Identitas Buku
|
Judul
|
:
|
Vermilion Rain
|
|
Penulis
|
:
|
Kai Elian
|
|
Penerbit
|
:
|
PT Gramedia Pustaka
Utama
|
|
Tahun terbit
|
:
|
2023
|
|
Cetakan
|
:
|
I
|
|
Tebal
|
:
|
296 halaman
|
|
ISBN
|
:
|
9786020669724
|
|
Genre
|
:
|
Psychological thriller,
misteri, fiksi ilmiah
|
Tentang Penulis
Kai Elian adalah seorang penulis asal Indonesia yang telah
menuliskan beberapa buku best-selling, antara lain Teori Tawa dan
Cara-Cara Melucu Lainnya (2022), Vermilion Rain (2023), Panduan
Jalan-jalan Aman Bersama Mama Macan (2024), dan Halte Alam Baka (2025).
Novel Vermilion Rain memenangkan juara III dalam Lomba Novel Thriller
GPU x GWP. Kalian dapat mengikuti keseharian Kai Elian melalui akun
Instagramnya di @hello.kaielian.
Sinopsis
Fenomena cuaca aneh terjadi di Desa Bokudi, sebuah desa yang berlokasi
di pulau terpencil di wilayah Indonesia dengan akses yang sulit. Hujan telah
turun selama 90 hari tanpa henti di sana, yang berisiko menyebabkan bencana
hidrologi, mengingat lokasi desa yang berada di lereng Gunung Morui, gunung
yang terletak di pulau terpencil tersebut.
Asayana “Asa” Brahma, seorang mantan ahli meteorologi yang
sekarang menjadi disaster hunter, diajak temannya, Elang Langit—seorang
ahli klimatologi dari BMKG—untuk bergabung dalam tim investigasi dan
penyelamatan yang akan pergi ke Desa Bokudi. Dengan tim yang terdiri atas
seorang petugas Basarnas, ahli geologi, petugas dinas kesehatan setempat, serta
dirinya sendiri dan Elang, Asa berangkat untuk menyelamatkan nyawa penduduk
desa.
Akan tetapi, kondisi desa tak seperti yang dia kira. Warga
desa mengalami kejang yang tak wajar, sementara anak-anak mereka mengalami
cacat fisik yang aneh. Asa juga melihat penampakan sosok perempuan berbaju
putih yang misterius. Ditambah lagi, warga desa kesulitan berbahasa Indonesia
yang menyulitkan mereka berkomunikasi di antara mereka.
Mereka hanya punya waktu enam hari untuk mengungsikan seluruh
penduduk desa, tetapi kondisi desa dan warganya membuat evakuasi menjadi sulit.
Apalagi, satu per satu anggota tim mereka terbunuh secara misterius. Apa yang
sebenarnya terjadi di Desa Bokudi? Dapatkah Asa menyelamatkan penduduk desa?
Kelebihan
Terus terang, aku jarang membaca novel misteri, apalagi novel
misteri oleh penulis Indonesia. Biasanya, aku membaca novel fantasi—dan itupun
kebanyakan novel fantasi oleh penulis asing. Maka dari itu, ketika membaca Vermilion
Rain, yang merupakan novel misteri oleh penulis Indonesia, aku merasa agak
menyesal karena melewatkannya selama ini. Novel ini begitu thrilling dan
bikin penasaran dari awal sampai akhir. Mari kujelaskan alasannya.
Petama, aku senang dengan premisnya yang menggunakan fenomena
anomali cuaca. Aku selalu suka dengan cerita-cerita modern yang mengangkat isu
cuaca sebab ceritanya pasti akan menyinggung isu krisis iklim. Benar saja,
novel Vermilion Rain juga demikian—beberapa kali di dalam ceritanya,
disebutkan bahwa krisis iklim telah menyebabkan cuaca yang makin sulit
diprediksi, seperti halnya hujan yang tak berhenti di Desa Bokudi. Lebih jauh
lagi, kasus Desa Bokudi juga menjadi pengingat bagi kita bahwa masalah cuaca
dan krisis iklim ini bukan masalah yang bisa kita anggap sepele karena ia bisa
menyebabkan bencana alam, seperti longsor dan banjir; gagal panen yang berujung
pada kelaparan; serta masalah-masalah kesehatan.
