Identitas Film
Judul |
: |
Pabrik Gula |
Sutradara |
: |
Awi Suryadi |
Produser |
: |
Manoj Punjabi |
Tanggal rilis |
: |
31 Maret 2025 |
Rumah produksi |
: |
MD Pictures |
Penulis naskah |
: |
Lele Laila, SimpleMan |
Durasi tayang |
: |
2 jam 13 menit |
Pemeran |
: |
Arbani Yasiz, Ersya Aurelia,
Erika Carlina, Bukie B. Mansyur, Wavi Zihan, Arif Alfiansyah, Benedictus
Siregar, Sadana Agung, Yono Bakrie, Vonny Anggraini, Budi Ros, Dewi Pakis |
Genre |
: |
Horor supranatural |
Sinopsis
Endah (Ersya Aurelia), Fadhil
(Arbani Yasiz), Naning (Erika Carlina), Hendra (Bukie B. Mansyur), Dwi (Arif
Alfiansyah), Wati (Wafi Zihan), serta Mulyono alias Franky (Benedictus Siregar)
pergi untuk bekerja sebagai buruh musiman di sebuah pabrik gula, bersama
puluhan orang lainnya. Pabrik gula tersebut biasa mempekerjakan buruh musiman
untuk mempercepat proses penggilingan tebu. Di sana, terdapat aturan yang ketat
mengenai jam malam untuk para buruh yang mengharuskan mereka semua untuk tidak
meninggalkan loji-loji tempat mereka tinggal. Konon, tujuh tahun yang lalu, ada
sekelompok buruh yang melanggar aturan tersebut, lalu mereka tewas terkunci di
dalam gudang pabrik yang terbakar.
Akan tetapi, di malam pertama
mereka bekerja di sana, ketika belum mengetahui tentang aturan jam malam
tersebut, Endah keluar loji saat malam dan menyaksikan hal aneh di pabrik.
Sejak itu, berbagai gangguan supranatural terjadi terhadap para buruh, yang
bahkan sampai merenggut nyawa. Sebenarnya, apa yang disembunyikan pabrik gula
tersebut?
Kelebihan
Film Pabrik Gula
merupakan salah satu film horor Indonesia yang diadaptasi dari cerita SimpleMan,
penulis thread
di Twitter yang cerita-ceritanya selalu viral—salah satunya ya KKN di
Desa Penari, yang juga telah diadaptasi menjadi film. Jika kedua cerita
tersebut dibandingkan, kalian akan sadar bahwa keduanya mirip dan memiliki pola
yang sama, serta khas banget formula film horornya. Hanya saja, ketika
membandingkan film KKN di Desa Penari (2022) dengan Pabrik Gula
ini, Pabrik Gula masih lebih baik.
Pertama-tama, kedua cerita
memiliki formula yang mirip. Ada sekelompok orang laki-laki dan perempuan pergi
ke tempat asing bagi mereka, entah itu untuk melaksanakan kegiatan KKN atau
bekerja sebagai buruh. Tempa tasing tersebut memiliki aturan-aturan yang tak
boleh dilanggar. Kemudian, satu tokoh perempuan mulai mengalami
gangguan-gangguan supranatural sejak hari pertama mereka di sana. Setelahnya, (spoiler
alert) ada tokoh yang malah melanggar larangan tersebut dan menyebabkan
mereka semua dalam bahaya. Pada akhirnya, (spoiler alert again) harus
ada yang dikorbankan nyawanya. Sebenarnya, itu memang formula standar untuk
cerita genre horor—meskipun SimpleMan mengatakan ini berdasarkan kisah
nyata—maka tak ada yang salah jika suatu film mengikutinya tanpa ada modifikasi,
sebab yang terpenting nanti adalah pendekatan cerita dan eksekusinya. Dan film Pabrik
Gula melakukannya dengan lebih baik daripada KKN di Desa Penari.
