa yang sungguhan terjadi dan apa yang bohong. Penulis juga mengeksplorasi gaya hidup serta tradisi warga Desa Bokudi yang hidup terisolasi untuk menambah atmosfer creepy dalam cerita. Oh, jangan lupakan sosok gadis berbaju putih yang misterius tersebut; dia sukses membuatku merinding. Aku sempat berpikir apakah cerita ini juga mengandung unsur supranatural dan mistis, tetapi itu sulit untuk ditebak karena si tokoh utama tak bisa kita percaya. Yang pasti begitu ada yang tewas, begitu masa lalu Asa terungkap, begitu makin banyak yang tewas, novel ini tak akan bisa kalian taruh sampai kalian mendapatkan jawabannya di akhir novel.

 

Kelemahan

Salah satu kekurangan novel ini adalah babak terakhirnya, yang terasa diburu-buru. Misteri dan nuansa seram dan mencekam dalam novel ini telah dibangun dengan sangat baik sedari awal, tetapi bagian resolusi ceritanya terkesan agak diburu-buru. Tiba-tiba saja, semua diungkap secara beruntun sehingga terasa terlalu banyak informasi yang muncul begitu saja. Mungkin, ada baiknya ia diungkap lebih perlahan dan bertahap agar ada sedikit jeda bagi pembaca untuk mencerna informasi yang disampaikan.

 

Kesimpulan

 Vermilion Rain adalah novel misteri yang layak kalian baca. Ceritanya begitu seru dengan menyajikan misteri yang tak bisa ditahan. Penulis dengan cerdik mampu membuat pembaca tak dapat memercayai siapapun di buku ini, termasuk tokoh utamanya sehingga misterinya menjadi semakin pelik. Ditambah dengan korban yang tewas satu per satu, tradisi masyarakat desa yang aneh, kondisi warga yang entah terkena penyakit atau kutukan apa, serta penampakan gadis berbaju putih yang misterius, suasana di novel ini akan membuat kalian merinding. Selain tentang Desa Bokudi dan misteri pembunuhan yang terjadi di sana, kita juga akan melihat masa lalu si tokoh utama sebagai pendalaman karakternya—yang aku yakin, akan membuat kalian tidak akan menyukainya, yang menurutku unik karena biasanya tokoh utama pasti dibikin likeable.

Meskipun babak akhirnya terkesan terburu-buru, aku tak merasa terlalu terganggu sebab cerita di novel ini sangat page-turning. Ditambah lagi, ada isu krisis iklim serta pencemaran lingkungan yang disinggungnya, yang menurutku sebuah pendekatan yang unik untuk mengembangkan alur cerita sekaligus meningkatkan wawasan pembaca. Mungkin, perlu kuperingatkan bahwa buku ini memiliki banyak unsur triggering, seperti darah, pembunuhan, pelecehan seksual, dan sebagainya. Baiklah, untuk skor, aku beri 9/10 untuk novel Vermilion Rain. Berkat buku ini, aku jadi penasaran dengan buku-buku lainnya karangan Kak Kai Elian, serta novel juara I dan II dari Lomba Novel Thriller GPU x GWP.[2]


***

Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!


[1] Page-turning berarti sebuah buku yang menarik, seru, dan menegangkan, biasanya sebuah novel (sumber: The Free Dictionary).

[2] Yang menjadi juara I adalah novel Di Balik Jendela (2023) oleh Eunice Sonie dan yang menjadi juara II adalah Jejak Balak (2023) oleh Ayu Welirang. 

Komentar