Tak hanya itu, novel ini pun bisa dibilang memberi kita insight
bahwa dalam krisis iklim, orang yang paling dirugikan adalah orang-orang
kecil, seperti penduduk Desa Bokudi. Mereka mungkin tak berkontribusi terhadap
peningkatan suhu Bumi, tetapi mereka terancam oleh risiko bencana alam akibat
fenomena cuaca yang tak terprediksi. Mereka pun harus pergi meninggalkan tanah
leluhur mereka. Aku menyukai novel ini karena mampu secara tersirat
memperlihatkan ketidakadilan iklim (climate injustice) tersebut.
Selain krisis iklim, novel ini juga akan menyinggung masalah
pencemaran lingkungan. Bagian ini akan terlalu spoiler, maka tak akan
kuceritakan banyak-banyak. Yang pasti, kasus pencemaran lingkungan di buku ini terinspirasi
dari kasus sungguhan yang pernah terjadi di beberapa tempat, termasuk di Indonesia,
maka itu bukan karangan penulis ya. Novel ini bisa dibilang mampu memberi insight
bagaimana pencemaran lingkungan bisa begitu subtle, tetapi dampaknya
muncul sebagai permasalahan kesehatan dalam skala yang besar dan serius.
Kedua, tokoh utamanya menarik sekali. Asa bukanlah tokoh yang
akan kalian sukai dan dia memang bukan tokoh yang berbudi baik. Dia morally
gray character, kalau menggunakan istilah sekarang. Di dalam novel ini,
cerita akan diselingi dengan masa lalu Asa, terutama tentang istri dan anaknya.
Sedari awal, mungkin kalian akan merasakan ada sesuatu yang aneh dengan cerita
tersebut, juga dengan cara Asa ketika membicarakan mereka. Meskipun beberapa
orang mungkin bisa menebak arahnya, aku yakin tetap ada rasa terkejut ketika
kita mengetahui apa yang terjadi pada Asa dan keluarganya. Asa bukanlah orang
yang sepenuhnya baik, meskipun aku respek dengan kegigihan usahanya menyelamatkan
warga Desa Bokudi, walaupun kesalahan yang diperbuatnya memang pantas
menghantuinya terus-menerus.
Yang mungkin menarik adalah hal tersebut membuat cerita jadi makin
membingungkan. Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Asa, kita jadi tak bisa
sepenuhnya percaya pada narasinya. Ketika sesuatu terjadi dan hanya Asa yang
melihat, rasanya itu tak lagi bisa dipercaya. Hal tersebut sukses membuat
misteri dalam novel ini menjadi lebih pelik. Hal tersebut akan membuat kalian
penasaran sampai akhir. Kalau berhenti membaca, kalian pasti akan dihantui rasa
penasarannya. Good job untuk Kak Kai Elian yang membuat alur ceritanya
begitu page-turning.
Oh iya, omong-omong soal Kak Kai Elian, dia menjadi cameo dalam
cerita ini. Iya, cameo, yang kayak di film atau serial TV itu. Di dalam
cerita, akan ada polisi yang hendak membantu evakuasi warga dan salah satu
polisi tersebut bernama Kai Elian. Lucu sih karena penulis menjadikan dirinya
sendiri sebagai cameo di dalam ceritanya sendiri. Aku baru pertama kali
melihat yang seperti itu.