Salah satu hal yang kusukai dari
cerita ini adalah tokoh utamanya yang lebih ramai dan beragam karakter. Sejak
awal, telah diperlihatkan para tokoh utamanya serta watak mereka, ada tokoh
yang serius dan yang jenaka. Dengan begitu, cerita ini bisa diseimbangkan agar
tak hanya seram, tapi juga lucu pada beberapa bagian. Tokoh-tokoh serius
seperti Endah dan Fadhil bertugas agar cerita tetap berjalan, sementara
tokoh-tokoh seperti Dwi dan Franky bertugas memberikan humor pada cerita supaya
tidak bosan. Penonton pasti akan senang dengan selingan humor tersebut, apalagi
ia dieksekusi dengan baik sehingga tidak terasa garing ataupun salah tempat.
Kemudian, dibandingkan dengan KKN
di Desa Penari, treatment horor dalam film ini lebih jelas dan lebih
bisa dipahami bagiku pribadi. Kalau di film KKN di Desa Penari, aku bisa
mengerti apa yang terjadi karena kebetulan aku membaca cerita versi thread Twitter-nya.
Seandainya aku tidak baca, aku yakin aku kebingungan dengan apa yang terjadi
karena fenomena horornya tak jelas. Namun, film Pabrik Gula memperbaikinya
dengan lebih terang-terangan memunculkan teror oleh para demit alias makhluk
halus. Mulai dari jumpscare berupa hantu yang tiba-tiba muncul di
belakang tokohnya sampai sosok demon besar yang menyeramkan akan penonton
saksikan sepanjang film. Yang bagus adalah (sebagian besar) treatment
horor tersebut terasa creepy.
Sentuhan lainnya adalah unsur
kleniknya yang lebih jelas dibandingkan film KKN di Desa Penari. Unsur
klenik dalam film ini memang tidak mendalam dan entah ada referensi dari
tradisi lokalnya atau tidak, tetapi menjadi bagian penting dalam cerita karena
digunakan sejak awal. Banyak film horor lokal yang fokus pada teror-teror
supranatural, lalu tiba-tiba menggunakan elemen klenik dan syamanisme hanya di
tahap penyelesaian masalah, tetapi film ini tidak begitu. Oh iya, sedikit
informasi tambahan, sebelum aku menonton film ini, aku menonton video Nessie
Judge yang tentang kisah-kisah horor di pabrik gula di Indonesia, dan menurutku
itu lumayan membantu untuk memberikan gambaran legenda urban mengenai pabrik-pabrik
gula di masyarakat kita. yang bisa menjadi referensi bagi penonton untuk lebih
memahami elemen klenik dan mistis dari cerita ini (videonya bisa ditonton di sini).
Apalagi, menarik sekali karena
dukun dalam cerita ini ada dua, dan salah satunya perempuan! Rupanya dunia
dukun dalam perfilman Indonesia pun sudah mulai feminin, keren! Aku betulan
suka dengan peran para dukun dalam film ini, Mbah Jinah (Dewi Pakis) dan Mbah
Samin (Budi Ros), karena dari segi penampilan mereka oke, performa sebagai
dukunnya juga oke. Mereka pun bukan dukun yang tiba-tiba muncul di pabrik
tersebut; mereka adalah dukun in-house—sesuatu yang aku baru tahu
ternyata eksis. Dan omong-omong, seharusnya para buruh sudah punya firasat
buruk sejak awal karena tempat yang punya dukun in-house pasti bukan
tempat yang normal.
Berikutnya, adegan favoritku
dalam film ini, yang pertama, adalah (spoiler alert) ketika Fadhil
menolong salah satu buruh di lojinya, tetapi ternyata buruh yang dia temui
tersebut adalah makhluk halus, sedangkan buruh yang aslinya tengah sembunyi di
lemari, lalu muncul sosok demon yang menyeramkan banget. Aku suka karena
sekuensnya pas banget, bikin tercengang, dan diakhiri dengan kemunculan demon
yang seram. Apalagi, rupa si demon tersebut tak diperlihatkan jelas sehingga
makin creepy. Yang kedua adalah (spoiler alert) waktu Wati kabur
sambil nangis karena merasa dikhianati. Itu adegan one-take shot, yang
dimulai dengan Wati lari dan kamera menyorotnya dari belakang, lalu tiba-tiba
berhenti, dan dia kesurupan. Penonton pasti akan langsung terhanyut ke adegan
tersebut dan merinding. Yang ketiga adalah (spoiler alert) ketika Endah
mengintip ke dalam gudang, lalu melihat pagelaran wayang aneh. Itu creepy-nya
dapat sekali karena segala hal tentang adegan tersebut tak masuk akal. Aku suka
ketika treatment horor tak perlu repot menyuguhkan darah, penampilan
mengerikan, atau apa, sebab menampilkan adegan yang tak masuk akal saja bisa
membuat penonton meriding—seperti adegan tersebut.