Ketiga, tentu saja misterinya itu sendiri. Misteri di novel
ini sama sekali tidak tertebak bagiku. Ketika tiba-tiba ada tokoh yang
ditemukan terbunuh, misteri dimulai dan dari situ cerita menjadi begitu thrilling
serta suspenseful. Aku pribadi tidak bisa menebak akan ke arah mana
misteri ini, dan jawabannya pun cukup mengejutkan. Ditambah lagi, dengan
kondisi si tokoh utama yang tak bisa dipercaya, cerita makin membingungkan
bagiku—apa yang sungguhan terjadi dan apa yang bohong. Penulis juga
mengeksplorasi gaya hidup serta tradisi warga Desa Bokudi yang hidup terisolasi
untuk menambah atmosfer creepy dalam cerita. Oh, jangan lupakan sosok
gadis berbaju putih yang misterius tersebut; dia sukses membuatku merinding. Aku
sempat berpikir apakah cerita ini juga mengandung unsur supranatural dan
mistis, tetapi itu sulit untuk ditebak karena si tokoh utama tak bisa kita percaya.
Yang pasti begitu ada yang tewas, begitu masa lalu Asa terungkap, begitu makin
banyak yang tewas, novel ini tak akan bisa kalian taruh sampai kalian
mendapatkan jawabannya di akhir novel.
Kelemahan
Salah satu kekurangan novel ini adalah babak terakhirnya,
yang terasa diburu-buru. Misteri dan nuansa seram dan mencekam dalam novel ini
telah dibangun dengan sangat baik sedari awal, tetapi bagian resolusi ceritanya
terkesan agak diburu-buru. Tiba-tiba saja, semua diungkap secara beruntun
sehingga terasa terlalu banyak informasi yang muncul begitu saja. Mungkin, ada
baiknya ia diungkap lebih perlahan dan bertahap agar ada sedikit jeda bagi
pembaca untuk mencerna informasi yang disampaikan.
Kesimpulan
Vermilion Rain adalah
novel misteri yang layak kalian baca. Ceritanya begitu seru dengan menyajikan
misteri yang tak bisa ditahan. Penulis dengan cerdik mampu membuat pembaca tak dapat
memercayai siapapun di buku ini, termasuk tokoh utamanya sehingga misterinya
menjadi semakin pelik. Ditambah dengan korban yang tewas satu per satu, tradisi
masyarakat desa yang aneh, kondisi warga yang entah terkena penyakit atau
kutukan apa, serta penampakan gadis berbaju putih yang misterius, suasana di
novel ini akan membuat kalian merinding. Selain tentang Desa Bokudi dan misteri
pembunuhan yang terjadi di sana, kita juga akan melihat masa lalu si tokoh utama
sebagai pendalaman karakternya—yang aku yakin, akan membuat kalian tidak akan
menyukainya, yang menurutku unik karena biasanya tokoh utama pasti dibikin likeable.
Meskipun babak akhirnya terkesan terburu-buru, aku tak merasa
terlalu terganggu sebab cerita di novel ini sangat page-turning.
Ditambah lagi, ada isu krisis iklim serta pencemaran lingkungan yang
disinggungnya, yang menurutku sebuah pendekatan yang unik untuk mengembangkan alur
cerita sekaligus meningkatkan wawasan pembaca. Mungkin, perlu kuperingatkan
bahwa buku ini memiliki banyak unsur triggering, seperti darah,
pembunuhan, pelecehan seksual, dan sebagainya. Baiklah, untuk skor, aku beri
9/10 untuk novel Vermilion Rain. Berkat buku ini, aku jadi penasaran
dengan buku-buku lainnya karangan Kak Kai Elian, serta novel juara I dan II
dari Lomba Novel Thriller GPU x GWP.
***
Thank you for reading this long. I wish this writing gives you knowledge and insights. If you like this writing, please share it to your friends through your Facebook, Twitter, or any other social media by copying the link in the share button. Please fill the comment below, so I could know what do you think about this topic or you can give me some comments and criticisms. Once again, thank you for reading my blog. See you in the next post!
Yang menjadi juara I adalah novel Di Balik Jendela (2023) oleh
Eunice Sonie dan yang menjadi juara II adalah Jejak Balak (2023)
oleh Ayu Welirang.
Komentar
Posting Komentar