Kelemahan
Meskipun film ini merupakan
peningkatan dari KKN di Desa Penari, tidak semua hal dari film ini
bagus. Mungkin salah satu hal yang paling mengusikku adalah (spoiler alert)
sosok Maharatu yang dikatakan menguasai pabrik gula tersebut. Ada banyak sosok
makhluk halus, bahkan demon, muncul dalam film ini, tetapi tidak jelas mana
yang Maharatu. Apakah mereka semua adalah bawahannya Maharatu tersebut?
Entahlah, masih kurang bisa kupahami.
Kemudian, (spoiler alert)
seperti halnya di film KKN di Desa Penari, ada di antara para tokoh
utama yang melanggar pantangan di tempat tersebut sehingga membuat para makhluk
halus marah, tetapi hal tersebut terlalu dini diungkap. Ketika para tokoh utama
tahu bahwa ada orang yang melanggar pantangan, adegan selanjutnya langsung
mengungkapkan siapa mereka. Padahal, hal tersebut bisa disimpan dulu untuk
memperkuat kesan misterinya, yang aku rasa akan lebih baik untuk alur cerita.
Oh iya, ketika aku bilang ada
pantangan yang dilanggar, itu bukan soal jam malam yang sedari awal ditekankan
pada cerita ini. Memang ada hubungannya dengan aturan jam malam tersebut,
tetapi bukan pantangan itulah yang membuat mereka jadi diteror. Akibatnya,
aturan jam malam sebenarnya tak terlalu penting untuk cerita.
Berikutnya, oleh karena tokoh
yang melanggar aturan tadi diungkapkan terlalu dini, menurutku sekuens
setelahnya terlalu panjang, padahal hanya tinggal penyelesaian masalah. Ekspektasiku,
setelah orang yang melanggar aturan tadi akhirnya diungkap, tinggal tahap
resolusi, tetapi ternyata itu belum klimaks ceritanya. Akibatnya, masih ada
sekitar satu jam lagi untuk penyelesaian masalah setelah pertanyaan utamanya
terjawab, dan itu terlalu panjang. Mungkin, akan lain jadinya jika pengungkapan
tokoh pelanggar aturan tersebut dilakukan di akhir.
Kesimpulan
Pabrik Gula adalah sebuah peningkatan dari film KKN di
Desa Penari. Sama-sama didasari cerita viral oleh SimpleMan, keduanya
memiliki formula yang sama sehingga sulit untuk tidak membandingkan keduanya,
tetapi Pabrik Gula memang lebih baik. Unsuk klenik dan syamanisme dalam
ceritanya terasa lebih proper dan treatment horornya juga lebih
jelas dan mudah dimengerti penonton. Kemunculan penampakan-penampakan makhluk
halus hingga demon dalam film ini sukses membuat penonton merinding, walau
sedikit menyisakan kebingungan bagiku pribadi. Namun, berkat penokohan yang
lebih beragam dan seimbang, terdapat selingan humor yang membuat ceritanya tak
membosankan. Meskipun secara sekuens agak berantakan sehingga tak berhasil
menjaga intensitas cerita terus naik hingga ke akhir, aku tetap menikmati film
ini. Skor untuk film ini adalah 7,1/10, dan aku menyarankan kalian yang sudah
pernah menonton KKN di Desa Penari agar menonton film ini.
Oh iya, aku menonton versi yang tayang di Netflix dan aku tidak tahu apakah itu veri uncut atau bukan. Jika kalian sudah pernah menonton kedua versinya, silakan ceritakan perbedaan adegannya apa saja ya.
Kalian bisa menonton film ini di Netflix. Silakan menonton trailer-nya di bawah ini.
Komentar
Posting Komentar